
"Bu, Ilham kenapa?" tanya Yayan. Anak sulungku sepertinya diantar oleh supir langsung ke Rumah Sakit.
Terlihat dari almamater yang masih dikenakan dan ransel yang dibawanya.
"Ilham terjatuh," jawabku sekenanya.
"Yayan langsung kemari?" tanyaku.
Yayan mengangguk dan menggenggam erat tangan Ilham.
"Dik, bangun ya! Jangan aneh-aneh kamu!" gumam Yayan.
"Ga apa-apa kok, Ilham cuma dikasih obat penenang aja. Abang mau makan, ayah minta om Roy beli aja atau gimana!" Boby mengusap bahu Yayan berusaha menenangkan, matanya tertuju padaku.
"Gimana Mah, Mamah juga belum makan, kan?" tanya Boby.
"Terserah saja,"
Boby pun melakukan panggilan, sepertinya meminta Roy membeli makanan.
Sembari menunggu Roy datang, Yayan bermain dengan Tri. Terkadang keduanya bermain game yang ada di ponsel, membuang jenuh.
Aku yang merasa pusing berusaha menahan agar tak semakin membuat panik. Sudahlah panik karena Ilham, mungkin saja pusingku karena aku belum makan sedari tadi siang, panik akan Ilham.
Beberapa saat kemudian Roy datang dengan membawa makanan dari restoran yang disebut oleh Boby via telepon tadi.
Tapi begitu aku mencium bau masakan itu, perutku serasa diaduk-aduk dan seketika rasa mual mendera.
"Mah, kenapa?" tanya Boby.
Suamiku itu menyusul aku ke toilet, lalu memijit tengkukku.
"Ga apa-apa, sepertinya pengaruh telat makan aja, asam lambung naik," jawabku sekenanya.
Ku tak ingin membuat panik dan resah Boby lagi.
"Tapi Mamah ga keluar apa-apa itu," celetuk Boby.
Aku merasa lemas begitu keluar dari toilet.
"Ibu kenapa?" tanya Yayan.
Yayan dan Tri sedang makan, tadi Boby juga memesan makanan khusus balita untuk Tri.
Kembali rasa mual mendera begitu tercium bau makanan itu, gegas Boby membawa aku duduk di ruang terbuka di belakang kamar rawat Ilham.
Ruang terbuka itu masih menyatu dengan kamar Ilham.
Susah payah rasanya aku menahan rasa mual ini, berkali-kali kutepuk dadaku.
"Mah, periksa ya!" gumam Boby.
Aku mengangguk dan Boby pun memanggil seseorang via telepon. Tak lama datang dokter wanita ke ruang terbuka tersebut memeriksaku.
"Kita periksa dasar aja dulu, Bu ya! Nanti kalau menunjukkan tanda-tanda langsung ke ruang obgyn saja ya," ucap dokter tersebut.
Pertama cek nadi dan pemeriksaan sederhana, lalu Boby menuntunku ke toilet, aku mencoba menggunakan tes kehamilan dan hal itu membuat Boby tersenyum lebar.
__ADS_1
"Yes, garis dua!" pekiknya.
Di peluknya aku dan di ciumnya pucuk kepalaku.
"Terima kasih, Mah!" ucapnya lagi.
Sesuai saran, kami langsung ke ruang dokter tersebut.
Setelah pemeriksaan ternyata semenjak sebulan lalu aku sudah isi.
"Wah, berarti buatnya waktu ayah di sana ya!" bisik Boby.
Aku tersipu malu, sungguh ... rasanya malu jika digoda suami sendiri.
Begitu kami kembali ke kamar Ilham, Tri dan Yayan sudah selesai makan.
Sepertinya kamar pun sudah di bersihkan, sehingga bau makanan tak tercium sama sekali.
"Bu, Yayan pulang dulu ya, banyak tugas kuliah yang harus Yayan kerjakan." Yayan kemudian mencium tanganku dan Boby.
Aku mengangguk pelan, Sulungku itu lalu pulang diantar supir pribadi yang selalu bersama Yayan.
"Mamah mau makan apa?" tanya Boby.
Sepertinya lelakiku ini lapar, karena dirinya pun belum jua makan malah sibuk mengurusku.
"Ayah makan aja dulu, nanti beliin buah aja. Lagi ga bisa makan nasi," tukasku.
"Ya udah, Ayah makan di luar pintu aja ya, biar bisa lihat Mamah di dalam. Suruh Roy beli buah apa aja, Mah? Anggur, melon, apel ... mau?" tawarnya.
Lalu Boby pun menelpon Roy memintanya membelikan buah-buahan.
Boby mengambil satu boks nasi miliknya yang belum tersentuh sama sekali, lalu pergi ke ruang terbuka sembari menghadap ke kamar.
Boby makan di luar sembari menghadap ke kamar. Aku hanya dapat menatapnya saja, sebab tak mungkin bila dekat dengannya ... hanya membuat mual saja.
Ah, berkah ini hadir saat sedang riweuh-riweuhnya.
Kuusap pelan perut rataku dan kini mataku menatap Tri.
Dulu kehadirannya sangat tak diinginkan Boby, tapi kini Boby tak dapat jauh dari anaknya.
Kemana-mana selalu saja Tri berada dalam dekapannya, bahkan tak jarang Tri sampai tertidur dalam dekapan sang ayah.
Kuusap punggung Tri, tak lama bocah kecilku yang lucu dengan pipi gemilnya itu tertidur di ranjang lipat yang ada di kamar rawat khusus keluarga pasien.
Kulihat Boby tengah makan dengan lahap, sesekali dirinya tersenyum padaku dengan mulut yang penuh makanan.
Aku pun beranjak pada anakku yang periang dan cerewet sekali, Ilham. Anak yang kelahirannya begitu ditunggu almarhum bang Rusdi dulu. Aku bersyukur mendapat suami perhatian seperti bang Rusdi dan Boby, yang membedakan mereka hanya usia.
Ya, dulu aku menikah dengan bang Rusdi ketika aku berusia 13 tahun, sedang bang Rusdi sudah berumur 25 tahun.
Pernikahan terjadi karena perjodohan sedari kecil antara dua keluarga dan di tahun 13 usiaku, ayah dan ibu meninggal dunia karena kecelakaan. Hal itu memaksakan bang Rusdi meminangku agar dapat langsung hidup dengannya.
Kini, aku menikah dengan Boby diusiaku yang sudah 33 tahun sedang dia 26tahun.
Sungguh, kesamaan yang begitu kebetulan.
__ADS_1
Seolah sudah diatur pemilik nyawa seperti film saja, terlepas dari itu ... aku sangat bersyukur.
Nyata kini Boby begitu mencintaiku dan menyayangi anak-anak.
Kugenggam erat tangan Ilham, anakku itu seolah tertidur pulas, nafasnya naik turun teratur.
"Yuk makan buahnya, Roy sudah datang membawa buahnya lho!" seru Boby.
Entah kapan lelaki itu selesai makan dan kini sudah ada di sampingku.
Aku mengangguk dan duduk di sofa bersamanya.
Oleh Roy, satu keranjang penuh beraneka macam buah.
Dengan telaten Boby mengupas buah melon dan pir untukku.
Diirisnya dan dicucinya sekali lagi hingga dirasanya bersih, sejurus kemudian suamiku menyuapi potongan buah itu untukku.
"Enak?"
"Iya, enak sekali!"tukasku.
"Mau apa lagi? Anggur, jeruk, atau pisang?" tanyanya kembali.
"Pisang saja," jawabku singkat.
"Yang mana?"
Keningku mengernyit, sepertinya Boby mulai iseng kembali.
"Yah, ini di Rumah Sakit," bisikku.
Saat ini Boby sudah mulai meminta haknya, nafasnya menderu dan tak hentinya Boby menggerayangiku.
Lelaki itu tak menjawab.
"Nanti Ilham bangun," lirihku disela des@h.
"Tapi pengen, Mah!" bisiknya.
Sepertinya tak mungkin menahan lagi, kubiarkan lelaki itu melakukan apa yang menjadi haknya.
Tiba-tiba Roy masuk tanpa mengetuk, membuat Boby blingsatan merapikan diri sembari menatap nyalang pada Roy.
"Ketuk dulu pintu, dasar tak berguna!" hardik Boby.
"Ma-maaf Tuan, saya hanya mau mengantar tamu," ucap Roy terbata-bata.
"Untung saja belum terjadi apa-apa," bisikku tepat di telinga suamiku itu.
Sontak Boby tersenyum, dapat kulihat wajahnya yang merah padam, antara marah dan menahan nafsu.
Ceklek ....
Pintu kamar rawat inap kembali terbuka, dan masuk seorang lelaki paruh baya bersama satu wanita berpenampilan glamour dan seorang anak seumuran Ilham.
"Yah, apakah dia ...?"
__ADS_1