Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Dibalik Hujan


__ADS_3

Hujan yang membuatku tersenyum kembali.


Pagi ini hujan begitu lebat, Boby memandang keluar dari jendela.


Aku hanya menatap lelaki itu, ingin rasanya memeluknya namun aku malu. Sadar aku hanya butiran debu yang takkan bisa menggantikan posisi berlian indah di hatinya.


Hujan semakin lebat, tapi anehnya Boby tak jua berangkat. Padahal dirinya takkan kehujanan karena mengendarai mobil, kuacuhkan saja dia!


Ku seduh teh segelas dan kuseruput pelan-pelan.


Sengaja aku tak membuatkan untuknya, karena apa pun yang kusajikan tak pernah dirinya sudi sentuh.


Lelaki itu masih saja berdiri sembari menatap hujan, kini disulutkannya rokok.


Jengah melihatnya, aku pun masuk ke kamar.


Begitu di kamar aku pun mematung di jendela, satu rumah tapi kami begitu canggung disaat seperti ini.


Terlebih ketika kutahu aku tak pernah ada di hati mau pun pandangannya.


TRING ... TRING ... TRING ...!


Ponselku berdering, dapatku lihat nama Bu Sani tertulis dilayar.


Senyumku mengembang, mengingat pasti anakku yang menelepon.


["Halo, Assalamualaikum!"]


[Wa'alaikumsalam,"]


["Bu, ini Yayan dan Ilham."]


["Ya, Nak! Bagaimana kabar kalian?"]


Airmataku tak dapat kubendung lagi, bulir bening itu lolos bersama rasa rindu pada kedua malaikatku.


Aku berbalik dan ternyata Boby tengah menatapku dari depan pintu kamar, gegas kuseka airmata di pipiku.


Tak ingin di lihat lelaki itu, aku pun masuk ke kamar mandi.


["Bu, sig- jel ...,"]


Tut ... Tut ...


Sambungan terputus, aku hanya menghela nafas saat hujan begini memang sinyal di kampung sedikit terganggu.


Kupeluk erat ponselku seakan memeluk kedua anakku.


Sesekali aku melihat foto mereka yang sempat Bu Sani kirim akhir-akhir ini via aplikasi hijau.


Keduanya tersenyum manis sekali.


Aku keluar dari kamar mandi dan begitu terkejutnya aku saat Boby ada di depan pintu kamar mandi.


"Ap- apa yang kau lakukan?" tanyaku terbata-bata.


"Aku ingin kopi," jawabnya.


"Tumben," celetukku.


Tak membuang waktu, aku segera membuatkan Boby kopi hitam. Ku letakkan kopi itu di atas meja dekat ranjang kami, karena lelaki itu tengah duduk bersandar di ranjang.


Jika dulu aku amat senang bila dirinya duduk ataupun berbaring di ranjang, tapi kini tidak. Setelah aku mengetahui diriku hanya tempat dirinya melampiaskan nafsu dan rasa yang tak pernah sampai pada Selena membuatku terus menghindar dan merasa risih bila berada satu ranjang dengannya.


Terkadang aku berpura-pura menonton TV hingga tertidur di depan TV dari pada harus bersama dengannya padahal wanita lain yang dibayangkan ada di bawah kungkungannya meraup nikmat bercinta dan mendesah bersamanya.


"Mau kemana lagi?" Tanganku di tariknya hingga aku terjatuh dalam pelukannya.


Kucoba lepaskan pelukannya yang mulai erat di tubuhku, sesekali diremasnya dadaku.

__ADS_1


"Hentikan," lirihku.


Boby bukannya berhenti malah semakin menjadi, diciumnya tengkuk leherku.


"Sudah, hentikan! Perutku sakit," ucapku lirih.


Sontak saja Boby menghentikan aksinya.


Meski kutahu hasratnya sudah menggebu-gebu.


"Apakah perlu periksa sekarang?" tanyanya.


Aku menggeleng, segera aku turun dari pelukannya.


"Aku akan periksa nanti, sendiri!" ucapku.


"Kenapa tak berangkat kerja?" tanyaku lagi.


"Tadinya aku ingin tapi kau menolak maka aku akan berangkat kerja sekarang," jawabnya datar.


Lelaki itu membenarkan baju dan celananya.


"****, kenapa masih tegang!" umpatnya.


Aku pun tak tega melihatnya, kudekati dia dan kubuka kancing kemejanya satu persatu.


Boby diam sembari menatapku lekat.


"Bukankah perutmu sakit?" tanyanya kemudian.


"Tadi, sekarang tidak!" jawabku.


Mendengar itu Boby menyeringai senyum, dilucutinya pakaianku satu persatu.


"Satu pintaku, jangan sebut nama wanita lain. Karena aku istrimu," pintaku.


Pagi itu, kembali kami bersama-sama berlayar dalam nikmat cinta.


"Terima kasih, ibu anakku!" ucapnya.


*****


Boby tak jua berangkat kerja, kini sudah pukul sepuluh pagi. Perutku lapar sekali, gegas ku masak apa saja yang ada di kulkas.


Kutumis kangkung dan menggoreng telur, karena hanya ada itu di kulkas.


"Mungkin besok aku harus ke pasar," gumamku seorang diri.


Aroma tumisan kangkung itu menguar keseluruh sudut rumah.


Boby langsung duduk di depanku begitu mencium aroma masakanku.


"Emmm, aromanya enak sekali!" ujarnya.


"Aku lapar, minta nasi sepiring," pintanya.


Keningku mengernyit, bukankah katanya aku tak perlu masak untuknya.


Lalu kenapa sekarang dirinya ingin makan masakanku.


"Ganis, nasi ...," pintanya lagi.


Aku pun tersadar dari lamunan, terbesit senyum di bibir ini saat melihat suami yang begitu dingin dan sering kali menolak apa pun yang kusuguhkan hendak memakan masakan yang kumasak.


Terbukti Boby, suamiku makan sampai dua kali menambah nasi. Padahal masakan sederhana seperti ini.


"Ini." Aku terkejut saat lelaki itu menyuapiku sesendok nasi dari piringnya.


"Kau harus banyak makan, Ganis! Biar anak kita sehat dan kau pun sehat," lanjutnya.

__ADS_1


Aku hanya memandang wajah teduh yang begitu aku rindukan. Wajahnya kali ini, disaat ini ....


Ketika makan, ponsel Boby berdering.


Lelaki itu menunjukkan layar ponselnya dimana nama 'PAMAN' yang berarti tuan Atmaja yang meneleponnya.


["Halo,"]


.....


["Ya, ada! Apa paman mau bicara langsung?"]


.....


[" Iya, nanti Boby tanyakan."]


Telepon pun berakhir.


"Ada apa?" tanyaku.


"Dinda," jawab Boby.


"Dinda kenapa?" tanyaku lagi.


"Dia mengamuk dan paman bertanya apakah kau mau menemani Dinda sampai gadis itu tenang saja," tukas Boby.


"Tentu saja aku mau, duh ..., kasihan Dinda! Hujan seperti ini pasti dia sedang mengamuk!" gumamku.


Setelah makan, kami segera berangkat ke rumah pak Atmaja, paman Boby.


"Nanti jangan terlalu capek, ya! Ingat, perutmu sudah membesar, nanti aku temani gimana? Aku takut Dinda mengamuk dan memukulimu." Boby menyetir sembari terus bicara.


Aku hanya mengangguk, mengiyakan semua perkataannya.


"Bolehkah selamanya seperti ini?" batinku.


****


Apa yang kekhawatirkan benar saja terjadi.


Gadis itu mengamuk di kamarnya.


Dan begitu melihat aku datang, Dinda berhambur ke pelukanku.


"Sus Ganis!" pekik Dinda.


Tubuhku sampai terhuyung ke belakang saat Dinda memelukku erat, untung saja suamiku Boby ada di belakangku.


"Hati-hati," bisiknya.


Ku temani Dinda sampai gadis itu tenang dan tertidur, sedang Boby entah kemana.


Karena Dinda sudah tidur, aku pun beranjak mencari sosok yang telah menghalalkanku beberapa bulan yang lalu.


Ketika aku sampai ke depan pintu ruang kerja tuan Atmaja, samar-samar kudengar suara Boby dan tuan Atmaja.


Tadinya aku ingin mengetuk pintu, namun niatku urung kulakukan saat kudengar pembicaraan sengit keduanya.


"Ayah dan ibumu sudah kembali ke Indonesia, mau sampai kapan kau menyembunyikan pernikahanmu dengannya?" tanya tuan Atmaja.


"Aku belum siap, paman. Aku takut ayah dan ibu tak menyetujui pernikahan ini dan aku pun akan menceraikan Ganis begitu anak itu lahir." Airmataku mengalir begitu mendengar perkataan Boby.


"Gila kamu, tegas dong jadi pria! Katakan yang sebenarnya, dan batalkan perjodohanmu dengan anak tuan Gerald. Paman rasa masih bisa dibatalkan mengingat kalian belum pernah bertemu dan itu masih jadi wacana kedua keluarga," ucap tuan Atmaja.


"Aku akan membicarakan hal itu pada ayah ibuku. Untuk hal itu mungkin saja bukan hal sulit, tapi semua akan ku urus begitu Ganis melahirkan dan aku menceraikannya." Boby berkali-kali mengucapkan kata menceraikanku.


"Kau harus berpikir jernih, jangan sampai pilihanmu ini menjadi cambuk bagimu disaat mendatang. Jujur, paman tak setuju dengan niatmu menceraikan Ganis."


"Aku akan selalu menafkahinya meskipun nanti sudah tak bersama,"

__ADS_1


Jadi, semua buaian dan perhatiannya padaku, palsu ...!


__ADS_2