Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Pertemuan tak sengaja.


__ADS_3

Setahun berlalu, tak terasa Tri sudah berumur satu tahun.


Anak bungsuku yang begitu mirip ayahnya, Boby.


Ingin rasanya aku bertanya kabar tentangnya, tapi ... siapa diriku?


Sesuai perkataannya, setiap bulan selalu ada transferan dana yang masuk ke rekening Bu Sani, 20 juta perbulannya.


Sahabatku ini pintar, setelah menarik uang di rekening, dirinya selalu mengirim via link. Sehingga riwayat di rekeningnya tak dapat di lacak oleh para konglomerat itu, begitu kata Bu Sani.


Sedang aku di sini, membuka rekening baru menggunakan nama Yayan, anak sulungku.


Dari uang nafkah yang dikirim Boby ini, aku tak perlu lagi bekerja meninggalkan anak-anakku.


Bahkan kini, Yayan sudah masuk perguruan tinggi. Anakku itu begitu pintar, sehingga dirinya kuliah pun lewat jalur beasiswa.


Tadinya Bu Sani sempat menolak uang dari lelaki itu, tapi dirinya berkilah uang nafkah ... membuat temanku itu tak berani menolak.


Satu hal lagi yang kutahu, setiap bulan Boby selalu datang ke kampung dan duduk di teras rumah kami, tak lama dirinya pasti pergi ... begitu penuturan Bu Sani.


["Hari ini dia datang lagi,"]


Sahabatku itu melakukan videocall denganku, tentu dengan nomor teleponku yang hanya Bu Sani tahu.


["Sebentar ya, aku arahkan ke kamera belakang,"]


Klik ...


Airmataku tak terbendung lagi saat melihat lelaki itu duduk termenung di dipan reot yang ada di teras rumah kami di kampung.


Wajahnya tetap tampan meski kini sedikit berkumis dan berjenggot, padahal dulu Boby sangat anti berkumis dan berjenggot.


Hampir tiap hari dirinya bercukur.


["Kau merindukannya?"]


["Tidak,"]


["Bagaimana kalau aku mendekat dan berbincang dengannya?"]


["Asal aku tak dirinya tahu,"]


["Ok,"]


Perlahan Bu Sani mendekat dengan ponsel yang di selipkan ke saku bajunya, sehingga kamera tetap menyoroti ke depan.


"Masih disini, Pak?" tanya Bu Sani.


Boby hanya tersenyum sembari mengangguk.


"Emang Ganis belum ada kabar, ya?" tanya Bu Sani kembali.


"Belum, Bu! Saya juga harap ada kabar secepatnya. Apa Yayan dan adiknya masih di pondok, ya?" tanggap Boby.


"Eh, itu saya kurang tahu. Uang nafkah yang Bapak titip juga masih ada di saya," tukas Bu Sani meyakinkan.

__ADS_1


Boby hanya ber-oh ria, tak begitu menanggapi lebih masalah uang itu. Aku sedikit tersanjung saat lelaki itu menanyakan kabar Yayan dan Ilham.


Apa dirinya tak ingin iseng menanyakan kabar anak yang kukandung? Sepertinya tidak.


Tak lama, Boby pun undur diri.


Tangisku pecah saat Bu Sani mengakhiri panggilan itu.


Dalam hati aku berdoa yang terbaik untuknya, bagaimanapun kami masih suami istri sah di mata Allah Ta Alla.


Ingin rasanya aku menemuinya, hanya saja aku takut dalam setahun ini Boby bukanlah milikku lagi, mengingat kabar perjodohan yang dulu pernah di bahas dirinya bersama tuan Atmaja.


****


"Bu, hari ini kan Tri ulang tahun, bagaimana kalau kita pergi ke kota sambil beli peralatan sekolah Ilham. Kan kalau di kota banyak pilihan, Yayan tahu kok toko-toko murah tapi barangnya berkualitas. Mumpung Yayan masih libur nih," usul Yayan.


Memang Yayan kuliah di kota, tentu banyak hal yang dirinya tahu sedang kami di kampung tak tahu.


Toh, uang ada dan ini yang ulang tahun juga anaknya Boby. Tak masalah bukan menggunakan uangnya untuk membahagiakan darah dagingnya sendiri.


Aku pun mengiyakan usul anakku itu, alhasil anak-anakku begitu bahagia bersorak sorai kegirangan.


Tak ingin membuang waktu, kami pun langsung berangkat dengan menyewa satu buah mobil berikut supirnya, agar kami bisa kembali ke kampung jam berapapun kami ingin.


Yayan mengajak kami ke Mall.


Kedua anakku itu begitu bahagia, sedang Tri tidur dalam dekapanku.


Bungsuku ini selalu mudah tertidur, bila kena terpaan angin sedikit saja Tri akan tertidur pulas.


Kami pun masuk ke dalam satu toko yang menjual peralatan sekolah dan tak lama tangan Ilham penuh dengan paperbag berisi peralatan sekolahnya.


Kemudian kami membeli satu kue ulang tahun dan memesan makanan di restoran yang ada di dalam Mall tersebut.


Yayan yang iseng membangunkan Tri, hingga Tri menangis karena masih begitu mengantuk.


Kadung saja kami menjadi pusat perhatian para pengunjung.


Rasanya malu sekali, tapi sudah terlanjur.


Setelah makan, kami berempat berjalan lagi ke arena permainan anak.


Yayan menggendong Tri ke wahana mandi bola sedang Ilham memilih bermain melempar bola basket.


Aku yang melihat anakku bermain hanya duduk di bangku panjang sembari menjaga barang belanjaan kami.


Tiba-tiba bajuku di tarik dari belakang, membuat aku terperanjat.


Aku pun berbalik dan seorang gadis memelukku sembari berkata,"Sus Ganis."


Aku membeku saat mengetahui gadis berkursi roda itu adalah Dinda.


Terlebih di belakangnya tengah mematung tuan Atmaja bersama Olivia yang kini tengah menggendong bayi mungil.


Aku tersenyum dan membalas pelukan Dinda, gadis itu menangis dalam pelukanku.

__ADS_1


"Ganis ...." lirih tuan Atmaja yang kini telah menghampiriku bersama sang istri, Olivia.


"Hai, Non Oliv ... Tuan Atmaja," sapaku.


"Kamu di sini?" tanya tuan Atmaja yang kini telah duduk di kursi panjang bersama Olivia.


"Iya, saya di sini sekarang." Aku berkata sembari mengelus lembut rambut Dinda.


"Sus, temani Dinda lagi ya, Dinda kesepian kalau hujan. Ga ada yang nemenin," pinta gadis itu.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk, entah ... aku harus menjawab apa.


"Bu," panggil Yayan sembari menyerahkan Tri kepadaku.


Tuan Atmaja dan Olivia terbelalak saat melihat Tri, bahkan tuan Atmaja menunjuk Tri seolah tak percaya.


Merasa aku mendekap balita, Dinda pun melepaskan pelukannya.


"Ganis, ini-"


"Ya, Tuan! Ini anakku bersama ...,"


Tak kuasa rasanya aku melanjutkan kata-kataku.


Aku hanya mendekap erat anakku itu.


"Boby mencarimu kesana kemari, dia seperti orang gil*." Tuan Atmaja berkata sembari menghela nafas panjang.


Aku acuh, tak berani berucap kata sepatah kata pun.


"Ganis, Boby menderita setelah kepergianmu," ucap Olivia lembut.


"Tuan, Non Oliv ... maaf sebelumnya, bukannya saya tak kasihan padanya. Tapi hal ini yang dia inginkan, dia ingin menceraikan saya begitu melahirkan dan bukankah Boby akan menikah dengan wanita yang sudah di jodohkan orangtuanya?" ucapku panjang lebar.


Tuan Atmaja kembali menghela nafas panjang.


"Boby memang di jodohkan, tetapi begitu kepergianmu membuat Boby seperti orang gil*, mencarimu kesana kemari bahkan dirinya tak pernah pulang ke rumah orangtuanya. Hingga ayahnya sakit parah, Boby tetap menolak perjodohan itu. Katanya kamu adalah istrinya dan sampai ayahnya sekarat di detik-detik terakhir, barulah ayahnya merestui pernikahan kalian. Sayangnya, kalian tak pernah bertemu, bukan? Boby juga belum tahu tentang puteranya, siapa namanya?" jelas tuan Atmaja.


"Trijaya Tegar Wardoyokusumo," jawabku.


"Bolehkah saya memangkunya?" tanya tuan Atmaja.


Aku mengangguk dan perlahan tuan Atmaja memangku Tri, sang Boby junior.


"Hei, cucu kakek! wajahmu sangat mirip ayahmu, ya! Kita foto, ya!" Tuan Atmaja memangku Tri sembari berselfie dengan ponselnya.


"Ganis, bukankah sudah waktunya Boby bertemu dengan anaknya juga dirimu?" tanya tuan Atmaja lembut.


"Boleh aku pikirkan dulu? Aku takut dirinya masih merasa kami penghalang masa depannya, aku takut ...," bimbangku.


"Tak apa, setidaknya kau bisa menghubunginya jika hatimu sudah siap. Masih menyimpan nomornya, kan?" tukas tuan Atmaja.


Aku menggeleng.


"Baiklah, ini simpan nomornya 08×××××××, hubungi saat kau siap. Saya rasa Boby akan senang sekali. Atau jika kau ingin bertemu langsung, dia ada di rumah yang kalian tempat dulu." jelas tuan Atmaja.

__ADS_1


"Haruskah?"


__ADS_2