Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Ini awal badai.


__ADS_3

"Pagi anak-anak! Tidurnya nyenyak?"tanya sang ayah pada anak-anaknya.


Pagi itu, anak-anak terlihat bahagia sekali.


"Tentu saja,Yah! Kami tidur di kasur empuk ... rasanya nyenyak sekali tidur Ilham." Anak itu lalu mengambil roti lapis yang sudah tersedia di meja.


Boby tersenyum pada kedua anak bujangnya itu dan mengacak-acak sayang rambut keduanya.


"Ayah, kan jadi berantakan lagi!" kesah Ilham.


Yayan hanya tersenyum sembari mengunyah roti sarapannya itu, sedang Tri ... masih tertidur pulas, setelah semalam sempat terjaga beberapa kali.


Akibat perbuatan Boby yang terus menerus berisik. Lelaki itu membuatku hanya tidur sebentar, sebab tak ada habisnya meminta haknya.


Sampai pagi ini, badanku rasanya remuk semua.


"Kenapa Mah?" tanyanya.


Saat itu aku memukul-mukul bahuku, sontak saja dirinya memijit bahuku.


"Pengen kemana lagi hari ini, mumpung hari Minggu?" tanya Boby pada anak-anak.


"Kemana aja asal jalan-jalan!" cetus Ilham.


"Kebun binatang atau taman bermain lagi?"


"Terserah Ayah saja," jawab Yayan kalem.


"Baiklah, sarapan yang banyak karena kita akan jalan-jalan kembali!" seru Boby.


Anak-anak bersorak sorai.


Tapi apa yang terjadi? Anak-anak baru mengetahui ada permainan game di ruangan yang kami huni ini, sontak saja anak-anak memilih bermain playstation model anyar tersebut.


"Wah, main ini lebih seru!" kata Yayan.


Anak bujangku itu bahkan sampai lompat-lompat tak jelas karena menggunakan fitur yang dipasangkan ke sejenis kacamata itu.


Tak lama Tri bangun, karena tak banyak membawa baju ganti ... aku meminta Boby membelikan baju dan popok.


Kembali lelaki itu membuatku tercengang, dirinya hanya menelpon seseorang dan tak lama barang-barang yang kami butuhkan itu datang.


Bahkan kini, baju untuk kami semua tersedia.


"Apa yang Ayah lakukan?" tanyaku ketika itu.


Boby hanya berdehem dan mengangkat bahu, seolah tak tahu.


"Rahasia, kalo mau tahu berarti harus mau lagi nanti malam!" candanya.


Mendengar itu aku mencebik dan kembali memasang baju Tri.


Boby malah terkekeh sendiri.


_______________________

__ADS_1


"Yan, kalau ayah bawa kalian pindah ke Jakarta, mau tidak? Soalnya ayah harus kembali menghandle perusahaan, tak baik jika terus dilimpahkan tugas ke orang lain !" ucap Boby pelan.


"Yayan kan kuliah, gimana?" tanggap Yayan.


Anak sulungku itu menunduk dan menggenggam tanganku erat.


"Mau kuliah di sana saja? Biar dekat rumah dan bisa terus bersama mamah?" tanya Boby.


"Apa boleh?" Yayan malah balik bertanya.


"Tentu saja, nanti kuliah di universitas mana, Yayan bebas milih dan kalau di sana bisa ayah antar atau pake supir, jadi Yayan ga capek, mau ya!" pujuk Boby.


Yayan pun mengangguk. " Asal bersama Ibu," lirihnya.


Aku pun memeluk anak sulungku yang begitu mirip mendiang ayahnya itu.


"Bang, anak kita sangat mirip sepertimu ... semoga saja imamku sekarang juga baik sepertimu," batinku.


Mataku mengembun mengingatnya, sosok yang telah berpulang ke pangkuan Gusti Allah.


Kau telah tenang di sana, lantunan doa tak pernah berhenti untukmu dariku dan anak-anak.


"Kenapa?" tanya Yayan.


Bujangku ini mengetahui jika aku menangis, " tak Nak, ibu teringat ayahmu! Semakin besar Yayan semakin mirip dengan mendiang ayah, maaf ... ibu terbawa perasaan."


Yayan tersenyum, airmataku disekanya lembut.


"Tak apa, Bu! Tandanya kita masih mengingat almarhum, Yayan setiap sholat pun tak pernah lupa mendoakan almarhum ayah." Yayan menyeka air mataku hingga airmataku tak lagi menetes.


________________________


Seminggu sudah, dan kini kami memutuskan berangkat ke Jakarta hari ini.


Rumah yang kami tempati kukembalikan lagi pada pengurus kampung.


Begitulah aturan adat di sini, jika rumah lama tak di huni, maka ada baiknya rumah di titipkan pada pengurus kampung.


Itulah alasan rumah nenekku yang sudah berpuluh-puluh tahun ini masih kokoh tanpa bolong sedikit pun.


Yayan dan Ilham akan pindah sekolah di Jakarta, dan kata Boby semua sudah diurus olehnya.


Kami hanya tinggal terima bersih.


Begitu di bandara, kembali aku tertegun.


Bagaimana tidak, kami dijemput langsung jet pribadi miliknya.


"Apa aku bermimpi?" tanyaku padanya.


Pertanyaan konyolku berakhir dengan kecupan manis di keningku.


"Ayah akan memberi kenyamanan terbaik buat kalian!" tukasnya.


Ya, seumur hidupku ... serasa mimpi dibuai kemewahan seperti ini.

__ADS_1


Anak-anak terlihat begitu nyaman, bahkan Tri tertidur dalam pangkuan ayahnya.


Padahal aku takut dia rewel, ternyata tidak sama sekali.


Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai ke bandara dan langsung di jemput oleh mobil berukuran besar sehingga kami sekeluarga ini muat masuk sekaligus.


Ah, sungguh kampungan memang aku!


"Mah, kita tak tinggal di rumah omah, ya! Ayah sudah menyiapkan hunian untuk kita sekeluarga," tukasnya.


Aku hanya mengangguk pelan.


"Aku siapa? Aku hanya istrimu yang jika kau bawa ke kolong jembatan pun aku tentu mau," batinku meronta.


Sekitar 15 menit kemudian, kami sampai ke rumah besar dua lantai yang begitu megah.


"Bagaimana? Lumayan besar, kan?" Boby merangkulku dan menguncang bahuku.


Aku kembali hanya bisa tersenyum, anak-anak tak kalah heboh. Bahkan kini Tri berlari-larian di halaman rumah megah itu.


"Pak Munir, barang yang saya minta sudah disiapkan?"tanya Boby.


Lelaki yang dipanggil Boby dengan pak Munir itu kemudian mendekat.


"Sudah, Tuan! Mainan anak yang Tuan minta sudah saya siapkan, buku pelajaran dan perpustakaan juga sudah lengkap terpenuhi. Keperluan Nyonya dari spa sampai Gym juga sudah tersedia. Pelayan hanya saya siapkan lima sesuai permintaan Tuan." Lelaki itu menjabarkan semua.


Aku yang mendengar hanya terdiam, bagaimana semuanya sudah disiapkan Boby.


"Yuk, masuk! Kamar anak-anak sudah tersedia semua, kalau mau pilih lagi nanti ayah sesuaikan barang-barangnya, ya!" ajak Boby bersemangat.


Anak-anak lari ke dalam, begitu pun si bungsu yang begitu menggemaskan, sedang Boby menggenggam tanganku.


"Mari, sayang! Kita masuk ke istana kita, semoga Mamah senang. Kita awali di sini dengan bahagia, ya!" pungkas Boby membuatku tersenyum.


Sungguh, aku bahagia sekali! Jika bisa di lukiskan, aku kini seolah-olah tengah berada di taman bunga yang begitu berwarna-warni.


Pertama melangkah ke dalam rumah ini, ternyata selama di sana semua foto yang kami abadikan diam-diam dijadikan foto keluarga yang begitu besar terpampang di ruang tengah.


"Ayah sungguh penuh kejutan!" seruku yang takjub.


Kami berdua berdiri tepat di depan foto di mana aku memeluknya erat.


"Ayah suka foto ini," celetuknya.


Aku tersenyum sembari meninggalkan dirinya yang masih mematung melihat foto kami berdua.


Kamar kami begitu luas, sedang Tri berada di boks yang telah di siapkan Boby di dalam kamar kami. Aku yang tak ingin Tri tidur terpisah dari kami, mengingat bungsuku ini masih menyusu padaku.


Aku harap semua ini menjadi akhir perjalanan cinta kami.


Ternyata semua masih panjang, di mana sekali lagi badai menerpa dan menguji cinta kami berdua.


"Wahai Rengganis, aku ingin melamarmu sekali lagi. Maukah kau menikah denganku, aku ingin namaku tersematkan di belakang namamu. Besok kita menikah lagi, ya!"


"Menikah lagi?"

__ADS_1


"Ya, secara negara. Aku ingin ada kejelasan bagi anak-anak kita. Mereka semua akan menyematkan namaku di belakangnya ... Boby Wardoyokusumo."


__ADS_2