Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Kekuatan Seorang Wardoyokusumo 1.


__ADS_3

"Ilham kenapa,Yah?"tanyaku yang tak kalah panik.


Tampak suamiku itu sedikit panik, kini dirinya melakukan panggilan di ponselnya.


"Urus pelakunya sekarang dan bawa orangtuanya meminta maaf hingga berlutut di kaki istriku," pungkas Boby.


Aku khawatir ... karena tadi suamiku ini menyebut nama anakku, Ilham. Kakiku pun mengikuti langkahnya.


"Yah, ada apa ini sebenarnya?" tanyaku pada Boby.


Suamiku itu lalu menangkup wajahku dan kini kening kami beradu.


"Tunggu sebentar lagi." jawabmnya.


Tak lama kembali ponselnya berdering, Boby memelukku saat menerima panggilan itu.


["Hallo!"]


....


["Ya, oke ... ruangan terbaik dan aku akan ke sana segera,"]


....


[Ok, kerja bagus!"]


Panggilan itu pun diakhiri.


"Ronie!" panggil Boby pada supir di rumah ini.


Tak lama datanglah supir yang dipanggil oleh Boby tadi.


Aku masih saja menatap suamiku itu dengan tatapan tak mengerti sama sekali ... ada apa ini?


"Mah, kita jemput Ilham, ya," ucapnya kala itu.


"Hah, kenapa tumben dijemput, Yah? Lagian jam pulangnya Ilham kan jam tiga?" killahku, kenapa hati ini merasa ada yang tak benar sedang terjadi.


"Sudahlah ... ikut saja!" ujarnya.


Akhirnya, dengan Boby yang menggendong Tri dan menggenggam tanganku ... kami bertiga masuk ke mobil di mana Ronie, sang supir pribadi kemudikan.


"Tumben Ayah ga bawa mobil sendiri?" tanyaku.


Boby malah menarik kepalaku dan mengecup keningku.


"Sedang ingin menggenggam tangan Mamah saja," celetuknya singkat.


Kata-katanya yang seperti itu selalu berhasil membuat senyumku mengembang, sungguh ... kini kumerasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Cukup dengan cinta Boby saja, sekarang aku akan menutup mata dan telinga dari semua nyinyiran dan nada sumbang orang akan hubungan kami berdua.

__ADS_1


Toh, hubungan ini kami yang jalani.


Beberapa saat kemudian kami sampai ke Rumah Sakit swasta, keningku mengernyit ... kenapa Rumah Sakit?


"Yah, kenapa ke Rumah Sakit?" tanyaku pada suamiku ini.


Boby menghela nafas, kini dikecupnya berkali-kali kening, pipi dan bibirku. Aku tak mengerti ... ada apa ini?


"Kita masuk dulu, ya Mah! Nanti ayah kasih tahu di dalam," ujar Boby.


Aku mengangguk pelan, kini hatiku mencoba menebak-nebak sendiri ... apa mungkin Boby tahu, sudah sebulan ini aku tak datang tamu?


"Ah, apa iya? Aku sendiri aja belum yakin," gumamku pelan.


"Ya, apa Mah?"


"Oh, ga Yah, mamah cuma mencoba menebak aja kenapa kita ke sini?" jawabku.


Begitu kami turun dari mobil, beberapa dokter menyambut Boby dan aku, di mana para lelaki berbalut pakaian putih itu berjabat tangan dengan kami dan menuntun kami ke ruangan paviliun paling luas.


"Di sini kamarnya, Pak! Kami melakukan pelayanan maksimal pada keluarga Bapak," tukas lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai direktur Rumah Sakit itu.


"Ya, kalian memang harus memberi pelayanan terbaik bukan ... terlebih pada keluarga Wardoyokusumo. Jika tidak, siapa yang memberi kalian pekerjaan di sini," sinis Boby.


Aku terkejut mendengar ucapan Boby, lekas kusentuh bahunya. Suamiku itu sekejap menjadi orang yang lembut, terbukti dari senyum dan tatapannya yang sendu.


Direktur itu seolah serba salah, lalu aku pun masuk bersama Boby ke dalam ruangan yang lebih mirip hotel itu.


Aku tak pedulikan Boby lagi, genggaman tangannya kulepaskan dan aku berhambur ke ranjang di mana anakku terbaring lemah.


"Maaf, Bu! Pasien baru saja disuntikkan obat penenang. Jadi tak kan merespon ucapan Ibu," jelas dokter di sampingku.


Airmataku luruh saat melihat anakku yang kusayang ini terbaring tak berdaya di mana kepalanya di perban dan dapat kulihat beberapa luka di wajah dan tangannya.


Tangan kugemetar saat akan menggenggam tangan kecil Ilham.


Boby merangkulku dan kemudian memelukku erat, dikecupnya kembali keningku.


"Tenang, Mah! Ilham hanya terpeleset di sekolah," tenang Boby.


"Kenapa parah begini kalau terpeleset?"tanyaku.


"Nanti anak buah ayah akan menjelaskan semua," bisik Boby tepat di telingaku.


"Duduk dulu, biarkan Ilham istirahat karena kata dokter barusan kan jagoan ayah baru aja di suntik obat penenang." Boby menuntunku ke sofa panjang yang tersedia di samping Ilham, Tri sudah tertidur dan kini di rebahkan Boby di sofa.


"Jelaskan pada istriku, apa yang terjadi!" seru Boby.


Satu dokter yang tadi menangani Ilham maju.


"Pasien mengalami gegar otak ringan, sepertinya terjadi benturan keras antara kepala dan sesuatu benda, bisa jadi dinding atau pasien terjatuh. Jika dilihat dari lukanya yang lain ... pasien sepertinya terjerembab dari belakang dan menghantam keras aspal, tembok atau bisa jadi hantaman benda keras seperti balok kayu!" rinci dokter tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan kalian berjaga di luar, aku perlu privasi!" ujar Boby, ketus.


Pasalnya para petinggi Rumah Sakit itu juga turut masuk ke dalam dan berjejer di dekat Boby, seolah mencari perhatian. Wajar saja kalau Boby dan aku merasa risih.


Bahkan anak buah atau penjaga kami saja berdiri di luar.


Dalam sekejap kamar menjadi lenggang, walau kutahu para dokter itu masih berdiri di depan pintu kamar.


Boby meraih ponsel di sakunya, kemudian mengetik pesan yang dapat kulihat di tujukan pada Roy, bodyguard kepercayaan Boby.


Semakin pahamlah aku, lelaki yang menjadi suamiku ini memiliki pengaruh besar di kalangannya.


"Yah." Kusandarkan kepalaku di bahunya, "kenapa para dokter itu berlomba-lomba mencari perhatian Ayah?" tanyaku.


Boby tersenyum dan kini di angkatnya daguku perlahan, diciumnya bibirku lama.


"Itu karena mereka tahu siapa kita, Rumah Sakit ini milik kita, Mah!" jawab suamiku.


Aku tertegun, sungguh ... aku tak tahu itu.


Aku pun memilih memejamkan mata ketika berada di dekapannya.


Tak lama terdengar ketukan, Boby pun mengizinkan masuk.


Ternyata Roy, pria bertubuh besar dan selalu menggunakan tuksedo hitam itu kemudian berdiri di depan kami.


"Apa yang terjadi?" tanya Boby.


Lelaki itu menyodorkan sebuah laptop dan dari layar laptop itu dapat kulihat anakku, Ilham.


Rupanya Ilham di dorong dengan sengaja ketika di jam pelajaran olahraga.


Entah maksud anak yang mendorong itu hnya bercanda atau memang sengaja, tapi yang jelas perbuatannya itu sungguh fatal bagi anakku, Ilham.


"Yah," lirihku.


Tangan kananku menutup mulutku sendiri sedang kini aku menahan isak tangisku, melihat di laptop itu bagaimana mereka mencelakai Ilham.


Hatiku mencelos, kini tangisku semakin menjadi. Sungguh, tega sekali mereka pada anakku.


Aku beranjak dan duduk disamping Ilham, kugenggam tangannya dan kuusap lembut wajahnya yang tertidur pulas karena obat penenang.


Sepertinya Ilham tak kuasa menahan sakit, hingga perlu diberi obat penenang.


"Nak, maafkan ibu," gumamku.


"Siapa dia yang sudah membuat anakku seperti ini?" tanya Boby yang geram.


"Namanya Excel, pewaris Aksara Grup. Anak tuan Darwis, Tuan!" jawab Roy detail.


"Lakukan tugasmu, dan aku tak ingin tahu ... malam ini buat mereka bertekuk lutut bersimpuh di kaki anak dan istriku, sepertinya mereka belum tahu siapa itu Wardoyokusumo!"

__ADS_1


__ADS_2