Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Salah Paham 2


__ADS_3

Kutemani wanita itu, bahkan dalam keadaannya yang seperti itu ... bagaimana aku bisa meninggalkan dia sendiri saat ini. Kukuatkan hatinya, bahkan kubiarkan saat dia memeluk dan menangis dalam pelukanku.


"Bob, aku tak kan mampu menjalankan hidup seperti ini. Aku ingin akhiri hidup saja. Apa lebih baik aku seperti itu, hah! Sayang ... katakan padaku, aku harus apa?!" Aku hanya diam kala Selena membelai pipiku dan kini mengecup bibirku sekilas. Aku tak membalasnya, juga tak menolaknya. Wanita itu lalu makin berani saja.


"Hmm, maaf Selena. Aku sudah meminta Melani menjagamu malam ini. Aku juga sudah meminta orang untuk mengurus pemakaman besok pagi serta tempat bersemayam ayahmu. Aku pulang dulu, anak istriku pasti sedang menungguku," elakku.


"Ta-tapi, Bob! Aku benar membutuhkanmu, jika kita tak bersama ... aku lebih baik m*ti saja," ucapnya lirih.


Aku menghela napas, kudekati dia dan kukecup keningnya. Seperti yang dulu kerap kulakukan padanya.


"Sembuhlah dulu," ucapku.


Aku tak mau mendengarkan panggilannya. Hatiku tak tenang, entah ada apa? Pikiranku tertuju pada Ganis. Derap langkahku terhenti kala aku sampai di depan ruangan inap Selena, tubuhku kaku melihat sosok yang hampir sehari ini aku lupakan karena sibuk pada Selena.


"Mah, ke-kenapa ke sini?" tanyaku terbata-bata.


Aku takut dia melihat apa yang aku dan Selena lakukan.


"Aku pikir kita akan bahagia, ternyata aku hanya terlalu tinggi berkhayal," ucapnya.


Wanita yang amat kucintai itu lalu pergi meninggalkanku. Kukejar dia dan ternyata Ganis menggunakan taxi, gegas kupacu roda empatku.


Dalam pikiranku, semua berkecambuk. Apa Ganis melihat semua yang kulakukan pada Selena.


"Ganis, kau salah paham," gumamku.


Tak terasa aku sudah sampai ke rumah, gegas aku berjalan ke kamar kami. Akan tetapi, Ganis tak ada di kamar, kucari dia di kamar anak-anak, namun tak jua ada.


Aku menghempaskan tubuh di sofa, kala jengah dengan semua yang terjadi.


"Ganis," gumamku.


Aku tak tahu, kapan dia datang. Yang jelas kini wanitaku yang sedang mengandung anak kami itu, berjalan melewati dengan suara isak tangis yang masih terdengar.


"Ganis," panggilku lirih.

__ADS_1


"Mah, ini gak seperti yang Mamah kira. Ini salah paham," jelasku.


Kutarik tangannya hingga tubuh wanita hamil ini dapat kudekap erat.


"Lepaskan aku, Boby. Ternyata benar kata Ibumu, aku tetap saja pembantu. Takkan pernah cocok menjadi menantu atau bersanding denganmu. Kami orang miskin, akan sesuka hati kalian permainkan seperti boneka. Lepaskan aku, aku sudah melihat semuanya dari tadi siang. Aku melihatnya, Boby!" pekik Rengganis dengan suara yang bergetar.


Dia menangis, karena aku.


"Mah, hanya salah paham." Kuraih dagunya dan kukecup bibirnya. Sayang, dia mengelak.


"Setelah ******* bibir Selena, lalu kau akan mencium aku? Apa selama ini aku hanya ban serap untukmu? Sudahi saja semua, Boby. Aku sadar diri." Rengganis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan kutahu dia menangis, sempat aku hendak meraih tubuhnya. Dia kembali mengelak.


"Aku lelah," ucapnya lagi.


Kutatap dirinya yang kini beranjak je kamar kami. Kususul dia, di mana wanitaku ini duduk di pinggir ranjang dan menangis.


Aku bersimpuh di kakinya, hancur hatiku kala melihatnya menangis seperti ini.


"Mah, maafkan Ayah! Maafkan Ayah," mohonku.


*****


Kala Yayan ke kamar, Ganis menyusulnya dan aku turut mengikuti langkahnya.


"Yan, Ibu boleh bicara gak sama Yayan?" tanya Ganis.


"Boleh, Ibu kenapa sepertinya kurang tidur begitu?" telisik Yayan.


"Gak kok, Nak! Ibu rasa ini bawaan adekmu di dalam perut." Ganis mengusap lembut perutnya. Hal yang dua hari ini aku tak lakukan.


"Yan, berhenti kuliah dan cari kerja saja. Bagaimana?" Wajah Ganis terlihat sendu, digenggamnya tangan Yayan.


"Bu, ada apa? Katakan yang sebenarnya. Apa nenek dan tante Melani datang lagi? Mereka menghina dan meminta Ibu bercerai dengan Ayah?" cecar Yayan.


Betapa terperanjatnya aku, di belakangku ... keluargaku sering menindas Ganis belum lagi luka yang kuhadirkan di hatinya semalam. Wajar jika dia marah.

__ADS_1


"Bukan, Ibu rasa kita takkan lama tinggal di sini. Kita orang kampung, Nak! Ini ... ini bukan tempat kita." Hatiku sakit kala mendengar kata-kata yang membuat istriku itu rendah diri dan merasa tak sebanding denganku. Inikah yang dirasakannya, beluk lagi dia sedang mengandung anakku.


Ya Allah, jahatnya aku.


"Bu, kita pulang kampung saja. Yayan tak apa," tukas Yayan lembut.


"Tidak! Tidak ada yang akan kemana-mana." Aku masuk dan kutatap mata mereka bergantian.


Ganis seolah tak peduli, dirinya pergi keluar. Berbincang sebentar dengan Ilham dan bermain dengan Tri. Ponselku berdering, di mana nama Selena terpampang jelas do layar ponsel.


"Arggghh!" Kubanting ponselku ke lantai hingga hancur.


Semua ini gara-gara hati dan aku tak bisa menjaga hati istriku.


"Apa-apaan kamu? Tri ketakutan melihat kamu berubah seperti hewan buas. Kalau tak betah di rumah dan sudah tak sanggup menahan rindu pada kekasihmu itu, pergilah! Apa aku ada melarangmu pergi? Apa aku menahanmu? Tidak! Anak-anak juga akan di antar sopir mereka. Pergilah, jangan siksa hatimu untuk berada di dekat kami yang tak berarti bagimu." Ganis berkata dengan suara lantang yang dapat kurasa pedih dalam setiap kata-katanya.


Ada luka yang ditutup-tutupinya.


Kuremas rambutku dan kucoba atur napas agar tak turut emosi.


"Mah, sudahi semua amarahmu. Ayah tak memikirkan Selena, ayah tak sanggup dijauhi dan diabaikan Mamah seperti ini. Semalam saja ayah tak dapat tidur," kesahku.


Aku mengalah, ya ... tak baik jika sama-sama emosi.


"Pergilah Yah, mamah tahu wanita itu menunggumu. Mam---"


Kupeluk dirinya dan kucium tengkuknya.


"Tri sama pengasuhnya, kan?" Kukecup bibirnya.


"Jangan pikirkan hal lain. Hanya ada Rengganis di hati Boby."


*****


Kukeringkan rambutnya yang basah setelah kami keramas bersama, pagi ini ... kujanjikan kembali ikrar yang dulu kuucapkan kala menikah.

__ADS_1


"Bagaimana dedek? Tadi udah Ayah jenguk? Apa masih suka komporin Mamahnya marah?" Kuusap perut istriku ini, kukecup perut dan bibir istriku berkali-kali.


"Yah, mamah mohon. Jangan tinggalkan kami untuk wanita lain. Jika Ayah memilih Selena, maka Tri juga anak dalam kandungan ini akan ikut dengan mamah dan takkan pernah mamah ijinkan Ayah menemui mereka, ingat Yah!" ucapnya.


__ADS_2