
POV. Boby
Drttt ....
Ponselku kembali bergetar, gegas kuraih benda pipih di saku celana kainku.
"Ck, siapa yang menelpon jam segini?" gerutuku pelan.
Bagaimana tak kesal, pukul sebelas malam ada panggilan dari nomor yang aku sendiri tak tahu itu nomor siapa. Untungnya aku belum tertidur saat itu.
Kuabaikan panggilan itu, kupeluk kembali wanita yang kini mengisi hatiku dan tengah mengandung anak keduaku ini.
Wajahnya teduh tertidur nyenyak dalam pelukanku.
Cup, sebuah kecupan penuh cinta kudaratkan ke pucuk kepala istriku tercinta, Rengganis.
Tanganku menuju ke perutnya yang kini sudah mulai membesar.
"Anak ayah," gumamku.
Drttt, kembali ponselku bergetar.
Kuabaikan panggilan itu, hingga berulang kali. Aku pun kesal sendiri, mau tak mau akhirnya kuangkat juga telepon itu.
"Halo, siapa ini?" tanyaku dengan ketus.
Tak ada balasan, hanya suara wanita yang menangis terisak.
"Siapa kau! Berani-beraninya menelpon tengah malam begini!" geramku.
Aku yang kesal, sudah akan memencet tombol merah ... namun semua itu tertahan saat kudengar suara yang bertahun-tahun tak kudengar lagi.
Wanita yang mengirim paperbag dan kumasukkan ke tong sampah demi menjaga hati istriku.
"Boby," panggilnya.
"Ya, ini aku! Apa maumu?" tanyaku datar.
"Bob, aku sedih. Hidupku hancur, besok kita akan kembali bertemu. Meski sekedar patner bisnis ... maukah kau menjadi teman baikku seperti dulu. Jujur, saat ini aku membutuhkan teman yang sedia mendengar keluh kesahku, aku hancur Bob! Aku hancur, hiks hiks!" Selena, ya suara Selena yang begitu parau dan terdengar memilukan.
"Kau sungguh tak sopan. Ini di luar jam kerja, maaf aku akhiri panggilan ini!"
Tak pikir panjang, kumatikan daya ponsel dan gegas kusimpan ke atas nakas.
Aku terhenyak saat Ganis rupanya terjaga dalam pelukanku, matanya menatapku tajam.
"Itu rekan bisnis," ujarku jujur. Bagaimanapun Selena hanya sekedar partner bisnis semata bagiku.
"Selena yang menelpon? Jam segini, Yah?" cecar Ganis.
__ADS_1
"Iya, tapi ayah gak mau nanggapi selain jam kerja terlebih tak ada urusan lagi tuh sama ayah. Yuk, tidur lagi," jawabku yakin.
"Gak, mamah pengen nasi goreng buatan Ayah," rengeknya manja.
Aku hanya tersenyum dan bergegas menuntun wanitaku ini ke dapur.
Aku bergaya ala chef handal dan mengolah masakan pesanan istri tercinta.
Tak butuh waktu lama, sepiring nasi goreng tersaji untuk istriku yang tengah mengandung ini.
"Tara, nasi goreng ala ayah plus bumbu cinta siap tersaji untuk istri tercinta." Kusuapi istriku makan hingga sepiring nasi goreng itu habis tak bersisa.
Selesai makan, kulihat istriku tak jua ke ranjang menemaniku. Padahal ini sudah pukul tiga.
"Kenapa dia belum juga ke kamar, sih?" ketusku.
Perlahan kulangkahkan kaki menuju dapur. Ternyata istriku tengah menghadap wastafel.
"Apa yang dia cuci sampai selama ini?"
Gegasku hampiri namun langkahku terhenti saat kudengar isak tangisnya.
Aku yang merasa panik melihat istriku menangis, segera kuraih tubuhnya dan kupeluk dia. Aku takut dia merasa sakit terlebih saat ini ... ada anak dalam perutnya.
"Mamah kenapa?" tanyaku.
"Mamah gak kenapa-napa kok, Yah! Mamah ngantuk pengen tidur," jawabnya.
Aku merasa tak terjadi apa pun, mengiyakan saja perkataan istriku itu.
*****
Pagi kulalui dengan biasa saja, mencium istriku dan anak dalam perutnya. Begitupun jagoan yang lain. Ilham dan Tri, tak jua tertinggal Yayan ... anak santun itu membuatku segan mencium keningnya.
Hanya usapan penuh kasih sayang yang dapat kuberikan pada Yayan.
Kuawali hatiku dengan bersemangat, aku pun berencana pulang awal karena hari ini jadwal Ganis periksa kehamilannya.
"Aku ingin tahu, anak keduaku cewek apa cowok," gumamku saat itu.
Tepat pukul sembilan pagi, meeting dimulai. Klien kali ini adalah Selena, Sedikit say hello dengannya tak membuatku merasakan apa pun. Benar, hatiku sudah bertaut pada Ganis. Bahkan rasa pada Selena yang dulu kuanggap cinta matiku pun, kini rasa itu tak berbekas sama sekali.
Meeting berjalan lancar, kami sepakat bekerja sama. Selena sedari awal menatapku lekat, namun aku selalu memutuskan pandangannya.
"Boby, aku ingin bicara sebentar. Boleh?" ucapnya kala itu.
"Apa yang akan kau bicarakan? Urusan bisnis sudah selesai, silakan keluar dari kantorku. Aku ada urusan penting!" seruku.
Tatapannya seketika sendu, "Ya sudahlah, maaf mengganggu."
__ADS_1
Aku menghela napas, memang sedikit keterlaluan juga sikapku.
"Katakan, apa maumu," pekikku. Hal itu membuat Selena berbalik dan senyumnya berkembang.
Wanita itu duduk di sofa, aku pun melipat tangan sembari menatap dirinya.
"Begini, Bob! Semalam, maafkan aku ya. Sebenarnya aku ...."
Selena menunduk, lalu mulai menangis. Bahunya berguncang hebat.
"Ayahku, ayahku masuk Rumah Sakit setelah kecelakaan yang menimpanya. Su-suamiku dalangnya, Bob!"
Aku hanya mendengarkan ceritanya, mungkin bisa mengurangi kesedihannya.
Tak ada niatku untuk mendekatinya dan menenangkannya seperti dulu.
Beberapa saat kemudian, wanita itu tenang. Selena mengucapkan terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahnya. Padahal aku tak melakukan apa pun untuknya.
Wanita itu melenggang keluar, saat itu aku yang sudah berjanji pada istriku akan menyusulnya ke Rumah Sakit melakukan pemeriksaan kandungannya, bergegas turun ke bawah. Tadinya hendak menggunakan lift, begitu melihat Selena ada di lift membuatku memilih menggunakan tangga darurat saja.
Aku bergegas ke arah mobilku, saat itu terdengar kegaduhan di area parkir. Samar kudengar suara Selena yang memohon dan menangis.
Aku yang hendak pergi pun, kembali keluar dari mobil dan berjalan pelan ke arah suara Selena.
"Selena, ya Tuhan! Apa yang terjadi?" pekikku.
Bagaimana aku tak memekik, saat itu Selena bersimbah darah tak sadarkan diri di samping mobilnya.
Aku yang panik, gegas melepaskan jasku dan membopong tubuhnya masuk ke mobilku, saat ini ... Rumah Sakit adalah tujuanku.
Tak pikir panjang, aku pun melaju menuju Rumah Sakit, kubopong kembali tubuhnya hingga ke ruang ICU.
Tak kuingat janjiku pada Ganis dan tak kusadari sedari awal kedatanganku sesosok wanita mematung memperhatikanku dan sekejap kemudian dirinya pergi.
Entah mengapa, saat itu aku duduk di samping Selena hingga dia siuman. Setelah berbincang-bincang sedikit, aku pun mengatakan padanya ingin segera pulang.
Selena mengucapkan banyak terima kasih padaku, padanya kutegaskan jika aku membantu sebatas naluri kemanusiaan saja. Tak ada sedikit pun menyangkut paut perasaan masa lalu.
Kuraih ponsel dari saku celana, tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Ganis.
"Mungkin saja dia tak jadi periksa," gumamku seorang diri.
Pukul sepuluh malam, aku baru pulang ke rumah. Aku memang berniat mengatakan semuanya pada Ganis, tak ingin ada yang ditutup-tutupi.
Sayangnya, saat aku sampai ke rumah. Selena mengirim pesan kembali, di mana dia mengabarkan ayahnya meninggal dunia.
Aku yang baru sampai ke kamar, gegas mandi dan kembali menggunakan baju kemeja dan gegas keluar, tanpa kuperhatikan wanita yang berbaring di atas ranjang. Sempat kukecup keningnya sebelum pergi.
"Mah, ayah pergi dulu!"
__ADS_1