Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Hinaan yang menohok.


__ADS_3

Boby memelukku erat, " Benar, Mah! Itu anak yang membuat jagoan ayah terbaring kesakitan,"


Aku mengusap lembut dada suamiku, saatku dengar suaranya yang bergetar dan wajahnya merah padam menahan amarah.


"Ganis!" ucap lelaki paruh baya itu.


Sontak saja aku mendongak dan melihat dengan seksama wajah lelaki yang menyebut namaku.


"Kamu Rengganis, istrinya Rusdi kan?" lanjutnya kembali.


Aku terhenyak saat mendengar lelaki itu menyebut nama almarhum bang Rusdi.


"Dia istriku, dan kau ... harus lebih sopan terlebih anakmu berbuat salah pada anakku," kilah Boby.


Tuan Darwis, lelaki paruh baya yang seolah mengenal suami pertamaku, almarhum bang Rusdi. Entah darimana dia mengenalnya, aku sendiri saja kaget mendengar dirinya menyebut namaku dan almarhum bang Rusdi.


Tuan Darwis lalu berbalik memandang Ilham yang tergolek di tempat tidur pasien itu.


"What happen?" tanya tuan Darwis pada sang anak.


Anaknya itu hanya menunduk dan bersembunyi di belakang sang ibu.


Tuan Darwis menatap tajam pada sang anak dan berusaha meraih tubuh sang anak yang bersembunyi di balik tubuh ibunya.


"Stop, Darwis! Never force it!" pekik sang istri.


"What! Camelia, lihat yang anakmu lakukan!" sanggah Tuan Darwis.


Dapatku lihat lelaki itu memejamkan mata kemudian menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Tuan Boby Wardoyokusumo, maafkan anakku. Excel, sepertinya ini hanya salah paham semata," tukas Tuan Darwis tenang.


Aku tak terima dengan perkataannya, tanpa dapat Boby tahan ... aku maju dan memilih menghadap langsung Tuan Darwis.


"Maaf, Tuan! Baru saja saya mendengar kata Anda perihal kejadian ini yang bagi Anda hanya salah paham, lihat anak saya! Gegar otak ringan membuat dirinya harus disuntikkan obat penenang berkali-kali dan hanya ini ... permohonan maaf yang setengah hati Anda berikan, terlebih anak Anda sama sekali tak tampak menyesal setelah melakukan perbuatan itu. Anda mengenal suami saya, Almarhum bang Rusdi. Seharusnya Anda pun tahu, anak bang Rusdi-lah yang anak Anda celakai. Sekarang, saya serahkan semuanya pada suami saya ... jika perkataannya tajam dan menyakitkan, saya takkan pernah melarangnya!" ancamku.


Hatiku sakit sekali, mereka terlalu menganggap sepele.


Aku berbalik dan kembali ke dalam dekapan Boby, lelaki itu tersenyum manis padaku ... mungkin karena sikapku yang tetap tenang menghadapi orang sombong seperti Tuan Darwis dan istrinya yang sok Inggris itu.


Boby lalu menuntunku duduk kembali ke sofa, dielusnya perutku lembut.


"Tuan Darwis Harisson, pemilik Aksara Grup. Dari cara Anda mendidik anak dan menanggapi kejadian ini ... membuat saya merasa tak baik menjalin kerja sama bisnis bersama perusahaan Anda. Apa Anda lupa siapa saya, jika dilihat perusahaanmu, hampir 80% berasal dari suntikan para investor yang memiliki keterkaitan dengan semua bisnis seorang Boby Wardoyokusumo. Bagaimana kalau saya memberi komando, satu komando yang akan membuat Anda paham siapa anak yang sudah anakmu itu celakai, apa kau ingin mencoba dan membuktikan ucapanku?" ungkap Boby panjang lebar.


Tuan Darwis sempat tertegun, namun sesaat kemudian lelaki paruh baya itu tersenyum.


"Sekedar kukatakan padamu, Boby! Kau baru terjun di dunia bisnis ini dan kau kira aku tak tahu, kau hanya menjalankan bisnis yang memang merupakan kekayaan keluarga, berbeda dengan kami, para pebisnis yang memulai semua dari nol. Jadi, ancaman darimu ini hanya angin lalu bagiku. Huh, aku rasa sebaiknya kau yang belajar dari semua kejadian ini. Menikahi wanita tua dengan memiliki banyak anak hanya akan membuatmu kesusahan sendiri. Sepertinya kau terkena karmamu sendiri, sebab yang kutahu ... Boby Wardoyokusumo itu penggila wanita muda, seorang playboy! Lalu kenapa kau menikah dengan wanita tua? Hahaha ... malang benar nasibmu!" Tuan Darwis berkata sembari pergi meninggalkan ruangan di mana Ilham dirawat.


Begitu kepergian tuan Darwis dan anak istrinya, aku dan Boby terdiam sejenak.


Aku tertunduk malu, kini kembali aku merasa kesenjangan diantara kami berdua.


Boby berdiri dan pergi ke luar di mana ruang terbuka tempat kami duduk tadi.


Dapatku lihat lelaki itu berteriak histeris, meluapkan perasaan dan amarah yang membuncah.


Pandanganku sayu, sungguh ... perkataan tuan Darwis tadi menjadi pukulan bagiku sendiri. Perlahan mataku terbuka, kenapa ibu Boby memilih dihujam pisau daripada menerima aku sebagai menantunya.


Ya Allah, perihnya hati hamba! Mengapa kami harus kembali bersama jika satu dunia tak bisa menerima, bahkan kini suamiku hanya menjadi bahan ejekan bagi banyak orang yang memandang sebelah mata pada hubungan rumah tangga kami.

__ADS_1


Aku terisak, sungguh! Hatiku sakit, kini aku menyesal kembali ke Jakarta. Kuusap kepala Tri lalu beranjak ke sisi Ilham, pada anakku ini kugenggam tangannya. Seolah mencari penguatan akan hati.


Biasanya jika aku sedang bersedih, kedua anakku ... Yayan dan Ilham, selalu menguatkan aku.


Boby kembali ke dalam ruangan, matanya terlihat merah ... dapat kupastikan suamiku itu menangis, aku kembali menunduk ... tak pantas rasanya memandang wajahnya.


"Roy!" pekik Boby.


Tak lama Roy masuk ke ruangan.


"Ada apa, Tuan!" sahutnya.


"Hubungi semua kolega kita, katakan pada mereka ... aku ingin mereka menunjukkan loyalitasnya pada perusahaan kita, baik dari bidang mana saja. Aku tak peduli, intinya siapa saja yang memiliki kerja sama ataupun saham di AKSARA GRUP, kerja sama batal dan saham mereka harus di tarik malam ini juga. Terutama dari perusahaan kita, di bidang manapun ... aku tak mau tahu! Intinya aku ingin melihat Darwis sombong itu merangkak dan bersimpuh di kaki istriku atas semua hinaannya!" titah Boby saat itu.


Roy mengiyakan dan segera ke luar, perlahan aku mengikuti langkah Roy ke luar ... begitu banyak penjaga yang berada di depan kamar Ilham.


"Mau kemana?" Tiba-tiba Boby sudah ada di belakangku.


Aku berbalik dan gegas duduk di sofa bersama Tri yang tertidur.


Boby lalu mengikuti langkahku, suamiku itu lalu duduk di sampingku serta mencium pucuk kepalaku dengan lembut.


Dipeluknya lagi tubuhku erat, sedang satu tangannya mengusap perut rataku, di mana kini ada benih cinta kami berdua.


"Jangan diingat perkataan Darwis, aku mencintaimu!" bisik Boby.


Lelaki itu seolah mengetahui apa yang kurasa, perlahan airmata ini kembali meluncur tanpa ada ijin dariku. Rasanya aku memang tak pantas berada di samping Boby. Ingin rasanya aku pungkiri semua perkataan Tuan Darwis, sayangnya semua itu benar adanya.


"Yah, jika suatu saat hinaan ini tak mampu Ayah terima lagi, tolong katakan pada mamah. Jangan pernah dipendam, supaya mamah tahu kapan saatnya pergi dari kehidupan Ayah," bisikku pelan.

__ADS_1


Boby mengangkat daguku hingga tatapan kami bertemu. " Apa yang kau katakan, Ganis! Takkan pernah aku izinkan kalian pergi dari hidupku lagi. Kecuali maut memisahkan!"


__ADS_2