Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Restu dari Yayan.


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam!"


"Ilham sudah pulang, Ibu! Ayah! Mari kita jalan." Ilham tersenyum sembari berlari ke arah kami berdua.


"Untung sudah selesai!" bisik Boby.


Siang itu, setelah Ilham pulang sekolah ... kami pun pergi ke kota sesuai janji ayahnya.


Walhasil, mobil kijang itu kembali disewa oleh Boby sampai beberapa hari ke depan.


"Bagaimana kalau ayah membeli mobil saja, Mah?" tanya suamiku ketika itu.


Aku mengangkat bahu, karena aku sendiri tak tahu perlu atau tidaknya.


"Iya, Yah! Beli aja, nanti kita bisa jalan-jalan terus. Ilham senang kalau punya mobil!" imbuh Ilham.


"Oke!" jawab suamiku ini.


"Apa ga buang-buang uang saja, lagian katamu ...."


"Ayah!"potong Boby.


"Iya, katanya nanti mau membawa kami ke Jakarta, lalu buat apa beli mobil di sini." Aku tersenyum sembari memegang pundak suami yang kini sangat kucintai.


"Jadi Mamah setuju kita pindah ke Jakarta?" tanya Boby.


Begitu senangnya dia, semua itu terlihat dari binar matanya.


Aku mengangguk pelan dan kuberikan suamiku senyum termanis.


"Tinggal Ayah bicara sama Yayan saja, Mamah sudah menyerahkan semuanya pada Ayah, sebagai seorang istri tentu saja manut pada suami. Biar dapat ridho dari Allah," ungkapku panjang lebar.


"Terima kasih, Mah!"ucap Boby.


________________


"Kita ke kost-an Yayan dulu, Yah!" pintaku.


Boby mengangguk pelan dan mengemudikan mobil ke arah jalan yang kutunjuk padanya.


Tri dan Ilham turun dari mobil dan segera menghambur ke pelukan sang abang, Yayan yang kebetulan baru saja pulang dari kampusnya.


Yayan terlihat senang melihat kedatangan kami, bahkan dirinya acuh pada sosok Boby, mungkin saja Yayan mengira aku menggunakan jasa mobil carteran di mana akan sepaket dengan supirnya juga.


"Yah, sini! Ngomong sama bang Yayan, katanya tadi mau ngomong sama bang Yayan," panggil Ilham.


Sontak saja kening anak sulungku itu mengernyit, bahkan kini netranya bergantian menatapku dan Boby, lelaki asing yang kini di panggil Ilham 'ayah' itu.


Aku langsung menghampiri anak sulungku yang nampak sekali kebingungan.


"Kita ke dalam kost-anmu saja bicaranya, dan ibu harap Yayan dapat menerima semuanya atau kalau pun tidak ... mohon Yayan pikir-pikir dulu, ya!" ucapku.


Yayan mengangguk pelan, dan mengikuti langkahku masuk ke dalam kost-annya.


Begitu pun Boby dan anak-anak.

__ADS_1


Netra Yayan tak lekang dari sosok Boby.


Aku pun duduk di sampingnya serta memegang bahu anakku yang kini mulai lebar.


"Nak, ini Boby. Ayahnya Tri dan ayahnya kalian, dia adalah suami ibu." Kusentuh pucuk kepalanya agar tenang dan mengerti.


Yayan kemudian menatapku tak percaya, matanya berkaca-kaca dan kini dapat kulihat bulir bening menetes di pipinya.


"Yayan," panggilku lirih.


"Dia ...lelaki yang mencampakkan ibu ketika hamil Tri, kan?" tanya Yayan memastikan.


Aku mengangguk begitu pun Boby, aku tersenyum melihat anakku itu maju mendekat pada Boby.


Boby sumringah menatap Yayan dan BRUGH ... BRUGH ... BRUGH ....


Yayan memukul dan meninju Boby, lelaki itu pun tak membalas dan tak jua mengelak.


Aku ingin melerai tapi Boby menghalau ... seolah membiarkan Yayan memukulnya.


Aku akhirnya luruh sembari memeluk kedua anakku yang masih kecil, Tri dan Ilham.


Keduanya tak pantas melihat orang dewasa berbuat kekerasan, Ilham menangis ... begitu pun Tri, mendengar tangis adiknya barulah Yayan berhenti memukul dan kini mendekat padaku serta kedua adiknya.


Yayan menangis dan memelukku.


"Ibu," lirihnya.


Aku merentangkan tanganku dan memeluknya. Dalam pelukanku, Yayan kembali menangis tersedu-sedu.


Kucium pucuk kepalanya.


Boby mulai mencoba bangkit, wajahnya begitu lebam dan sungguh aku tak kuasa melihatnya.


Entah bagaimana Yayan memukulnya, wajahnya sampai bonyok begitu.


Aku hanya mengulurkan tanganku agar dapat menggapainya, Boby pun meraih tanganku.


Sontak saja Yayan memeluk tubuh kekar itu.


"Maafkan Yayan, pasti sakit ya!" ucapnya lirih.


Dalam pelukannya, Boby membelai kepala Yayan.


"Tak apa, tak sakit! Ini bahkan belum sepadan dengan semua kesalahan yang pernah ayah lakukan, hingga kalian merasakan perih hidup selama ini.Yayan, maukah Yayan memaafkan ayah dan menerima ayah dalam hidup kalian?" tanya Boby pada Yayan, anak sulungku.


Yayan mendongak kemudian lamat memperhatikan wajah lelaki tampan itu.


Seolah mencari kepastian dan kejujuran dalam setiap kata dan tatapannya.


"Ya, Yayan mau! Asalkan Ibu bahagia dan Ayah selalu membahagiakan Ibu," tukas Yayan.


Aku terharu, kembali aku memeluk anak sulungku erat.


"Terima kasih, Nak!" ucapku.

__ADS_1


Yayan kemudian pergi ke belakang, rupanya anakku itu masih menyimpan rapi kotak P3K yang aku siapkan untuknya.


Tadinya Yayan ingin mengobati wajah Boby, tapi aku memintanya membasuh diri karena kita akan jalan menghabiskan waktu.


Sehingga kini, aku mengobati luka dan lebam di wajah suamiku ini.


Boby mendesis, saat aku mengoleskan obat luka di wajahnya.


"Sakit?" tanyaku padanya.


"Ga, asal nanti malam dikasih!" celetuknya.


aku hanya tersenyum, bagaimana bisa ketika bonyok begini ... masih saja hal seperti itu di pikirannya.


Tak lama Yayan sudah rapi dan kami pun pergi ke taman bermain seperti yang dikatakan oleh Ilham.


Aku dan suamiku duduk menunggu mereka.


Melihat gelak tawa bahagia mereka saja, rasanya hatiku sungguh bahagia tiada terkira.


Setelah puas bermain, kami pun masuk ke sebuah restoran dan makan.


"Sudah malam," gumamku.


"Kita sekeluarga menginap di hotel saja," usul Boby.


"Terserah saja!" jawabku.


Akhirnya, di sinilah kami. Di hotel berkelas. Anak-anak begitu senang saat mengetahui di ruangan yang kami huni ada kolam renang privatenya.


Tak tunggu lama, kedua anakku itu langsung berenang, juga Tri pun tak tinggal. Ayahnya membawa Tri berenang, sedang aku hanya melihat saja.


Malam itu anak-anak begitu senang, ketika berenang ... datang petugas hotel ke ruangan dan menyajikan berbagai macam makanan, bahkan kini maneger hotel dan para karyawan yang mewakili memberi sambutan hangat dan salam pada kami.


Usut punya usut, rupanya hotel ini milik suamiku, Boby Wardoyokusumo.


"Huh, hatiku hampir saja copot." Aku duduk di pinggir kolam renang di samping Boby yang sedang berenang bersama Tri.


Anak bungsuku itu begitu senang diajak berenang.


"Kenapa, Mah?" tanya Boby.


"Semua fasilitas ini, tentu mengeluarkan uang banyak, bukan! Untung saja punyamu!" jawabku.


Boby terkekeh dan kini naik bersama Tri dan duduk di sisi kolam bersamaku.


"Ini adalah hasil usahaku bekerja selama setahun Mamah tinggalkan, ini bukan hasil warisan ayahku ... bukan! Tapi hasil keringatku untuk membahagiakan dirimu." Boby kemudian mengecup pipiku.


Yayan dan Ilham hanya berdehem sembari memalingkan muka, sungguh ... aku malu sekali.


"Anak-anak! Sudah dulu berenangnya, besok kita lanjut lagi! Sekarang waktunya makan dan kemudian tidur, ya!" seru Boby.


Anak-anak pun naik dan gegas mengeringkan badan serta mengganti baju, begitu pun Boby dan Tri.


Setelah makan, anak-anak tertidur pulas dan Boby memindahkan mereka ke kamar tidur.

__ADS_1


Kebetulan ruangan yang kami tempati memiliki tiga kamar tidur.


"Sekarang giliran kita," bisiknya lembut.


__ADS_2