Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Mulai berkunjung.


__ADS_3

Tiga hari kami beradaptasi di rumah baru, sedikit banyaknya anak-anak harus mempersiapkan diri guna kegiatan belajar di tempat baru.


Ilham di sekolahkan di High Scope dan Yayan di Universitas Trisakti, semula aku keberatan ... tetapi Boby meyakinkan jika keduanya akan mampu bersaing.


Mengingat Ilham dan Yayan termasuk anak yang berprestasi.


"Yakin aja sama ayah, Mah! Anak-anak pasti bisa, ayah pengen anak-anak sekolah di tempat terbaik," yakin Boby padaku.


Ditangkupnya wajahku dan kening kami beradu.


"Yakin pada Ayah, ya!"


"Iya," lirihku.


___________


Hari ini hari pertama anak-anak pergi ke sekolah, Yayan diantar orang suruhan Boby yang mengurus semuanya, jika Ilham diantar supir pribadi saja dan ada guru private yang sudah beberapa hari ini ke rumah untuk memberi bimbingan padanya, kini turut menjemputnya ke rumah.


"Come on, Mister Wardoyokusumo!" panggil guru private Ilham.


Wanita yang menyebut namanya Miss Alana itu sudah menunggu Ilham di mobil.


Yayan dan Ilham sudah menyandang nama belakang Boby, karena kami sudah kembali menikah lagi. Kami mengesahkan pernikahan kami di KUA agar terdaftar secara negara.


___________


"Mau ikut ayah, ga?" tanya suamiku kala itu.


"Kemana?"


"Dinda, pasti gadis itu senang melihat Mamah. Semenjak Mamah berhenti, Dinda tak mau dengan suster lain. Kini dia memilih mandiri, hanya sesekali dibantu oleh para pelayan. Dulu kalau ayah ke sana, ayah selalu menemaninya melukis langit. Mau ke sana? Biar ga bosan." Boby memangku Tri yang terus minta digendong sang ayah, anakku itu manja sama seperti ayahnya.


"Tentu saja, Mamah juga kangen sama Dinda, sama Oliv dan ingin berterima kasih pada tuan Atmaja. Mereka itu sosok yang sangat berperan penting dalam hubungan kita," ungkapku panjang lebar.


Tak membuang waktu, kami pun segera bertandang ke rumah mewah tempatku dulu bekerja dan bertemu dengan Boby.


Boby mengemudikan mobilnya pelan, karena Tri selalu ingin berada di dekatnya.


Tak berapa lama, kami sampai.


Aku berjalan pelan ke arah taman.


Seorang gadis duduk di kursi roda sembari melukis langit kesukaannya.


"Langitnya cerah, ya!" bisikku tepat di telinga gadis itu.


Sontak saja Dinda berbalik, hingga tak sadar gadis itu membuang alat lukisnya sembarang demi memelukku.


Boby berdiri tak jauh, di mana pak Atmaja dan Olivia tersenyum melihat interaksiku bersama Dinda.

__ADS_1


"Sus Ganis, Dinda kangen! Huhuhu ...." Gadis itu memelukku sembari menangis.


Aku pun membalas pelukannya, sungguh ... anak ini begitu menyayangiku, inilah alasan aku betah bekerja di rumah pak Atmaja.


"Sus Ganis juga kangen sekali sama Dinda, makanya sekarang ke sini ... pengen temani Dinda melukis langit, gimana?" tukasku lembut.


Kuusap lembut rambutnya yang di kuncir kuda.


Dinda mengangguk pelan, lalu tanganku di genggamnya erat.


"Janji ya, temani Dinda melukis langit." Gadis itu menyeka air matanya kasar.


Aku pun meraih tangannya dan kini tanganku yang menyeka airmatanya yang terus berlinang.


"Selamat datang kembali, Rengganis!" sapa tuan Atmaja, bukan ... pak Atmaja.


Sebab kini aku sudah menikah dengan keponakannya, tak etis bila terus memanggilnya dengan sebutan 'Tuan'.


"Terima kasih sambutannya, Pak !" sahutku.


Kini Boby merangkulku, sedang tangan satunya menggendong Tri yang kini sudah mulai mengantuk kembali.


"Hai, kata Boby kau sudah hamil lagi?" tanya Oliv sembari berbisik padaku.


Mataku terbelalak sempurna pada Oliv, dapat berita bohong begitu kok percaya saja. Toh, aku belum lama kembali bersatu dengan Boby.


"Hoak itu mah, Ayah ini kalau ngebohong ga kepalang, ya!" sungutku.


"Kasih penyemangat donk, soalnya Oliv sudah hamil lagi sekarang," sahut pak Atmaja.


Wanita itu tersipu malu sembari memeluk sang suami, sedang aku tercengang sembari menutup mulutku ... sungguh pasangan satu ini buat aku menggeleng kepala, pasalnya anak mereka saja baru berumur delapan bulan.


"Masa Boby kalah sama saya!" ledek pak Atmaja.


Aku hanya tersenyum dan memangku Tri yang kini mulai ingin menyusu, untung saja jilbabku panjang ... sehingga tiada kesulitan menyusui anak bungsuku meski Boby maju sedikit ke depan menghalangi pandangan orang lain langsung padaku.


Sekitar pukul tiga sore baru kami pulang, sebab pukul empat baru Ilham pulang. Begitu pun Yayan, akan pulang di jam-jam sore.


"Besok ke rumah mamahnya ayah, ya! Di sana juga ada Melani, kakak kandung ayah yang waktu itu mengangkat telepon Mamah, sampai Ayah ditinggal," gerutu suamiku itu, gemas sekali.


"Emang Ayah ga kerja?" tanyaku.


Semenjak kami di Jakarta, Boby belum pernah pergi ke kantor, walau sesekali kulihat dirinya mengecek laporan yang masuk via laptop.


"Nanti saja, begitu semua sudah tepat waktu, toh Ayah ingin Mamah ketemu dengan semua keluarga ayah. Mau, kan? Setelah itu tenang ayahnya masuk kantor," jelasnya.


Aku mengangguk pelan, apa yang tidak dan memang sudah sepatutnya aku bertemu dengan keluarga dari suamiku, adab seorang menantu pada mertuanya.


Harapanku semoga saja kelak tak ada aral melintang hingga mertuaku dapat menerimaku sepenuh hati.

__ADS_1


"Yah, kalau mau ke mamah. Berarti kudu barang bawa dong. Mamah sukanya apa, yang sekiranya bisa Mamah buat gitu ... kue, puding atau apa!" cecarku pada Boby.


Belum juga bertemu hatiku kalut luar biasa.


"Hei, calm down Honey! Ga perlu panik begitu, mamah suka apa aja, soalnya dia pemakan segala," candanya.


Aku terkekeh, " Hus, ga baik ngomong gitu tentang orangtua sendiri!"


Boby pun tertawa, setidaknya tawa kami saat ini membuat hatiku sedikit tenang.


Malamnya aku meminta satu pelayan di dapur membantuku membuat puding juga kue bolu.


"Mah, beli sajalah besok. Yuk tidur!"


Boby menungguku membuat puding dan kue dari jam tujuh malam hingga kini jam sebelas malam.


Dirinya masih setia duduk menungguku.


"Sebentar lagi, Yah! Sana gih tidur duluan, nanti Mamah langsung ke kamar kok," tukasku.


Masih beberapa lagi kue yang akan ku panggang, aku sekalian membuat kue untuk anak-anakku juga.


"Yes, sudah selesai!" gumamku.


Kulirik jam di dinding, menunjukkan sekarang jam dua belas malam.


Aku segera melangkah ke kamar, di mana Boby masih duduk di ranjang menungguku.


"Kenapa belum tidur?" tanyaku padanya.


"Ga bisa tidur kalau Mamah ga ada di sisi ayah." Boby merentangkan tangannya, pertanda ingin aku merangsek ke pelukannya.


Aku tersenyum dan gegas memeluknya.


"Nah, begini baru mau tidur," gumamnya.


______________


Setelah Yayan dan Ilham berangkat sekolah, aku dan Boby mulai bersiap ke rumah ibunya, mertua dan kakak iparku.


Hatiku deg-degan, sungguh tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.


Jantungku berdecak kencang, aku terus menerus meremas jari-jariku.


Sesekali aku mengusap punggung Tri yang tertidur dalam dekapanku.


Tak lama, mobil Boby berhenti tepat di rumah yang tak kalah mewah dan megah dari rumah pak Atmaja, bahkan rumah ini lebih besar menurutku.


"Mari, sayang! Kita bertemu dengan keluargaku."

__ADS_1


Boby tersenyum ketika membuka pintu mobil untukku dan mengulurkan tangannya.


__ADS_2