
"Yah, mamah gugup." Tangan Boby kupegang erat.
Lelaki itu tersenyum dan mengecup pucuk kepalaku yang berbalut jilbab biru laut, warna kesukaannya.
"Mamah ga usah takut, ada ayah kan di samping Mamah. Mereka ga mungkin berkutik, terlebih semua aset dan sumber uang mereka ayah yang handle," yakin Boby.
Aku mengangguk pelan, tak lama para pelayan berjejer rapi menghadap kami.
Seorang pelayan tua maju dan menyapaku, " Selamat datang Nyonya Muda. Saya Miss Mona, kepala pelayan di rumah utama."
Aku tersenyum padanya, Boby meraih tubuh buah hatinya dan aku menggenggam tangannya erat.
"Kuenya?" celetukku.
"Biar para pelayan yang bawa," tukas Boby lembut.
Kami pun berjalan menuju rumah megah itu, yang dikatakan oleh kepala pelayan sebagai rumah utama.
"Assalamualaikum," salamku. Saat kami masuk ke dalam rumah itu.
"Wa'alaikumsalam, " jawab Boby.
"Ayah," bisikku.
Saat itu seorang wanita berumur yang memiliki paras cantik dan mirip seperti Boby berjalan pelan menuruni tangga sembari menatap kami berdua.
"Itu Mamah!" bisik suamiku.
Tak lama menyusul wanita cantik dengan pakaian ketat dan terlalu seksi menurutku berjalan di belakang ibu mertuaku.
"Itu Melani, dia kakak ayah!" bisik Boby lagi.
Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering, berkali-kaliku menelan salivaku sendiri ... tapi tak jua basah rasanya, malah kini lidahku terasa kelu.
"Ya-yah, Mamah takut," bisikku.
Kami masih berdiri, sebab menunggu kedua wanita itu sampai ke lantai bawah, rasanya lama sekali.
"Who is?" tanya wanita muda itu.
Tangannya menunjuk padaku dan melihatku dari atas sampai ke bawah.
"Duduklah, tak kah kau capek berdiri seperti itu dengan wanita dan anak yang kau gendong," ujar mertuaku.
__ADS_1
Aku dan Boby pun melangkah ke arahnya dan dengan lembut kuraih tangan ibu mertuaku itu lalu mencium punggung tangannya, begitu pun pada Melani ... meski awalnya dia menolak.
"Jadi, wanita ini alasan kau menolak anak tuan Gerald dan kau meninggalkan Selena, ckckck! Sejak kapan seleramu rendah seperti ini?" ucap ibu mertuaku yang penuh kata sindiran untukku.
Aku menunduk, penolakkan ini sudah pasti akan terjadi. Aku menghela nafas panjang dan genggaman tangan kami berdua begitu erat.
"Mah!"pekik Boby.
"Apa? Kau datang kemari ingin membuat Mamah jantungan? Tak cukupkah ayahmu tiada karena keras kepalamu memilih wanita ini, sekarang kau sengaja membawanya kemari untuk membuat mamahmu ini tiada juga, ambil pisau Boby, hujamkan ke jantung mamah ... setidaknya rasa sakitnya sebentar. Tak seperti ini, kau sungguh anak yang tak dapat di atur!" bentak ibu mertuaku pada Boby.
Boby berdiri, kini Tri diserahkannya padaku.
Anak dan ibu itu saling maju dan menyerang dengan kata-kata.
Saling membela diri, suara mereka memekik dan melengking, kata-kata kasar dengan segala ucapan merendahkan pun kudengar. Terlebih menurut Ibu mertuaku, suaminya tercinta tiada karena keras kepala Boby yang memilihku daripada menikah dengan wanita pilihan orangtuanya.
Aku menunduk, tak sedikit pun berani mengangkat kepala untuk dapat melihat apa yang terjadi di depanku.
Suara keduanya membuat Tri bangun dan kini menangis, Boby yang mendengar anaknya menangis ... memilih menghampiriku dan meraih Tri ke dekapannya, diusapnya pelan punggung sang buah hati hingga Tri tenang.
"Intinya Boby sudah menjalankan perintah papah, juga sudah menjalankan perusahaan dengan baik dan kini nyatanya perusahaan berkembang pesat, patut Mamah tahu ... papah memberi restu hubungan Boby dan Rengganis, sebelum papah menghembuskan nafas terakhirnya dan hal itu disaksikan paman Atmaja. Boby tak bohong, Boby sudah memilih hati dan jalan hidup sendiri. Yang Boby inginkan hanya restu Mamah untuk pernikahan Boby dan Rengganis. Tadinya Boby kemari ingin memperkenalkan cucu Mamah, anak Boby. Tapi melihat Mamah menanggapi pernikahan Boby ... rasanya tak mungkin Mamah mau menggendong, tidak ... mungkin saja melihat wajahnya pun tak mau! Tak apa Mah, Boby hanya mau bilang, Boby sudah bahagia dengan hidup bersama anak dan istri Boby. Semoga Mamah dan Kak Melan sehat selalu!" ungkap Boby panjang lebar.
"Mah, yuk pulang!" ajak Boby padaku.
"Siapa nama anakmu itu?" pekik mertuaku.
"Trijaya Tegar Wardoyokusumo," ucap Boby.
Suamiku itu berkata tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, dapat kurasakan genggaman tangannya pada tanganku bergetar.
"Mari kita pulang, Mah!" serunya pelan. Suaranya bergetar, menandakan Boby memendam sesuatu.
Aku menatap suamiku lekat, dan mengangguk pelan.
Kami pun kembali ke mobil dan meluncur meninggalkan rumah mewah itu.
Sepanjang jalan kami terdiam, kami membisu.
Bagiku wajar jika seorang ibu tak menerima anaknya membangkang, jika karena diriku ... penyebab ayah mertuaku meninggal, berdosakah aku jika terus berada di sisi lelaki yang kini membangkang pada ibunya sendiri karena membela aku yang menurutnya pantas di sisi seorang Boby Wardoyokusumo.
Kudekap erat buah hati kami berdua yang begitu mirip dirinya itu, tak terasa aku menitikkan airmata karena sungguh ... aku merasa bersalah kali ini.
Memang, aku tak seharusnya bersanding dengan lelaki yang jauh di atas diriku.
__ADS_1
Masih kuingat semua kata ibu mertuaku tadi.
Dirinya menyangsikan diriku karena statusku yang seorang janda, dan aku yang seorang miskin, kampungan dan tak sesuai dengan level mereka.
Hatiku mencelos mengingat kue dan puding yang tadi dibawa, pasti berakhir di tong sampah!
Iya, siapa aku? Sampai-sampai berani berandai mertuaku menerima diri ini dengan suka cita.
"Jangan dipikirkan." Suamiku berkata lembut sembari terus mengemudi.
Matanya fokus menatap jalan, tapi dapatku lihat senyumnya berkembang mencoba menghiburku.
"Ga kok, Yah! Terima kasih sudah mau bersanding dengan mamah, maafkan mamah ya, belum bisa jadi kebanggaan Ayah saat bertemu dengan ibu mertua tadi," ucapku lembut. Ku belai pipinya dan Boby pun mencium tanganku ketika tak sengaja menyentuh bibirnya.
"Seharusnya ayah yang minta maaf, takut-takut perkataan mamahnya ayah menyinggung hati Mamah, tapi ayah yakin ... perlahan-lahan mamah bisa nerima Nyonya Boby ini sebagai menantunya!" sanggah Boby.
Aku tersenyum, sedikit lega mengetahui pasanganku seperti Boby yang menyayangiku tak kira-kira. Kini, dia buktikan ucapannya kala itu.
Begitu sampai di rumah, aku menyuapi Tri makan dan Boby memotong kue yang kubuat semalam, beberapa kubuat untuk anak-anak. Meskipun sederhana tapi mereka begitu suka.
"Mau kopi?" tawarku.
Boby memakan kue buatanku begitu lahap.
"Mau, sama bawa kuenya lagi Mah. Enak," celetuknya.
Aku pun membuatkan kopi untuk suamiku sembari memotong kue kembali.
Jika untuk urusan suami, aku tak pernah meminta pelayan menyiapkannya. Sebisa mungkin semua kebutuhannya kusiapkan sendiri.
Sesekali Boby menyuapi Tri kue buatanku.
Anakku itu sama seperti ayahnya, begitu menyukai kue buatanku.
Hari itu kami habiskan bersama, sedikit pun tak menyinggung perihal tadi pagi.
Disaat tengah bercengkrama, tiba-tiba ponsel Boby berdering.
Lelaki itu menerima telepon dan tiba-tiba wajahnya memucat.
"Ada apa, Yah?" tanyaku penasaran.
"Mah, Ilham ...."
__ADS_1