Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Hinaan Yang Menohok 2.


__ADS_3

Hari-hari berlalu, aku sudah tak pedulikan kata-kata Tuan Darwis tempo hari, utamaku hanya kesembuhan Ilham saja dulu. Sampai-sampai aku lupa akan kondisi anak dalam perutku.


Berkat pengobatan dan semua fasilitas terbaik yang Boby berikan, tak butuh waktu lama untuk Ilham sembuh. Padanya kuingatkan, agar menjauh dari anak-anak yang berusaha jahil padanya.


Kepala sekolah dan jajaran guru pun sudah ke Rumah Sakit menjenguk Ilham serta meminta maaf. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja, tapi lain hal dengan Boby, dia menunjuk-nunjuk muka kepala sekolah dan mewanti-wanti ... jika sekali lagi terjadi hal pada Ilham, maka tak menutup kemungkinan terjadi hal yang akan berakibat fatal bagi pihak sekolah.


Kini Ilham telah pulih dan mulai sekolah lagi.


*****


"Mah, Papah hari ini mulai ngantor ya, gak apa kan?" tanya suamiku, Boby.


Pagi itu dia memelukku di saat aku tengah duduk sembari merias wajah, sedikit polesan bedak dan lipstik merah agar aku tak tampak pucat dan suamiku tak malu punya istri yang lebih tua darinya.


Semenjak penolakan ibu mertuaku dan perkataan Tuan Darwis yang begitu menohok padaku, membuat aku sadar ... jika aku harus bisa mengimbangi suamiku yang masih muda dan miliki performa bagus.


"Ya, Pah. Pergilah ke kantor. Mamah di sini bersama Tri pasti baik-baik saja kok," jawabku.


Dikecupnya pipiku berulang kali, "Entah mengapa, rasanya malas sekali ke kantor!" celetuknya.


"Jangan malas, demi anak kita yang sekarang nambah lagi ini." Tanganku menuntun tangan suamiku mengusap perutku yang kini mulai tampak semakin membesar.


Boby terus mengusap perutku, hingga dering ponselnya membuat Boby berdiri dan mengangkat telepon.


Tak lama kemudian, Boby mengecup bibirku dan bergegas berangkat kerja.


"Mah, ayah akan segera pulang begitu meeting selesai."


Aku hanya melambaikan tangan saat mobilnya mulai menjauh dari pandangan.


Tri yang aktif membuatku kepayahan jika seorang diri, mau tak mau seorang pelayan menjadi babysitter untuk Tri.


Kondisiku yang sedang berbadan dua ini, sering merasa lelah dan tak sanggup mengasuhnya seorang diri.


Saat aku tengah bermain dengan Tri dan juga pengasuhnya, tiba-tiba saja suara seorang wanita menggelagar di ruangan utama.


Sontak saja aku turun ke lantai satu dan menghampiri wanita yang tak lain ibu mertuaku bersama kakak iparku, Melani.


Senyumku mengembang karena bahagia sekali, akhirnya ibu mertuaku sudi datang ke rumah yang selama ini aku dan Boby tempati.

__ADS_1


"Ibu, Kak Melan." Aku mendekat dan hendak meraih tangan keduanya untuk setidaknya berjabat tangan, sayangnya kedua wanita itu menarik tangannya dariku.


Tatapan ibu mertuaku begitu tajam dan begitu remeh padaku.


"Duduk!" bentak ibu mertuaku.


Aku pun hanya menuruti perkataannya.


Matanya menelisik setiap sudut rumahnya yang bisa dia lihat dari tempatnya duduk.


"Boby terlalu memanjakanmu. Dia memberimu hidup mewah dan kau ... apa yang sudah kau beri untuknya? Kudengar baru-baru ini anakmu membuat hal di sekolah. Ckckck, jadi orang miskin ya miskin aja. Kamu jangan terlalu banyak berharap pada anakku." Ibu mertuaku berkata sembari terus menatapku nyalang, aku yang sadar diri hanya bisa menunduk.


"Mah, jangan seperti itu. Kata-kata Mamah sudah keterlaluan," sela Melani.


"Biar saja, biar wanita ini tahu diri. Kau harus tahu, Selena telah kembali dan akan bekerja sama dengan Boby. Intinya kamu jangan membuat Boby urung dan merasa tak enak hingga kerja sama dua perusahaan menjadi terbengkalai. Ingat itu, kalau perlu pulanglah ke kampung. Toh, harta kamu tentu sudah banyak dong dari hasil morotin kekayaan Boby?" hina ibu mertuaku.


Telingaku panas, mataku mengembun sedari tadi dan aku tak berani mengangkat kepalaku untuk sekedar melihat ataupun menyanggah perkataan Ibu mertuaku itu.


"Mah, sudahlah! Bukankah kita kemari karena ingin mengantarkan oleh-oleh bingkisan Selena untuk Boby. Mari pulang," tukas Melan.


Keduanya pun berjalan meninggalkan rumah kami, aku masih mematung di tempat. Tak berani mengantar sampai ke depan, aku takut akan mendapat perkataan yang tak mengenakan lagi dari wanita yang melahirkan Boby, suamiku.


Samar kudengar deru mobil yang menjauh.


Begitu di kamar, tumpahlah airmataku. Hinaan dan kata-kata ibu mertuaku begitu menohok. Kuusap perutku, di mana buah hati aku dan Boby berada.


Kuusap airmataku dan mencoba kuat demi anak-anak, terlebih Boby begitu mencintaiku. Aku yakin itu.


Begitu sore tiba, Ilham pulang dengan wajah yang begitu riang. Ini hari pertamanya kembali bersekolah setelah insiden itu.


Banyak hal diceritakannya padaku, termasuk temannya itu.


"Bu, anqk itu sudah tak sekolah lagi di sana. Kata teman-teman yang lain, ayahnya bangkrut dan mereka menjadi miskin dalam sekejap. Apa benar itu ulah ayah, Bu?" tanya Ilham.


Kuusap kepalanya, "Tak sayang, itulah takdir. Ayah tak mungkin berlaku seperti itu. Ayah Ilham orang baik, benar gak!" jawabku pelan.


"Iya, ayah kan orang baik. Mana mungkin mau usil ke orang lain," imbuh Ilham.


Tri yang sudah mandi, berjalan pelan ke arahku dan Ilham. Ilham lalu bercengkrama dengan Tri.

__ADS_1


Saat itu dari belakang, sepasang tangan kekar memelukku dan sebuah kecupan mendarat di pipi kananku.


"I love you, i miss you," bisiknya.


Segera kuberbalik dan mengecup pipinya, pipi suamiku tercinta.


Ilham dan Tri yang tersadar akan sosok yang memelukku, lalu berhambur meraih ayah mereka.


Jika sudah seperti ini, Boby pun melepaskan pelukannya dan bercengkrama dengan anak-anak.


Aku hanya melihat dan bergegas ke dapur. Melihat apakah makanan sudah siap tersaji di meja ataukah belum.


Bersamaan dengan itu, anak sulungku pulang. Tangannya penuh dengan buku. Tak pernah dilupakannya untuk menyalim tanganku begitu pulang maupun berangkat ke mana saja.


"Bu, Yayan pulang."


Kulihat anakku itu mengucek matanya berkali-kali.


"Kamu kenapa, Yan?" tanyaku.


Kutelisik matanya, merah sebelah.


"Kenapa?" tanyaku.


"Gatal, Bu. Penglihatan Yayan juga sedikit terganggu akhir-akhir ini," keluhnya.


"Besok kita ke dokter mata ya," tukasku.


"Yayan gak mau, Bu! Nanti malah merepotkan ayah, mana lagi tadi pagi ibunya ayah marah-marah kan ke Ibu. Kata-katanya seolah Ibu morotin harta ayah. Yayan gak terima, Bu." Mata anak sulungku itu berkaca-kaca sambil menatapku.


Aku terperanjat, " Ka-kamu tahu? Bukankah tadi Yayan sudah ke Kampus?" tanyaku.


"Tadi Yayan pulang karena ada hari ini jadwalnya berubah agak siangan, Yayan hendak masuk ke rumah ... tapi gak jadi karena mendengar ibu ayah teriak maki-maki Ibu. Maaf, Bu. Yayan tahu Ibu gak ambil harta ayah, tapi Yayan gak berani masuk dan bela Ibu tadi. Maafin Yayan," sesal Yayan.


Prang ...


Terdengar suara gelas yang jatuh dan pecah dibelakangku.


Saat itu, Boby mematung dengan tatapan mata yang sulit kuartikan.

__ADS_1


Di depannya gelas berisi air itu pecah.


"Ibu kemari dan ... memakimu?"


__ADS_2