
Malam itu Boby kembali ke Jakarta dengan hati yang hampa, kembali dengan tangan kosong membuat lelaki itu seolah hilang semangat hidup.
Kesehariannya dihabiskan dengan mengenang sang istri.
Urusan ayah ibu dan perusahaan menjadi hal yang tak terlintas dalam pikirannya sekali pun.
Hanya Ganis, mengenang Ganis adalah cara ampuhnya membunuh waktu yang menyiksa.
Hingga berbulan-bulan kemudian, tuan Dani mengalami komplikasi.
Keadaan itu membuat Boby mau tak mau bangkit dan berdiri tegak menggantikan sang ayah.
"Kau harus selalu menyebut namaku, Ganis! Seperti aku yang selalu menyebut namamu dalam setiap helaian nafasku, setiap detak jantungku, setiap bayang genggaman tanganku ... Kau harus mengingatku dan nanti, aku akan kembali memelukmu," gumam Boby.
****
"Uhuk ... Uhuk ...," sedakku.
Aku tersedak saat tengah mengunyah nasi bungkus yang dibeli Yayan, anak sulungku.
"Ibu kenapa?" tanya Yayan.
"Apa nasi bungkus ini terlalu banyak sambelnya, ya! Padahal Yayan tadi udah bilangin ke mbak yang jualan biar ga pake sambel," jelas Yayan.
Aku yang mendengar perkataan Yayan hanya menggeleng dan mengusap bahunya.
"Ibu ga kenapa-napa kok, cuma pengen minum aja." Aku berkata setelah meneguk sebotol air mineral.
"Apa rumah nenek masih jauh, Bu! Ilham kira rumah nenek di kota," celetuk anak keduaku itu.
"Sebentar lagi sampai kok, kira-kira dua atau tiga jam lagi naik bus antar kota baru kita sampai. Percaya deh," tukasku.
Kusuapi kedua anakku suapan terakhir di bungkusan nasiku itu.
Kupandangi terminal bus yang mulai ramai dengan hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang di sekitar.
Tak terasa, setelah hampir tiga bulan aku tinggal di kontrakan bu Sani demi bersembunyi dari Boby dan tuan Atmaja.
Tadinya aku ingin kembali ke rumahku hanya saja menurut sahabatku itu ada baiknya aku tinggal di kontrakannya di kampung sebelah yang kebetulan kosong.
Benar saja, setelah kepergianku. Ada lelaki yang mengaku sebagai suamiku datang ke kampung dan membuat gempar satu kampung.
Tiga bulan aku menenangkan hati dan perasaanku untuk yakin bahwa rasaku untuk Boby hanya semu belaka, terlebih jika mengingat perkataannya yang gamblang mengatakan cerai.
Begitu juga ketiadaannya selama dua minggu membuatku yakin, aku tak pernah dirinya perlukan, aku hanya angin yang berhembus dikala hujan ... Akan terasa namun hanya sekejap.
Tak ada lagi airmataku untuk Boby, hanya tatapan sendu saat menatap perutku yang semakin besar dari hari ke hari.
Dulu, aku berharap sekali bisa melahirkan di dampingi dirinya tapi sekarang ... hanya angan-angan yang kerap menyiksa rasa di hati.
Yayan dan Ilham tak pernah bertanya perihal lelaki yang kukatakan menjadi ayah sambung mereka, seolah mengerti perasaanku ... Keduanya hanya berkata," yang penting Ibu sama dedek bayi sehat."
Sungguh tamparan untukku, karena sempat mengkhayal hidup bahagia bersama Boby dan tak ada mereka berdua dalam khayalanku itu.
__ADS_1
****
"Bu, itu ada bus! Itu bus ke kampung Ibu, bukan?" Ilham menunjuk pada bus yang datang setelah sekian lama kami menanti.
Aku mengangguk," iya, Nak!"
Kami pun naik ke bus tersebut, duduk bertiga dan kupeluk kedua anakku itu.
"Yayan akan mencari pekerjaan saat kita menetap di kampung Ibu. Ibu jangan bantah, ya! Sekarang giliran Yayan yang kerja dan Ibu di rumah," ucap anak sulungku itu.
Aku tak tahu harus berkata apa, hanya airmataku saja yang mewakili hati ini.
"Ilham juga, Ilham akan bekerja apa saja yang Ilham bisa. Pokoknya kali ini Ibu di rumah, Ilham ga mau Ibu pergi lagi." Bungsuku memeluk dan menangis.
"Kenapa menangis, sayang?" tanyaku.
"Ga, ga apa-apa kok! Ilham kangen bapak, kalau bapak masih ada ... pasti kita ga kayak gini kan, Bu?" kesah Ilham.
Airmataku luruh tiada henti, dalam bus yang melaju pelan kami bertiga saling memeluk dan menangis bersama.
Sesekali kukecup pucuk kepala mereka.
"Terima kasih, anak-anakku!"batinku.
****
Tepat matahari berada di atas kepala, kami sampai ke rumah panggung peninggalan keluargaku.
Rumah yang jauh dari tetangga dan berada tepat di ujung kampung, akses listrik pun tak ada memaksa kami kembali membuat pelita kecil dari kaleng bekas yang ada.
Dalam mimpiku, Boby selalu mengulurkan tangannya yang tak pernah sekali pun aku sambut. Di pelupuk matanya menggenang bulir bening yang siap menetes kapan pun. Enatah mengapa aku kerap bermimpi seperti itu tentangnya.
Aku tak ingin terlalu besar menaruh harapan, seperti besarnya kandunganku.
Bukti benih Boby bersemayam dalam rahimku, yang sebentar lagi akan hadir ke dunia.
Kerap kali kuusap perutku dan dapat kurasakan gerakan-gerakan kecil dari buah hatiku ini.
"Sabar sayang, sebentar lagi kau akan melihat kilauan dunia. Ibu akan menyayangimu, begitu pun bang Yayan dan bang Ilham." Kuusap perutku dan seolah bicara dengan anak yang kukandung.
"Apa kau memikirkan kami berdua? Apa kau pernah menghitung hari di saat anak kita akan lahir ke dunia? Inginkah kau melihatnya dan apakah kau akan bahagia melihat anak kita? Aku takut kau acuh dan tak menginginkan kami hadir disisimu, kami hanya orang tak berpunya sedang kau ...," lirihku di malam itu.
Kupandangi langit, dimana cahaya bulan begitu terang.
"YA Allah, kuatkanlah aku dan anaka-anakku! Tuntunlah dan berikan kemudahan dalam setiap langkah kami." Kupanjatkan doa seiring airmata ini mengalir deras membasahi pipi.
"Apakah kau merindukanku? Seperti kini aku sangat merindukanmu,"
****
Pagi ini aku menahan sakit perut yang hebat, pinggangku serasa patah dan perutku mulai mulas. Yayan dan Ilham kupaksakan kembali masuk sekolah, meski pun hanya sekolah negeri di kampung sebelah.
Jarak yang ditempuh lumayan jauh jika berjalan kaki, kurang lebih satu jam. Hal itu membuat kedua anakku harus berangkat pagi sekali dan pulang sekitar pukul tiga atau empat sore.
__ADS_1
"Bu, Yayan sama Ilham berangkat ya," pamit kedua anakku.
Aku mengangguk dan mencoba senyum pada mereka, walau sebenarnya aku menahan rasa sakit kontraksi yang semakin sering terasa.
Ku antar mereka sampai ke pintu depan, dan begitu kupastikan mereka berangkat gegasku buka ****** ***** dan dapat kulihat bercak darah disana.
Ku atur nafas sebaik mungkin, keringat dingin mulai membasahi wajahku.
Airmataku mengalir saat sedang mengejan dan membayangkan senyum manis Boby yang sangat aku rindukan.
Tak terasa, aku memanggil lirih nama Boby saat tangis bayiku terdengar.
Aku terengah-engah seorang diri, kuciumi wajah bayi mungil itu meski masih berlumur darah, airmataku mengalir saat rasa syukur terucap dari bibir ini karena Allah memudahkan aku melahirkan bahkan tanpa bantuan siapapun.
Tak lama, Yayan dan Ilham kembali ke rumah dengan terengah-engah. Sepertinya kedua anakku itu tak sampai ke sekolahnya dan memutuskan kembali pulang.
"Ibu ...!" teriak keduanya.
Yayan dengan sigap meraih kain panjang dan menutupi bagian bawahku.
"Yan, to-tolong tekan perut ibu sebentar," pintaku lirih.
"Ya, Bu! Tekan yang mana?" tanya sulungku itu pelan.
"Ham, nyalakan tungku dan masaklah air." Yayan memerintahkan Ilham memasak air.
Sedang sulungku itu mulai menekan perutku dan akhirnya aku dapat lega setelah dibarengi mengejan pelan, ari-ari anak yang baru kulahirkan itu keluar.
"Bu, Ilham panggil bidan kampung, ya!" Ucap Ilham
Anak keduaku itu berlari sedang Yayan menemaniku.
Tak lama bidan pun datang bersama Ilham.
"Masyaallah Bu, lahiran sendiri?" tanya bidan itu.
Aku hanya mengangguk pelan.
Yayan dan Ilham ke dapur, sepertinya menyiapkan air hangat sedang aku bersama bidan tengah memeriksa tubuhku.
Tak butuh waktu lama, bidan itu menyeka tubuh bayiku dan juga membantu diri ini mengganti pakaian.
Yayan membantuku pindah ke atas kasur lantai, kemudian anak sulungku itu mengadzani adiknya.
"Seharusnya kau yang mengadzani anak kita, Boby! Harusnya suaramu yang di dengarnya terlebih dahulu." Hatiku menjerit, tangisku pecah saat mencium pipi mungil bayiku itu.
Bagaimana tidak, bayi laki-laki ini begitu mirip sang ayah. Mata, bibir dan dagu lancip Boby begitu terpatri di wajah bayi mungil ini.
"Bu, nama adik siapa?" tanya Yayan kala itu.
"Tri ... Trijaya Tegar Wardoyokusumo, itu namanya." Kukecup lembut pucuk kepala bayi yang kuberi nama Tri.
"Wardoyokusumo?" tanya Yayan.
__ADS_1
"Ya, bagaimanapun dia adalah bagian dari keluarga itu. Setidaknya ibu akan mengatakan padanya kelak, bahwa Tri bukan anak yang tak punya ayah." Tatapan mataku begitu sendu setiap kali memandang bayi Tri.
"Kau- Boby Junior," bisikku.