Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Begini rasanya dirundung rindu ...


__ADS_3

Pagi itu hujan tak jua berhenti turun dari semalam. Seakan menemani Boby yang jua kalut akan rasa pilu yang menggila di hati.


Lelaki itu telah berkemas dan bersiap pergi, ke kampung halaman Ganis sesuai alamat yang diberikan oleh sang paman.


Ketika akan berangkat, ponselnya terus menerus berdering. Tampak panggilan dari sang mamah tercinta.


["Ya, Mah!"]


...


["Ga, Boby ga ke kantor hari ini. Mungkin sampai beberapa hari ke depan, tolong sampaikan pada papah, ya Mah!"]


Tuttt ...


Boby langsung menutup teleponnya, hal itu sengaja dirinya lakukan.


Jika tidak, maka ayahnya akan mengatakan hal-hal yang membuat dirinya tak berkutik.


Boby bertekad akan hidup bersama Ganis, bagaimanapun caranya.


"Tunggu aku," batin Boby.


Lelaki muda dan tampan itu mengendarai kuda besinya menembus hujan yang masih lebat di pagi itu.


Tak dipedulikannya titik hujan yang membasahi badan, dalam pikirannya hanya bisa segera bertemu dengan wanita pemilik paras ayu yang tengah mengandung anaknya itu.


****


Tuan Dani berang, mengetahui sang anak memutuskan panggilan sepihak.


"Apa katanya, Mah?" tanya Tuan Dani.


"Diakhiri panggilannya, Pah sama Boby. Padahal mamah belum selesai bicara. Belum kasih tahu kalau kita mau mengajaknya bicara dengan Atmaja." Sang istri menjelaskan sembari kembali mencoba menelepon sang anak.


Sayangnya semua itu nihil, tak tersambung.


Boby mematikan ponselnya, lelaki itu agaknya paham jika ibu dan ayahnya akan terus menerus mencoba menghubunginya.


"Melani ...," panggil Tuan Dani pada anak sulungnya.


Sang anak pun keluar dari kamar dan langsung menghadap sang ayah.


"Papah sama Mamah kenapa sih? Ini masih pagi lho mana hujan lagi," gerutu Melani.


"Telepon pamanmu, katakan hari ini tak perlu ke kantor papah. Suruh ke rumah saja, sekarang!" Tuan Dani berkata sembari menahan amarah yang membuncah.


Sang istri mendekat dan memeluk suaminya dari belakang sembari berkata,"sudah Pah, tenang ... tak baik marah-marah! Ingat kesehatan Papah, biarkan anak kita menjalani hidupnya masing-masing."


"Tapi ga bisa begitu juga, Mah! Kita berdua saja bisa langgeng sampai tua meski dijodohkan. Lalu apa anak-anak kita harus menikah dengan orang sembarang. Papah ga bisa terima itu," jawab Tuan Dani bersikeras.


Melani yang melihat ayah dan ibunya terus menerus beradu argumen, membuat wanita itu jengah. Tak ingin berlama-lama, akhirnya Melani menelepon sang paman.


["Halo,"]


["Ya, Halo Melan, ada apa menelepon paman pagi-pagi?"]


["Papah! katanya Paman ga perlu ke kantor papah, cukup ke rumah aja."]

__ADS_1


["Ada apa? Apa ini masalah Boby?"]


["Maybe ... Sebaiknya Paman segera kemari saja, Melan pusing lihat sikap papah yang terus menerus marah,"]


["Ok, sebentar lagi Paman ke rumah. Katakan itu pada papahmu,"]


 


Panggilan berakhir, Melani pun mendekat pada sang ayah dan berkata," Melan sudah telepon paman, sebentar lagi juga sampai kok."


Ayah dan ibunya mengangguk.


"Oh iya, Pah ... Mah! Boby sangat mencintai wanita itu, sebaiknya jangan pernah menjodohkan Boby lagi. Melan berkata dari sisi perempuan, ya! Terlebih, wanita itu tengah mengandung anak Boby." Melani akhirnya berlalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang terkejut mendengar penuturan sang anak sulung mereka.


****


Sekitar pukul sepuluh pagi, Tuan Atmaja sampai ke rumah sang kakak kandungnya, Dani Wardoyokusumo.


Tuan Atmaja yang begitu tenang dan bisa mengerti perasaan orang sekitar, berbanding terbalik dengan sang kakak.


Tuan Dani begitu temperamen dan kerap memaksakan kehendaknya pada orang lain.


Begitu mendengar kabar sang anak lelaki penerus satu-satunya telah menikah dan kini akan memiliki anak dari wanita yang tak sederajat dengan keluarganya, membuat sang konglomerat itu berang.


Kabar anak lelakinya itu membuat dirinya melupakan penyakit yang menggerogotinya.


"Kak." Suara tuan Atmaja membuyarkan lamunan ayah Boby tersebut.


Dari kursi rodanya, tuan Dani mempersilahkan sang adik duduk.


"Aku kira kau mengetahui alasannya, Atmaja. Sekarang aku ingin kau berkata jujur mengenai Boby dan wanita itu. Jangan ada dusta, karena aku tahu kau tak pandai berbohong," tuntut tuan Dani.


Atmaja sudah menduga alasan dirinya dipanggil sang kakak. Lelaki itu hanya dapat menghela nafas mendengar penuturan sang kakak.


"Wanita itu bernama Rengganis, dia adalah pengasuh sekaligus pembantu di rumahku dan dia seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Memiliki dua orang anak, bertemu Boby dan tadinya mereka terlihat biasa saja. Hingga Boby diputuskan kekasihnya dihari pernikahanku dengan Olivia di Bali. Anak kakak mabuk dan memperk*sa Rengganis, lalu salahkah aku jika meminta Boby bertanggung jawab atas perbuatannya pada wanita itu hingga wanita itu mengandung anaknya. Haruskah aku diam dan seolah tak peduli pada hal ini? Aku bukan kakak yang selalu mementingkan diri sendiri, seandainya hal itu terjadi pada Melan ... Apa kakak akan tinggal diam saja? Lalu kenapa aku harus berdiam diri. Boby bertanggung jawab dan kini mengerti apa keinginannya yaitu bersama Rengganis. Aku harap kakak tak memaksakan perjodohan antara Boby dan anak tuan Gerald." Tuan Atmaja menjelaskan semuanya pada sang kakak hingga begitu detail.


"Kau keterlaluan, menikahkan anakku dengan pembantu! Seharusnya kau meminta wanita itu menggugurkan kandungannya, kau terlalu murah hati. Dengar, apa pun yang terjadi! Bisnis kita dengan perusahaan Gerald tak boleh terhenti, apa pun akan kulakukan. Termasuk menikahkan Boby, anak gadis tuan Gerald tergila-gila pada Boby," sanggah tuan Dani.


Tuan Atmaja hanya dapat menggelengkan kepalanya, sang kakak terlalu berambisi sehingga rela melakukan apa pun demi harta yang seharusnya lebih dari cukup itu.


"Kak, aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Semua keputusan ada di tangan Boby, dan tugasku sebagai saksi hubungan mereka telah tunai kulakukan pada kakak. Semuanya kukembalikan pada kakak, satu pesanku ... Jagalah kesehatan!" ucap tuan Atmaja pada sang kakak.


"Aku undur diri, harus ke kantor menggantikan Boby sementara waktu dan mengurus pekerjaan lainnya," pamit tuan Atmaja.


Tuan Dani hanya mendengus dari atas kursi rodanya begitu sang adik pamit pulang.


Ibu Boby hanya menyimak pembicaraan kedua kakak adik itu.


"Pah, jangan terlalu dipikirkan. Yuk, minum obat! Siang ini Papah belum minum obat," ucap sang istri.


Tuan Dani mengangguk dan meminum obatnya.


"Bagaimana ini, Mah? Anak kita ...!" lirih tuan Dani.


Sang istri menyeka air di bibir suaminya sembari berkata," tenang, Pah!"


****

__ADS_1


Tepat pukul 17.00 WIB Boby sampai ke kampung Rengganis, berbekal foto di ponsel dan bertanya pada warga sekitar membuat Boby berhasil menemukan rumah kediaman Rengganis.


Rumah bilik dari anyaman bambu dan kini terlihat gelap gulita.


Beberapa warga yang penasaran menanyakan tentang siapa diri Boby, dengan mantapnya lelaki itu berkata bahwa dirinya adalah sang suami Rengganis.


Mendengar kabar adanya lelaki yang mengaku suami Rengganis, membuat pak RT menyambangi rumah Rengganis dimana Boby tengah duduk di teras rumah yang telah kosong itu.


"Assalamualaikum, Den!"


"Wa'alaikumsalam,"


"Perkenalkan saya pak Mudikin, RT di kampung ini," ucap pak RT.


"Maaf, kalau bapak boleh tahu Aden ini siapa dan darimana?" tanya seorang bapak yang mengaku dirinya pak RT.


"Saya Boby, Boby Wardoyokusumo dari Jakarta. Saya kemari mencari istri saya, Rengganis." Boby berkata dengan mantap, sesekali ekor matanya melirik ke arah rumah.


"Jadi nyi Ganis udah nikah lagi ya, sayangnya rumah ini kosong semenjak dirinya ke kota. Anak-anaknya tinggal di rumah nyi Sani. Mari saya antar, Den! Mana tahu nyi Ganis ada di rumah nyi Sani." Pak RT menawarkan diri mengantarkan Boby ke rumah Bu Sani.


Tak lama keduanya sampai ke rumah Bu Sani.


Tampak wanita itu kaget dengan kehadiran pak RT serta lelaki tampan yang mengikuti langkah pak RT ke rumahnya.


Kebetulan Bu Sani saat itu sedang santai di depan rumah.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


"Pak RT, tumben jam segini ke rumah saya. Ada apa ini?" tanya Bu Sani.


Keduanya duduk di kursi yang ada di teras Bu Sani.


"Begini, lelaki ini katanya suaminya nyi Ganis. Apa Ganis udah pulang? Kok saya ga tahu, ya!" jelas pak RT.


Bu Sani memandang lekat lelaki yang katanya suami sang sahabat.


"Wah, saya juga ga tahu. Kemarin aja waktu Ilham sakit terus saya telepon cuma bilang iya-iya doang tapi sampai Ilham keluar dari Rumah Sakit, Ganis ga datang sampai sekarang. Hebat ya, Ganis udah punya suami di kota," kelakar Bu Sani.


"Jadi Ganis ga pulang kampung?" tanya Boby memastikan.


"Iya, kalau pulang pasti udah liatin anaknya, ini sampai Yayan sama Ilham saya masukin ke pondok pesantren aja ibunya ga datang." Wanita itu menatap nyalang pada Boby.


"Mungkin ga pulang ke kampung kali, Den!" celetuk pak RT.


Lelaki itu mengangguk, kemudian pak RT dan Boby pamit pulang.


Bu Sani yang melihat kepergian keduanya hanya menyeringaikan bibirnya.


"Untung aja kepulangan Ganis waktu itu ga ada yang tahu, jadi begitu Ilham keluar dari Rumah Sakit langsung mengisi kontrakanku di kampung sebelah, rasain tuh laki! Udah jauh baru dicari!" gerutu Bu Sani.


Siapa yang menyangka, prediksi bu Sani tepat sekali bahwa akan ada dari pihak lelaki yang mencari Ganis sehingga bu Sani meminta Ganis mengisi rumah kontrakannya di kampung sebelah sebelum dirinya memilih ke Kalimantan nanti.


Boby menatap nanar rumah bilik yang gelap gulita itu, tak terasa airmatanya menetes membasahi pipi.


"Aku harus bagaimana, Ganis? Begitu tak inginkah kau bersamaku lagi? Aku merindukanmu ...," lirih sang suami, Boby.

__ADS_1


__ADS_2