Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
"Maaf,"


__ADS_3

Aku tersenyum dan rasa bahagia berbunga-bunga di hati.


Mendengar suara Boby saja sudah membuatku bahagia, apalagi kalau benar dirinya akan datang kemari?


"Jangan terlalu berharap, Ganis! Kau tak tahu apa maksud dan tujuannya ... ingatkah ketika dirinya menidurimu pun nama wanita lain yang disebutnya!" batinku.


"Benar juga, biarlah semua berjalan sesuai skenario Allah. Apa pun tujuannya ... Allah Maha pembolak balik hati," gumamku seorang diri.


Malam itu aku sungguh gelisah dan tak dapat memejamkan mata barang sedetik pun.


Kulirik jam dinding di depanku, sudah jam 03.00 WIB.


Kuhela nafas panjang, gegasku berwudhu dan mengamparkan sajadah, dalam kegelisahan kumemohon petunjuk dan jalan terbaik untuk hubungan suami istri yang tak tahu kemana ujung pangkalnya ini.


"Ya Allah ... hamba pasrah, ikhlas akan semua ketetapan-Mu."


Dalam doa yang kupanjatkan, mata ini seolah melihat bayang wajah almarhum bang Rusdi samar tersenyum dan berubah menjadi wajah teduh Boby, lelaki yang masih berstatus suamiku kini.


"Bang," lirihku malam itu.


Kembali setelah menunaikan sholat malam, mata ini tak dapat terpejam. Hingga tahrim tiba, aku memilih melantunkan ayat Allah serta bertasbih pada-Nya.


Hingga tak terasa, pagi pun tiba ... sinar matahari menyeruak masuk ke rumah.


Mata ini benar-benar tak mengantuk sama sekali.


"Ya Allah, kenapa dengan diriku?" gumamku.


Pagi-pagi sekali aku sudah membawa Tri mandi ke sungai, entah mengapa aku ingin anakku ini tampil segar pagi ini.


Balitaku ini juga mau-mau saja mandi pagi ini, biasanya banyak drama jika di pagi hari.


"Bu, mau kemana sih, biasanya Ibu sama Tri jam segini belum ke sungai?" tanya Ilham.


Aku hanya tersenyum, entah ... aku pun tak tahu kenapa ingin sekali tampil rapi, apa karena kata-kata Boby semalam ... jika dia akan datang?


Entahlah ....


Sekitar setengah jam kemudian Ilham pun berangkat sekolah, aku dan Tri berdua di rumah.


Gegas aku tutup pintu dan sibuk bersih-bersih rumah.


Tak lama, suara daun pintu di ketuk.


TOK ... TOK ... TOK ....


"Siapa?" teriakku dari dapur.


Hening ....


Aku yang tengah bersih-bersih merasa terusik dengan adanya ketukan pintu yang tak jua mengatakan siapa dirinya.


Gegas kuberanjak ke depan, sedang Tri asyik bermain dengan semua mainannya.


"Sia-"

__ADS_1


Mataku terbelalak sempurna, sedang tanganku masih memegang ganjal pintu yang batu kulepaskan dari ganggang pintu itu.


Ucapanku terjeda ketika kedua manik ku menatap wajah yang selama ini selalu kurindukan, Boby.


Lelaki itu tersenyum sembari melambai padaku, membuat aku tersadar dari lamunanku.


Aku mengerjap berkali-kali, tak percaya ... rasanya ini mimpi.


"Assalamualaikum, istriku!" salamnya.


"Wa-Wa'alaikumsalam," sahutku.


Lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku, layaknya suami yang ingin di salim oleh sang istri.


Aku yang tertegun sesaat segera menyambut tangannya dan ku cium takzim.


Boby tersenyum kembali dan memelukku erat, pucuk kepalaku tak lekang dari kecupannya.


"Jangan begini, malu bila ada yang melihat," ucapku.


Tangan ini berusaha melepaskan pelukannya.


"Tak apa, aku tadi sudah lapor ke perangkat kampung sini. Rumahmu ini saja ditunjuk oleh kepala kampung." Boby meyakinkanku, sehingga kini aku pun balas memeluknya.


"Mamah," Tri yang berbaring di antara mainannya memanggiku.


"Dia ...," lirih Boby.


Aku mengangguk pelan, lelaki itu perlahan mendekat pada Tri yang mulai terpejam.


Bahkan kini Boby mulai berbaring dan memeluk Tri.


Boby menoleh padaku dan melambai, seolah memanggilku untuk mendekat padanya.


Aku pun melangkah mendekat padanya dan kemudian duduk di antara kedua lelaki yang memiliki paras sama hanya beda usia itu.


"Terima kasih," ucapnya pelan.


Aku hanya mengulas senyum, entah harus bagaimana aku menanggapinya.


Boby bangkit dan menyeka airmata yang masih menetes di pipiku.


"Aku sudah di sini, kau jangan pergi lagi dariku, ya!" ucapnya.


Kini netra kami beradu ... Boby mendekat namun aku segera berpaling dan beranjak ke dapur, melanjutkan beres-beresku tadi.


Boby mengekoriku, kini dipeluknya aku dari belakang.


"Aku merindukanmu dan kita masih suami istri yang sah di mata Allah," bisiknya.


Aku tak dapat berkutik, tubuhku membeku.


"Aku ingin," bisiknya lagi.


Kini tengkukku dapat merasakan hembusan nafasnya.

__ADS_1


Aku berbalik dan kini dapat kulihat lelaki yang selama ini kurindukan itu menangis dalam diam.


Airmatanya mengalir membasahi pipi.


"Kenapa?" tanyaku.


Tangan ini gemetar saat menyeka airmatanya, dan oleh Boby diraihnya jemariku ... dikecupnya berkali-kali.


"Maafkan aku, aku terlalu bodoh melepaskan wanita sepertimu. Dengar, tak pernah ada wanita lain di hatiku selain Rengganis. Itu kau ... perihalku yang pergi lama itu, aku sedang keluar kota menjalankan bisnis papahku. Bukan sengaja ingin jauh darimu dan yang mengangkat teleponmu itu, kakak kandungku ... Melani, kembalilah padaku, Ganis! Aku tak bisa hidup tanpamu ... terlalu lama aku dikungkung rindu, rasanya sama saja aku hidup dalam kesunyian, maafkan semua kesalahanku, Ganis ... kumohon," lirih suamiku, Boby.


Aku terisak mendengar semua perkataan Boby, aku hanya dapat mengangguk pelan sembari memeluk tubuh kekar yang kini berguncang karena menangis, kami berdua sama-sama menderita rindu.


"Aku merindukanmu, Boby! Aku sangat-Sangat merindukanmu, tetapi semua yang terjadi dan perkataanmu malam itu membuatku takut ... takut sekali kau meninggalkanku, kau menceraikanku. Aku tak sanggup ...." ungkapku pelan.


Boby menangkup wajahku dan kini kami saling berpagut lama sekali, seolah menyampaikan rasa di hati yang menahan rindu setengah mati.


Saking lamanya kami berpagut, aku dan Boby tak sadar Ilham sudah pulang sekolah.


"Ibu," panggil anak keduaku.


Kadung saja aku dan Boby salah tingkah, sedang Ilham menatap tajam pada sosok lelaki yang baru dirinya lihat itu.


Anakku itu gegas berhambur dalam pelukanku sedang matanya menatap nyalang pada Boby yang berdiri di depanku.


"Ibu,"


"Ya, nak!"sahutku.


"Hai," sapa Boby pada Ilham.


"Siapa kamu?" tanya anakku itu.


"Kita duduk dulu ya," selaku.


Tak ingin Ilham salah paham, dan lagi umurnya sudah bisa membedakan dan mengertikan sesuatu.


Kini kami duduk bersila di dekat Tri yang tertidur di antara mainannya.


Ilham masih memelukku, seolah tak rela ibunya dekat dengan lelaki asing di depannya itu.


"Ilham sudah pulang?" tanyaku.


"Iya, Bu! Hari ini gurunya sakit, jadi cuma disuruh kerjakan tugas di buku paket saja. Jadi Ilham pulang lagi," jelas Ilham.


"Siapa dia?"tanya Ilham kemudian.


"Dia papa sambungmu, papanya Tri namanya papa Boby," ujarku pelan.


"Papa Tri, yang sudah buat Ibu menangis setiap malam itu. Kenapa ke sini Om? Ibu sudah bahagia sama kami, anaknya! Om sana gih, pulang lagi!" Ilham berdiri sembari menangis dan mengusir Boby.


Aku terkejut dengan tanggapan dari Ilham, anak yang selalu menurut pada kata-kataku selama ini. Kini meluapkan emosinya dan berani berbicara tak sopan pada orang dewasa.


"Nak, dengarkan ibu dulu." Kutarik tangan Ilham dan kupeluk anakku itu.


"Om ini kan yang buat Ibu menangis melulu, dia kan yang jahatin Ibu di kota. Jadi buat apa om itu di sini, Bu!" pekik Ilham.

__ADS_1


Boby tergugu, lelaki itu menunduk.


"Maaf," lirihnya.


__ADS_2