
Pagi ini aku terbangun, dengan lelaki yang tertidur pulas memelukku.
Begitu kulihat jam di dinding, sudah pukul lima rupanya.
Gegas kubangunkan imamku ini, membawanya mandi ke sungai atau mandi air bak penampungan hujan, karena semalaman hujan semoga saja baknya penuh.
"Boby, bangun!" bisikku perlahan di telinganya.
Boby menggeliat dan menciumku kemudian bertanya," jam berapa ini?"
"Lima, ayo kita mandi dan sholat berjamaah!" ajakku.
Lelaki itu pun bangun meski masih susah membuka mata.
"Mandi di mana?"
"Di situ," tunjukku.
"Brrr, dingin! Tapi ga apa kalau mandi berdua," godanya.
Aku hanya tersenyum dan kami pun segera mandi dan selepas bersuci, ku bangunkan Ilham guna sholat berjamaah.
Tak begitu susah membangunkan Ilham, anakku ini sudah biasa bangun subuh ... menjalankan perintah Allah dan selalu diakhiri dengan membaca Alquran.
***
"Nanti jadi, kan Yah?" tanya Ilham pada Boby.
Boby yang sedang memangku Tri, terperanjat mendengar Ilham memanggilnya dengan kata 'Ayah'.
"Hah, iya ... apa?" tanya Boby memastikan.
Ilham yang siap berangkat sekolah itu pun kini kembali ke dalam rumah dan berdiri di depan Boby.
"Katanya mau jalan ke kota? Mandi bola!"
"Oh, iya! Tentu saja sayang, jadi kok! Ini hari Sabtu kan, kita berangkat setelah Ilham pulang sekolah, ya!" jawab Boby.
Tangan lelaki itu kemudian mengusap kepala Ilham lembut, penuh kasih sayang.
"Mau diantar ayah, mumpung mobil belum diambil yang punya," tawar Boby pada Ilham.
__ADS_1
Bujangku itu mengangguk dan terbersit senyum manis di wajahnya.
"Let's go!" ucap Boby.
Lelaki tampan itu tetap menggendong Tri dan kemudian mobil sewaan itu melaju pelan.
Aku tersenyum melihat keseruan mereka, kulambaikan tangan pada mereka, Ilham tak kalah heboh di dalam mobil.
Mumpung lelaki itu tak ada di rumah,aku pun berdandan dengan memoles tipis bedak juga lipstik yang dibelinya kemarin.
Aku tak ingin dirinya melihatku begitu kusam, sedikit harapanku masih ada cinta dalam hatinya untukku, meski sering dirinya mengatakan aku begitu berarti dalam hidupnya ...tapi rasa takut itu masih ada, aku hanya orang miskin seolah tetap tak sepadan dengannya.
"Sedang apa Mah?"
Aku terkejut dengan suara itu, aku pun berbalik ke arah suara.
Rupanya Boby yang sedang menggendong Tri dan tengah memperhatikanku.
Jujur, aku terhenyak mendengar panggilan baru darinya ... 'Mamah' bukankah dia selalu memanggilku dengan 'Kamu atau Ganis'?
Tri tertidur dalam dekapannya," tolongin dong."
Aku bergegas meraih tubuh si kecil dan merebahkannya di kasur.
"Gitu dong, pake lipstik dan bedak yang ayah beli kemarin, biar kata bukan barang mahal ... nanti kita beli yang berkualitas bagus di mall aja ya, Mamah cocoknya pake produk apa?" tukas Boby.
Aku mematung sebab suamiku ini memelukku dari belakang, terlebih panggilan darinya baik kata 'Mah' ataupun 'Ayah' itu terdengar begitu merdu di telingaku.
Dibaliknya tubuhku, kemudian netra kami beradu. Senyumnya begitu manis ketika menatapku.
"Apa ini mimpi?" tanyaku pelan.
"Tak, ini nyata! Kita berdua nyata berada di sini, aku siap sampai kapan pun ada di sini asal bersamamu dan anak-anak," jawabnya.
Aku memeluknya erat, sungguh ... aku tak ingin berakhir!
"Nanti siang kita ke kota, sekalian belanja dan bermain bersama anak-anak! Apa boleh ayah bertemu dengan Yayan?" tanya suamiku ini.
"Tentu, dan aku ...." Ucapanku terjeda.
"Mamah, biasakan itu!" kata Boby.
__ADS_1
Aku mengangguk."Iya, ada baiknya bertemu dengan Yayan dan berbicara perlahan tentang kita padanya. Jujur, akan serasa sulit!"
"Kenapa?" tanya Boby, suamiku.
Aku menghela nafas, kemudian mendekat pada Tri yang tertidur telentang, pose anak seumurannya.
"Yayan, anak itu menemani dan menguatkanku disaat rasanya aku sudah tak sanggup melalui hari, dia yang menyeka airmata kala kumenangis, bahkan dia yang membantu aku melahirkan Tri seorang diri di rumah ini. Yayan juga yang mengadzani Tri, tanganku yang pucat ini pun saat itu dirinya mohon aku bertahan untuk dirinya dan kedua adiknya ini. Padahal, aku berharap kau yang mengatakan itu semua. Aku berharap kau yang menggenggam erat tanganku dan memberi semangat padaku. Tapi, siapa aku? Aku hanya pembantu yang tak sengaja kau sentuh hingga hamil anak yang tak pernah kau inginkan, bahkan disaat aku mengandung anakmu ... kau sudah menyiapkan perceraian denganku. Jika kau jadi aku, apakah akan bertahan? Maka sampai saat ini, hatiku masih gamang dengan cinta dan sentuhan yang kau berikan padaku. Apa benar kau mencintaiku, menginginkanku menjadi pendampingmu ... sementara aku hanya orang kampung, miskin dan tak memiliki apa-apa!" cecarku panjang lebar.
Airmataku luruh dan kini berjatuhan tepat di atas gamis yang baru saja kukenakan. Jangan tanya lagi di pipiku ... mungkin saja bedak yang kupoleskan tadi sudah luntur semua.
Lelaki itu tertegun sejenak, matanya menatapku sayu.
Sesaat kemudian melangkah pelan ke arahku dan bersimpuh di kakiku ini.
"Jangan seperti ini," kataku.
Kuangkat bahunya, minta dirinya bangkit.
"Maaf," lirihnya pelan.
Boby menunduk, airmatanya pun tak kalah berlinang hingga suara tangisnya tercekat di tenggorokan, begitukah lelaki menangis?
"Maafkan kebodohanku di masa lalu, tapi kini aku benar-benar butuh kamu, ingin menghabiskan hari dan waktu bersamamu dan anak-anak, aku ingin menceraikanmu waktu itu ...karena kupikir kau akan merasa terbebani bersamaku, tahunya aku yang terbebani tanpamu. Aku rela melakukan apapun asal kita bersama kembali. Aku tak bisa hidup tanpamu lagi, Ganis! Kau belahan jiwaku, makanya aku akan berusaha meyakinkan Yayan agar sudi menerimaku, dan aku akan melakukan apa pun yang terbaik untuk kalian. Mulai saat ini, aku akan selalu ada di sisimu, takkan pernah pergi meninggalkanmu kecuali kematian yang memisahkan!" ungkap Boby sungguh-sungguh.
Aku dapat melihat kesungguhan di matanya, sesaat aku menyesal ... menumpahkan kekesalan di masa lalu padanya kini, meski sudah berulang kali dirinya mengatakan akan selalu bersamaku.
Hanya saja, hati ini begitu sensitif jika mengenang kesendirianku saat melahirkan dan membesarkan anak tanpanya.
"Maafkan Mamah, Yah! Terbawa suasana hingga tak terasa meluapkan semua perasaan yang ada," tukasku.
Tangan Boby bergetar saat menangkup wajahku, lelaki itu menangis dan mengecup bibirku lama sekali.
"Maafkan ayah, tapi untuk ke depannya, akan selalu menjadi ayah yang sigap dan selalu ada untuk kalian. Ayah janji," ucapnya lirih.
Saat itu kami berdua menangis dan terhanyut akan perasaan cinta, hingga tak terasa mengulang semua percintaan kami semalam.
Berulang kali dirinya mengatakan mencintaiku dan akan selalu ada.
Pagi itu, menjadi pagi yang syahdu bagi kami berdua.
"Ayah janji akan selalu ada untuk kalian, terutama ... Mamah Ganis tercinta." Suamiku itu mengecup kening dan bibirku lama sekali.
__ADS_1
Hingga ... "Assalamualaikum!"