Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
7. Menjadi Nyonya Boby Wardoyokusumo


__ADS_3

"Ganis!"


Samar kulihat, bayang Boby yang lari ke arahku.


Sebelum semuanya gelap ....


****


Perlahan kubuka mata ini, kepalaku terasa pusing sekali.


"Kau sudah sadar," lirih Oliv.


Wanita cantik itu duduk di sisi ranjangku, tangannya memijit keningku.


Tak hanya Oliv, Dinda berbaring sembari memelukku.


Gadis ini menangis, kuusap kepalanya.


Di kamarku juga ada tuan Atmaja dan Boby yang berdiri di ujung ranjang, bersama seorang petugas kesehatan. Aku menebaknya seperti itu karena ada stetoskop yang menggantung di lehernya.


Tatapan mata tuan Atmaja begitu tajam, membuatku seolah pesakitan yang akan diadili.


"Saya permisi dulu," pamit petugas kesehatan itu.


Tuan Atmaja mendekatiku dan menarik kerah baju Boby, baru kusadari wajah Boby lebam.


"Katakan! Apa kau mengandung anak Boby?" tanya Tuan Atmaja.


Lidahku kelu, ternyata mereka sudah mengetahui kehamilanku, dan sepertinya Boby sudah mengakui perbuatannya pada tuan Atmaja.


Aku hanya mengangguk pelan.


Boby kembali mendapat bogem mentah dari tuan Atmaja.


Tendangan, pukulan serta umpatan dari tuan Atmaja tak ada satu pun yang dielak oleh Boby.


Lelaki itu seolah pasrah menerima semua yang tuan Atmaja lakukan.


"Aku malu padamu, aku memberikanmu pekerjaan agar kau bisa mandiri. Tak mengandalkan ayahmu,aku ingin kau menjadi lelaki yang sukses. Aku malu mengakui kau keponakanku. Apa yang akan kukatakan pada anak-anak wanita itu, apa yang harus kukatakan pada ayahmu ..., kakakku! Bejatnya kau memperkosanya, aku tak ingin tahu! Kau harus tanggung jawab, nikahi Rengganis." Tuan Atmaja memaki Boby, tangan dan kakinya pun tak tinggal diam.


Aku hanya dapat menangis, entah karena melihat Boby yang terus dihajar ataukah nasibku yang gamang dari semua yang telah kurencanakan. Yaitu bekerja hingga anak-anakku sukses.


Oliv dan Dinda, keduanya memelukku erat.


Dalam pelukan mereka tangisku semakin menjadi.


****


Sore itu juga, seorang ustad datang dan menikahkan aku dan Boby.


Pengantin yang aneh, mataku sembab dan Boby dengan wajah bonyok. Bahkan mata sebelah kirinya bengkak.


"Sementara ini kalian menikah siri dulu, jika anak ini sudah lahir segeralah menikah kembali. Kita tak tahu jodoh, bukan! Semoga sakinah," ucap tuan Atmaja.


Oliv tersenyum sembari memelukku, begitu pun para pekerja yang lain.


Ucapan selamat mereka semua berikan, tak lupa mendoakan kami menjadi keluarga yang bahagia.


Apakah mungkin, bahagia?


Setelah akad nikah, Boby menghempaskan tubuhnya di ranjangku. Lelaki itu bukannya masuk ke kamarnya sendiri, malah berbaring di ranjangku.


Aku mematung begitu melihat lelaki itu dengan santainya merokok sembari duduk menyandar di ranjang.


Asap rokoknya memenuhi kamar, mau tak mau aku membuka jendela meski sudah malam.


"Kenapa tak ke kamarmu sendiri?" protesku.


"Kenapa? Bukankah kita sudah menikah, lalu buat apa aku tidur seorang diri. Bukankah ada kau yang bersedia menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang tak sadarkan diri karena mabuk." Boby menyeringai padaku, kata-katanya begitu menusuk hati.


Secara tak langsung, dirinya menuduhku mengambil kesempatan saat dirinya tak sadarkan diri.


"A-apa katamu?" tanyaku.


"Kau menyukaiku, kan? Jadi kau ingin merasakan malam panjang denganku. ******!" umpatnya.

__ADS_1


Hatiku panas, emosiku memuncak.


Airmataku luruh dimalam pernikahan kami.


PLAK ...!


Satu tamparan kuhadiahkan ke pipinya.


"Sampai hati kamu menghina aku seperti itu, aku tak pernah menginginkan hal ini. Kau mabuk dan memencet bel berulang kali malam itu, kubuka pintu dan kau masuk ... Kau mabuk dan memanggilku Selena, lalu kenapa aku menggodamu? Kenapa aku melawan jika aku yang menginginkan hal itu, tega sekali kau menghinaku seperti itu." Cecarku panjang lebar.


Boby terdiam, dirinya hanya menatap mataku seolah mencari celah dusta dalam mataku.


Aku tak gentar, hingga kami beradu pandang. Meski airmataku tak henti menetes.


Boby menggusar rambutnya dan memilih pergi, malam itu dirinya tak kembali ke kamarku. Mungkin saja kembali ke kamarnya.


Tepat pukul 04.00, aku mandi dan segera menghamparkan sajadah dan mencurahkan segala kegalauanku pada pemilik raga dan nyawa ini.


Tak kuasa kumenahan tangis, saat mengingat wajah anak-anakku. Tujuanku kemari untuk masa depan yang cerah bersama anak-anak, tetapi kenapa yang terjadi malah seperti ini.


Selesai sholat kembali perutku rasanya diaduk-aduk, rasa mual ini kembali menyerangku dipagi buta.


Gegas kubuka mukena dan beranjak ke kamar mandi.


Rasa mual ini membuatku lemas, aku sampai luruh di lantai.


Wajahku begitu pucat, dapatku lihat pantulan wajahku di cermin besar dalam kamar mandi ini.


Ekor mataku menangkap sosok lelaki yang menghalalkanku semalam, tengah menatap nanar padaku.


Entah apa lagi drama yang akan dirinya lancarkan di pagi ini, gegasku basuh wajah dan mulutku.


"Kau muntah," ucapnya.


Aku tak menanggapi perkataannya, rasanya muak baru sehari saja menjadi istrinya. Dengan semua kata-katanya semalam, membuatku tak ingin dekat dengannya.


Rasa pusing kembali mendera, tak ingin dirinya mengetahui apa yang kurasa. Gegasku duduk di pinggir ranjang yang berseberangan dengannya.


Aku meringis, tapi kembali perutku rasanya diaduk-aduk lagi.


Jalanku limbung, dapatku rasa sepasang tangan kokoh memapahku ke kamar mandi dan kembali aku memuntahkan air saja, tak ada yang keluar.


Boby memijit tengkuk leherku, entah sejak kapan di tangannya ada minyak kayu putih. Dibalurnya tengkukku dengan minyak itu, sedikit hangat.


Kubasuh kembali mulutku, aku yang lemas hanya dapat pasrah saat dirinya membalikkan tubuhku dan membalur leher dan keningku dengan minyak kayu putih itu.


Aku pun pasrah saat dirinya memapah diri ini ke ranjang, aku langsung berbaring lagi.


"Kepalaku pusing," lirihku.


"Tenanglah, aku akan membalurkan minyak kayu putih dulu, Setelah itu akan kuambil makanan untukmu," sahutnya.


Aku hanya mengangguk, seketika hatiku ragu.


Kenapa pagi ini sikapnya kembali lembut dan perhatian padaku, apakah ini hanya sekedar rasa simpati saja?


Disingkapkannya daster yang kukenakan, tanganku menahan pergerakkannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.


Mataku terbelalak sempurna tak ingin dirinya sampai melakukan hal itu kembali, meski jika dirinya lakukan pun aku berdosa bila menolak.


"Aku hanya akan membalurkan minyak ini ke perut dan dadamu saja. Tak lebih!" pungkasnya.


Aku tak dapat mengelak jika begitu, kupalingkan wajahku saat dirinya menyingkapkan dasterku sampai ke atas.


Aku yang hanya menggunakan dalaman merasa malu, sedang Boby sepertinya sengaja berlama-lama membalurkan minyak itu ke tubuhku.


"Sudah," desahku.


Tangan ini berusaha menurunkan daster yang tersingkap, sedang tangan Boby berkutat di sekitar dadaku.


"Aku ingin," bisiknya.


Aku hanya bisa menatap mata itu, entah apa yang harus kukatakan saat Boby menuntut haknya.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangguk pelan, namun setelah itu dirinya memukul dinding kamar.


Bukannya melakukan apa yang dirinya bisikkan padaku.


Sadar jika lelaki itu sedang emosi, membuatku menarik diri dari ranjang dan duduk menjauh.


Ku benarkan dasterku, rasa malu membuatku tak berani mengangkat wajahku memandang suamiku itu.


"Sudahku duga, kau memang menggodaku malam itu. Kenapa kau melakukannya, aku memiliki kekasih ... Aku mencintainya dan aku berjanji akan menikahinya! Kenapa kau tak bunuh diri ini saja, aku tak bisa mencintaimu!"jerit lelaki itu.


Boby menyudutkanku, dirinya menangis ... Lelaki itu menangisi jalan hidup yang dirinya tak inginkan, yaitu menikahiku.


Airmataku luruh," kenapa kau menyalahkanku, aku pun tak ingin seperti ini. Kenapa aku yang salah? Apa karena aku orang tak berpunya, sehingga selalu dianggap rendah dan tak punya harga diri!" Kali ini aku keluarkan semua uneg-unegku padanya.


"Baiklah, aku akan menunggu anak ini lahir. Setelah itu aku ingin kita menjadi orang asing, selama kau masih menjadi istriku. Aku akan menafkahi anak-anakmu dan kau tak boleh pergi dariku sampai anak ini lahir, setelah itu terserah. Hari ini kau berhenti bekerja, aku yang akan menghadap paman. Kau sarapanlah dulu, setelah itu bereskan pakaianmu. Kita pindah dari sini," terang Boby panjang lebar.


Aku hanya memilih berbaring saja, dirinya keluar kamar dan tak lama kembali dengan membawa makanan.


Kemudian pergi lagi, entah kemana.


*****


Kini, aku berkemas dan dibantu Boby sehingga tak lama kami sudah pamit kepada semua rekan kerja dan tentu Oliv serta tuan Atmaja, yang baru kuketahui beliau adalah paman Boby.


Sedang Dinda merengek ingin ikut denganku, tuan Atmaja berjanji Dinda boleh mengunjungiku tiga kali dalam seminggu barulah sang gadis tak merengek lagi.


"Kau akan memboyong Rengganis kemana? Ke rumah orangtuamu, apartemenmu atau kemana?" tanya tuan Atmaja.


"Aku akan tinggal di rumah nenek," jawab Boby.


"Ok, dekat dengan rumah paman. Jadi kamu bisa pulang pergi, istrimu sedang hamil muda. Harus selalu ada untuknya." Tuan Atmaja tersenyum sembari memeluk Boby.


****


Sepanjang jalan kami hanya membisu, tak ada yang bicara.


Sekitar dua puluh menit, akhirnya kami sampai ke rumah sederhana yang cukup luas.


Rumah ini terawat meski tak ada yang mengisi, rumah satu lantai dengan satu kamar. Bagiku rumah ini sudah sangat besar.


"Bagaimana?" tanya Boby.


Aku membisu, lekas kususun pakaian baik punyanya maupun punyaku.


"Aku lapar," ucapnya.


Aku kembali membisu, hatiku takut terluka setiap kali berbicara dengannya.


Tiba-tiba saja, dari belakang di tariknya jilbabku hingga tergerailah rambutku yang panjang.


Di ciumnya tengkuk leherku, dapatku rasakan hembusan nafasnya.


Sedang tangannya meremas dadaku, membuatku menyandarkan kepala di dadanya.


Dibaliknya tubuhku menghadap dirinya dan di jambaknya rambutku," dasar ****** murahan."


Aku terhuyung luruh di lantai, sedang dirinya keluar dari kamar.


Aku menangis tersedu-sedu, tanganku meremas ujung bajuku sendiri. Hatiku sakit diperlakukan seperti itu belum lagi kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.


Malam itu aku tertidur di lantai, setelah semua perlakuan dan hinaannya padaku membuat diri ini rasanya ingin menyusul bang Rusdi saja.


Anehnya ketika pagi, aku terbangun di atas kasur empuk bersama dirinya.


Tangannya memeluk perutku, sedang matanya berair seolah tertidur sembari menangis.


"Apa aku merupakan suatu penyesalan dalam hidupmu?" batinku.


Baru saja aku terbangun, rasa mual mulai mendera.


Membuatku segera beranjak ke kamar mandi, dan semua kembali terjadi lagi. Mual dan muntah air saja hingga wajahku pucat pasi.


Kembali kurasakan tangannya memijit tengkukku.


Segera kutepis tangannya," aku tak butuh bantuanmu."

__ADS_1


__ADS_2