
"Ganis, Paman! Istriku kemana?" tanya Boby.
"Kenapa kau bertanya pada paman? Kau suaminya! Seharusnya kau tahu," jawab tuan Atmaja, sang paman.
Melani yang membuntuti sang adik hanya mematung menyaksikan semuanya.
Tuan Atmaja terlihat mencoba menghubungi beberapa nomor, termasuk nomor Bu Sani.
"Kata penyalurnya Ganis tak ada di kampungnya, sedangkan salah satu anaknya masuk Rumah Sakit. Kemana Ganis? Sebenarnya ada apa diantara kalian? Apa jangan-jangan kau sudah mengatakan sesuatu yang membuatnya marah, ataukah kau sudah mengatakan perihal bercerai dengannya. Dasar pecund*ng!" Pak Atmaja menarik kerah baju Boby, lelaki itu menahan amarah.
Boby terdiam, seketika tatapan mata Boby kosong setelah mendengar perkataan sang paman. Sebab semua yang pamannya katakan itu benar adanya.
Seakan tak bertulang, Boby luruh ke lantai.
Lelaki itu pun tak mengerti dengan apa yang sedang dirinya rasakan.
Apakah rasa cinta yang mulai tumbuh ataukah nafsu belaka?
Jangan tanya perihal rasa tanggung jawabnya, dirinya bahkan berniat membesarkan anak itu sebab dirinya akan membiarkan Ganis bahagia dengan caranya sendiri.
Kini baru dirinya sadari, keputusan untuk menceraikan Ganis seakan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Nyata, malam itu Ganis marah besar. Wanita itu tak menerima pilihan yang diajukan Boby.
Niat hati ingin membuat Ganis semakin lengket dengannya setelah dua minggu berpisah, malah dirinya yang menanggung malang tak bertepi.
Boby bersimpuh begitu berada di rumah Omah- nya, tempat dimana dirinya dan Ganis berteduh dan menjalani rumah tangga yang sedikit aneh baginya.
__ADS_1
Rengganis ...
Wanita yang jauh dari kata tipe ideal hati Boby.
Bahkan status jandanya sedikit mengusik harga dirinya.
Bagaimana tidak, sang casanova malah berakhir di tubuh janda kampung beranak dua.
Boby mengutuk perbuatannya sendiri yang telah menggagahi Ganis secara brutal malam itu.
Sempat dirinya menyalahkan Ganis, tapi ketika dirinya pikir-pikir dan ingat kembali. Dirinyalah yang salah dalam hal ini.
Kini, penyesalan merambat perlahan di hati Boby.
Menyadari bahwa dirinya membutuhkan dan mencintai sang istri.
Melani yang menyaksikan sang adik hancur, menjadi tertantang untuk mencari tahu siapa itu Rengganis.
Malam itu dirinya kembali ke rumah dan meninggalkan sang adik seorang diri di rumah omah mereka.
****
Malam itu, ayah Boby yang duduk di kursi roda tengah berada di ruang tengah rumah megah mereka, seolah menanti kepulangan sang anak.
Sayangnya hanya Melani yang kembali dan Boby tak menampakkan batang hidungnya.
"Dimana Boby?" tanya sang ayah.
__ADS_1
"Di rumah omah," jawab Melani.
"Apa benar adikmu telah menikah?" tanya tuan Dani.
"Melani ga tahu hal itu, Pa! Coba papa tanya ke paman. Menurut Melani, paman tahu semuanya," ungkap kakak Boby tersebut.
Setelah berkata seperti itu pada sang ayah, Melani langsung masuk ke kamarnya.
Tuan Dani memandang lekat pada istrinya, seolah mencari dukungan.
"Bagaimana, Mah?" tanya tuan Dani.
"Ada baiknya kita meminta Atmaja menjelaskannya, mungkin kita bisa menarik kesimpulan yang baik nantinya untuk Boby," kata sang istri.
Tuan Dani mengangguk pelan.
"Besok kita ke rumah Atmaja," ucapnya.
"Bagaimanapun Boby harus menikahi anak tuan Gerald, kita sudah sepakat, kan! Ini juga demi kerja sama baik antar kedua perusahaan," ucap tuan Dani.
*****
Boby mencoba bangkit, dan kini lelaki itu mulai menenangkan hati.
"Aku harus menyusulnya ke kampung," ucap Boby.
Lelaki itu pun merebahkan diri di ranjang, di susahnya bantal yang kerap digunakan oleh sang istri, Rengganis.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa menyiksaku seperti ini. Teganya kau! Seharusnya kau marah dan menamparku seperti setiap kali kau marah. Tak perlu pergi, kau harus kembali! Aku tak dapat hidup tanpamu." Suara lelaki yang bermonolog itu bergetar, lelaki itu menangis tersedu-sedu.