
Boby mendekat dan melihat ke arah kami berdua secara bergantian.
"Kamu kenapa, Nak? Besok kita harus ke dokter mata, jangan ada penolakan. Ayah tak terima itu!" seru Boby.
Tangannya mengusap kepala Yayan, anakku itu seolah mengerti akan perihal aku serta Boby. Gegas dirinya berbaring dan memejamkan mata, berpura-pura tidur.
Aku pun mengajak Boby keluar dari kamar Yayan dan sempat menyuruh pelayan membersihkan pecahan gelas yang jatuh tepat di depan kamar Yayan.
Ku tuntun Boby hingga kami ke kamar, kami berdua pun duduk di tepi ranjang.
Kuhela napas yang panjang, ada rasa pedih menyeruak melihat paperbag yang konon berasal dari mantan pacar Boby.
"Mah," lirihnya.
Perlahan kuraih paperbag itu dan kuserahkan padanya.
"Tadi ibu dan Melan ke sini, mengantarkan ini. Katanya dari Selena." Aku mencoba tersenyum dan biasa saja.
Paperbag itu hanya ditatapnya saja, hening ... kami berdua tak ada yang berbicara.
"Yah, mandi dulu ya!" seruku.
Lelaki tampan itu mengangguk dan meraih handuk yang ada di tanganku.
"Nanti kita bicarakan setelah makan malam," ujarnya.
Aku duduk kembali di tepi ranjang sembari mengelus perutku. Hampir memasuki bulan ke empat, tak terasa memang.
Ekor mataku terus melirik ke arah paperbag itu, entah mengapa aku merasa penasaran apa isinya.
Kubuka perlahan paperbag itu, di sana ada sebuah parfume mahal dengan tulisan kecil di kartu.
AKU KEMBALI, KUHARAP KAU MAU MENJADI SAHABATKU.
(Selena)
Tanganku gemetar saat menyimpan kembali parfume dan kartu ucapan itu.
"Mengapa aku marah? Apa aku cemburu?" gumamku.
Seketika terngiang semua perkataan Ibu mertuaku.
Kata-kata yang begitu merendahkanku, yang dianggapnya hendak mengambil alih kekayaan mereka.
Jika mengingat itu semua, rasanya aku benar-benar salah memilih kembali bersamanya.
"Mah, baju ayah mana?" tanya suamiku.
Aku melamun sampai tak menyadari suamiku sudah keluar dari kamar mandi, biasanya aku selalu menyiapkan baju untuk dirinya pakai setelah mandi.
Galau dan sedih, membuatku lupa akan tugasku.
Sepanjang dirinya mematut di cermin, aku tak henti memandangnya.
__ADS_1
Boby seolah tahu akan kegundahanku, berbalik dan memelukku erat. Kurebahkan kepalaku di atas dada bidangnya.
"Kenapa begitu sedih? Biar mamahnya ayah mengatakan apa pun, jangan didengar. Cukup dengar perkataanku, suamimu. Kita tak perli banyak menanggapi mereka, fokus pada anak-anak kita dan juga ini," ungkapnya.
Aku hanya mengangguk dalam pelukannya, bulir bening menetes di pipiku.
"Yah, Selena kembali ada di sekelilingmu. Apa Ayah ...." Aku tak melanjutkan pertanyaanku yang kini membenarkan perkataan Ibu, jika aku bisa saja mempersulit bisnis Boby jika menghalangi keduanya bekerja sama.
"Tak akan. Ayah janji, demi anak dalam perut Mamah. Ayah gak akan pernah jatuh cinta pada Selena lagi. Dia hanya masa lalu dan kalian ... masa depan ayah, Boby Wardoyokusumo." Tangannya tak henti mengusap lembut perutku.
Malam itu, kami sekeluarga makan malam bersama.
Yayan dan kedua adiknya sempat bercengkrama bersama sebelum masing-masing masuk ke kamar.
Begitu pun aku dan Boby, kami sudah berbaring di ranjang empuk dan tangan Boby tak henti mengusap perutku.
Sesekali dikecupnya lembut, sungguh aku yang kegelian.
Saat bersama di ranjang, baru kuingat paperbag tadi.
"Yah, udah lihat isi paperbag dari Selena?" tanyaku.
"Entahlah, ayah langsung masukkan tong sampah," sahutnya cuek.
"Kok dibuang," dengusku.
"Sudahlah, tak penting. Kalian yang penting!" Boby mencium perutku hingga aku terkekeh karena geli.
Diraihnya tanganku dan diletakkannya di atas dadanya.
Aku lalu menatap matanya lekat, hingga entah siapa yang memulai ... malam itu kami merajut cinta hingga terbang ke awang-awang.
"Hanya Renagganis, pemilik hati Boby," gumamnya.
****
Hari ini Boby tak ke kantor, lelaki bertanggung jawab dan menyayangi anak-anaknya, kini memilih menemani Yayan ke dokter mata.
Aku yang selalu menemani setiap pemeriksaan Yayan, kini mengusap punggung anak sulungku, agar dia santai dan tak tegang.
Yayan sungguh tak kerasan di Rumah Sakit. Katanya dia selalu teringat almarhum bang Rusdi setiap kali ke Rumah Sakit.
Ya, mendiang dulu menghabiskan hari-harinya dengan bolak-balik ke Rumah Sakit. Berharap sembuh, namun Allah berkata lain.
Pemeriksaan mata Yayan berjalan singkat dan Yayan mesti berkaca mata.
Saat kami berjalan hendak menuju mobil di parkiran. Seorang wanita berbaju seragam putih ala dokter memanggil Boby.
Sontak saja Boby mematung sembari melihat ke arah suara.
Wanita itu langsung memeluk Boby dan keduanya sempat berbincang singkat, hingga sang wanita itu pamit saat Boby mengatakan membawa anak istri sembari menunjuk ke arah dalam mobil.
Begitu tahu ada wanita lain dalam mobil Boby, wanita berseragam dokter hanya melambaikan tangan sembari tersenyum manis.
__ADS_1
"Dia Dini, teman ayah dulu." Boby langsung mengatakannya tanpa menungguku bertanya.
Sepanjang jalan aku hanya terdiam, Boby terus berceloteh dan disahut oleh Yayan di kursi belakang.
Aku tak ingin berbicara, hatiku kembali merasa sakit dan pedih. Bukan apa, melihat wajah dan penampilan wanita tadi ... rasanya aku malu, tubuhku tak indah dan wajahku sudah tua. Wajar jika Boby merasa temannya menarik, sepanjang jalan senyumnya terus bermekaran.
Begitu sampai rumah, aku langsung berbaring di ranjang. Kuusap lembut perutku.
Boby menyusulku dan duduk di samping ranjang.
"Dia hanya teman saja, Mah," tukasnya.
Aku mengangguk pelan, lalu berusaha memejamkan mataku.
Tak terasa, aku tertidur lelap hingga dua jam aku tertidur di siang hari.
Saat kubangun, Boby tak ada di sampingku. Kembali aku kesal, rasanya Boby berubah padaku.
Kuraih ponsel dan rupanya ada pesan masuk, tiga pesan dari Boby yang mengatakan dirinya sedang menjenguk ibu, karena ibu mertuaku jatuh dari tangga dan tak baik kesehatannya.
[Ayah di Rumah Sakit, menjaga ibu.]
Aku hanya mengangguk pelan dan mencoba kembali tidur.
Sayangnya, mataku malah tak dapat terpejam.
Aku pun melakukan video call pada suamiku.
"Yah," panggilku.
Terlihat wajahnya yang mengantuk, sedang dirinya hanya memilih duduk di sofa.
"Kenapa bangun jam segini?" tanya Boby.
"Habis, Ayah pergi gak bilang-bilang sih," dengusku.
Lelaki itu hanya tersenyum dan mencium layar ponsel sebagai tanda menciumku.
"Ayah akan berusaha segera pulang," timpalnya.
Aku balas senyumnya, lalu kupencet tombol akhirnya panggilan.
Alhasil, malam ini aku tidur seorang diri.
Kuusap perutku, bayang bahagia wajah Boby selalu menghiasi ingatanku.
Tepat pukul tiga pagi, Boby masuk ke kamar dan langsung merebahkan diri.
Aku yang tak dapat tidur, akhirnya langsung tersenyum melihat sosoknya berbaring di sampingku.
Sempat-sempatnya dia mengecup bibirku padahal matanya sudah terpejam.
"Ayah nakal!" seruku pelan.
__ADS_1
"Mari tidur sayang!" Tubuhku dipeluknya erat.
"I love you," gumamku.