
"Hah ...,"
"Temani aku makan dulu, baru masuk ke kamar." Boby menarik tanganku dan memaksaku duduk di kursi.
Di meja makan sudah tersedia beberapa makanan, sepertinya lelaki ini mengorder makanan via online.
"Kenapa makanan luar?" tanyaku.
"Di sini ga ada hamburger, ga mungkin kan aku bangunin juru masak buat hamburger doank. Lagian aku di sini cuma supir, bukan yang punya rumah." Boby berkata sembari mengeluarkan dua buah hamburger dan memberikan satu padaku.
"Ini, makanlah!" Boby menarik tanganku dan meletakkan satu hamburger ke tanganku.
"Apa ini enak?" tanyaku polos.
Boby tersenyum, manis sekali!
"Tentu saja, ini makanan yang selalu kumakan selama di Los Angeles. Simpel, mengenyangkan dan irit dompet." Boby berkata sembari mengunyah makanannya.
"Emang kamu darimana sih, sampai ga tahu ginian?" tanyanya.
"Aku ini orang kampung, dik!"
Seketika Boby tersedak begitu mendengar aku memanggilnya 'dik'.
Gegas aku ambilkan dia air putih.
"Apaan sih, manggil adik segala. Boleh aja dari kampung, tapi ga manggil aku adik juga donk. Kalau dilihat kita ga terlalu berbeda jauh kok," protes Boby.
"Tapi aku udah 32 tahun lho, kamu masih 25 tahun. Beda jauhlah! Aku aja udh punya anak 2, udah SMA lagi yang gedenya. Ya jelas beda jauh donk." Aku turut mengunyah hamburgerku.
Boby sempat tertegun sejenak, kemudian kembali melahap habis hamburgernya. Begitu pun aku, tak ingin berlama-lama di ruang makan bersama lelaki ini.
"Jadi kamu udah nikah?"
"Iya," jawabku.
"Kenapa bekerja jauh dari keluarga?" tanyanya lagi.
"Suamiku ..., telah meninggal karena sakit. Dan anak-anakku harus sekolah. Aku tak ingin mereka tak sekolah sepertiku, terlebih mereka lelaki." Aku menunduk, rasanya bila mengenang masa-masa itu membuatku mengingat almarhum suamiku, bang Rusdi.
Lelaki yang tak pernah lelah berjuang demi anak dan istrinya.
"Maaf ...," ucap Boby.
"Tak apa, kamu tak mengetahuiku. Setidaknya kalau begini kamu tahu dan gak bertanya lagi, kan?" ucapku lirih.
Hening ...
"Ya sudah, masuk kamar gih! Terima kasih ya, sudah mau temenin aku makan." Boby beranjak pergi duluan ke kamarnya.
Aku pun gegas masuk ke kamar.
****
Hari ke hari aku dan Boby semakin akrab, setiap malam ada saja makanan yang dirinya bawa.
Memang hanya kami berdua yang masih bekerja di atas pukul 20.00 WIB, sedang yang lain sore hari sudah bisa istirahat.
Aku merasa tak canggung lagi dengannya, rupanya lelaki tampan ini hanya terlihat dingin jika kita tak mengenalnya saja.
Selebihnya dia tipe orang yang mudah bergaul.
Kadangnya jika banyak makanan sampai Mbok di samping kamarku turut diajaknya.
Beberapa hari aku tak melihat Boby, kata Oliv dirinya ijin pulang karena ada hal mendesak.
"Wah, malam ini kita ga makan pizza donk," keluh Mbok.
Wanita tua juru masak itu sudah doyan pizza.
"Kata non Oliv ada urusan mendadak," jawabku.
"Moga aja bukan berarti Boby berhenti kerja ya, nanti gak ada yang traktir Mbok makan pizza lagi," timpal Mbok.
__ADS_1
"Iya, Mbok! Semoga aja," ucapku lirih saat itu.
Kupandang kamarnya, entah mengapa hatiku rindu.
Mungkin karena Boby yang selalu menemaniku.
"Apa yang kau rasakan ini! Sadar Ganis, jangan kau menghadirkan rasa yang tak mungkin!" Aku merutuki perasaanku, batinku mencoba menyadarkan diri ini.
Entah kenapa hari ini aku merasa Dinda banyak maunya, dari melukis dan ternyata hari ini hujan deras. Sudah waktunya aku mengeluarkan tenaga ekstra jika begini.
Gadis itu menangis kencang dan semua barang dilemparnya. Tak ingin semakin jadi, gegas kupeluk dia dan kucoba menenangkannya.
Dari memeluk hingga menidurkannya membuatku kembali ke kamar tepat jam 11 malam.
Hari ini hujan dari pagi hingga malam hari. Sore hari gerimis dan malam kembali hujan deras.
Badanku rasanya pegal-pegal semua, tak jarang Dinda memukulku saat aku menenangkannya.
Aku melangkah gontai melewati selasar rumah besar itu, entah mengapa saat seperti ini aku teringat bagaimana dulu aku tak pernah kerja berat karena semua tercukupi oleh bang Rusdi, dan teringat lagi saat-saat dirinya sakit hingga meninggal. Semua kenangan itu membuat airmataku luruh sepanjang perjalananku kembali ke kamar.
Tanpa kusadari, sesosok lelaki tengah bersandar di tiang selasar yang kokoh dan memperhatikanku.
"Pantas aku mengetuk kamarmu tak dibuka-buka, biasanya kalau aku bilang makanan kau akan cepat keluar," ucap sosok itu.
Aku menyeka airmata yang membasahi pipiku, tatapanku sendu pada lelaki itu.
Aku hanya mematung di tempat, malu rasanya ada yang melihat aku menangis seperti ini.
Tanpa kusadari, Boby mendekat dan memelukku erat. Aku kembali menangis dalam pelukannya.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
Hujan deras tak dapat menyaingi suara tangisku yang semakin menjadi. Dalam pelukan Boby, aku menangis tersedu-sedu.
Lelaki itu memelukku hingga tangisku reda, kami berdiri lama sekali.
"Sudah, sudah baikan?" Boby mengangkat daguku dan menyeka airmata di pipiku dengan kedua tangannya.
Dan cup ...
Lelaki itu mengecup bibirku singkat.
"Apapun masalahmu, jangan sering menangis. Aku tak suka itu." Kembali Boby mengecup bibirku, kali ini lama sekali.
Akupun tak ingin menolak atau pun marah.
Kubiarkan dirinya mengecup, ya! sekedar mengecup bibirku saja.
"Sudah, yuk makan! Jam sepuluh tadi aku kembali kemari, dan membeli hamburger. Entah gimana rasanya udh satu jam dianggurin." Boby berkata sembari menarik tanganku menuju meja makan.
Di tariknya kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk, setelah itu dirinya memberikan satu hamburger padaku.
"Makan ya, aku udah belikan buatmu!" ucapnya.
Setelah menghabiskan hamburger, lelaki itu mencium keningku kemudian masuk ke kamarnya. Tinggallah aku yang tertegun karena sikapnya padaku yang membuat hati ini kembali berbunga-bunga.
Hari-hari berlalu, sikap Boby padaku dan yang lain biasa saja. Setelah malam itu, lelaki tampan yang memeluk dan mengecup bibirku itu tak pernah lagi berlaku mesra.
Barulah kusadari, aku terlalu berharap.
Mungkin itu caranya menenangkan aku yang kedapatan menangis di depannya.
Hingga keluarga pak Atmaja akan berlibur ke Bali, rupanya pak Atmaja dan Olivia akan melangsungkan pernikahan mereka secara private, tentu saja aku ikut. Karena Dinda harus hadir dalam acara tersebut.
Sedang Boby? Lelaki tampan itu turut hadir, bahkan dirinya ada di barisan kursi keluarga.
Mataku terpana saat melihat lelaki itu menggunakan tuksedo hitam, tampan dan mempesona.
Tak lama seseorang wanita cantik duduk di sampingnya dan merebahkan kepala di bahu Boby.
Hatiku panas melihat itu, selama acara berlangsung mataku tak pernah lepas melihat pasangan itu.
Ketika acara makan-makan keluarga, Boby dan wanita itu bergandengan tangan. Di situ kusadari, aku hanya terlalu terbawa suasana saja. Aku memendam perasaan dan membiarkan rasa itu berkembang seorang diri, padahal Boby biasa saja padaku.
__ADS_1
Sedikit terbantu keluar dari acara itu, saat Dinda merasa mengantuk. Aku pun mengantar Dinda ke kamarnya dan menemaninya hingga gadis itu tertidur.
Di Bali, kami tinggal di sebuah villa pinggir pantai. Kamarku berada di bagian depan pintu masuk utama sedang pengantin baru serta Dinda kamarnya di bagian atas, di lantai dua.
Aku segera masuk kamar dan membersihkan diri, tak ingin keluar lagi. Aku pun tertidur.
Hingga malam itu, bel rumah berbunyi terus menerus. Aku yang risih segera keluar dan membukakan pintu.
"Boby," ucapku.
Lelaki itu terisak dan sempoyongan, di tangannya terdapat botol minuman keras, sedang bibirnya tersenyum melihatku.
"Selena, aku mencintaimu! Aku tak ingin kehilanganmu lagi ...," racau Boby.
Boby mendekatiku dengan tatapan mata yang sulit kuartikan.
Lelaki ini mabuk, aku tak kuasa mencium bau alkohol dari mulutnya membuat aku mundur menjauhinya.
Sayangnya lelaki itu terus mendekatiku, hingga diletakkannya botol minuman di atas meja.
Sedang mulutnya meracau menyebut nama Selena, tentu membuat hatiku panas.
"Kau mabuk," ucapku.
Gegasku masuk ke kamar dan tak kusangka, lelaki itu turut masuk dan kini menghempaskan tubuhku ke ranjang, dilucutinya pakaianku satu persatu dengan paksa.
Aku yang ketakutan terus melawan, tapi percuma. Tenaga lelaki yang terus menerus memanggil nama Selena itu lebih kuat dariku.
Malam itu, Boby memperkosaku.
Seandainya saja dirinya tahu aku bukan Selena, apakah mungkin dirinya akan melabuhkan nikmat cintanya padaku.
Aku tak berdaya saat tubuhnya mengerang dan membenamkan benihnya dalam rahimku.
"Maafkan aku, Ya Allah!" rintihku.
Sepanjang malam lelaki itu memelukku, dalam keadaan bugil aku dikungkungnya.
Hingga subuh tiba, aku mencoba melepaskan pelukannya namun tetap saja tak bisa. Kesal, aku pun menggigit bahunya.
"Auww," jeritnya.
Sontak saja lelaki itu terjaga, matanya berkali-kali mengerjap dan memandangku.
Hingga dirinya tersadar dan melihat ke dalam selimut, kami berdua polos tanpa sehelai benang pun.
Sontak dirinya terperanjat," bagaimana bisa ?"
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, bagaimana bisa kau mengira aku 'Selena ' dan kau ..., kau memperkosaku! Lihat bajuku, sampai robek akibat ulahmu. Bagaimana kalau tuan tahu? Apa kata mereka tentangku, lalu bagaimana kalau aku sampai hamil?" cecarku.
"Aku akan bertanggung jawab jika hal itu terjadi," jawabnya.
*****
Semenjak kembali dari Bali, aku berusaha menjauhi Boby. Dirinya pun tak pernah membeli makanan dimalam hari lagi.
Pernah suatu ketika, aku dan dirinya sama-sama akan kembali ke kamar. Sepanjang selasar itu aku berjalan cepat meninggalkan dia, rasa canggung dan kecewa dihati membuatku tak ingin bertemu dirinya.
Dua bulan sudah, kami tak bertegur sapa.
Dua bulan juga aku tak datang bulan, hal itu membuatku gelisah. Aku takut kalau aku ..., hamil!
Pagi itu kepalaku pusing sekali, dan mual tanpa ada sedikit pun yang keluar.
Aku takut, karena mual setiap pagi aku alami ketika hamil Yayan dan Ilham.
Hal itu membuat hati ini takut sekali, terlebih dua bulan sudah aku tak datang tamu bulanan.
Pekerjaan menuntutku selalu ada bersama Dinda, seperti pagi ini.
Gadis itu memintaku menemaninya melukis di taman, meski pusing tetap kupaksakan diri menuruti kemauannya.
Aku berjalan pelan sembari membawa peralatan melukis milik Dinda, namun semakin lama pandanganku menghitam dan brugh ...
__ADS_1