Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
18. Akrab.


__ADS_3

Wahai wanita yang selama ini bertahta di hatiku.


Kau bagaikan angin yang dapat menerpa tubuh ini tapi tak dapat kugenggam ....


(By: Boby)


Ilham meraih tangan Boby, "tak apa, tapi kali ini Om harus janji takkan membuat ibu memnangis lagi. Dulu bapak Ilham ga pernah buat ibu menangis,"


Dapat kulihat netra lelaki itu mengembun ... ada airmata yang siap menetes, apakah kau sungguh bersedih, suamiku?


Aku mematung, apa yang dilakukan oleh anakku itu di luar perkiraan, sungguh ... hatimu seperti mendiang bapakmu.


Boby melirik padaku dan mengangguk pelan.


Aku menunduk, jika seperti ini tanggapan Ilham ... belum tentu sama dengan Yayan, anak sulungku itu begitu peka dan sering menguatkan hatiku.


"Terima kasih, Nak! Apa boleh sekarang panggilnya jangan Om?" pinta Boby.


"Emang pengennya dipanggil apa?" tanya anakku itu polos.


"Bagaimana kalau papa atau ayah, karena sekarang om ini sudah menjadi papa Tri dan suami ibu Ganis," jelas Boby, sederhana tapi masuk akal.


Ilham melihat padaku, aku hanya dapat tersenyum.


Gegas aku ke dapur, membuatkan makan dan minum untuk mereka.


Bagaimanapun Boby baru saja datang, pastinya dia lapar ... begitu pun Ilham.


"Bu, masak kangkung yang di beli tadi pagi, ya!" pinta Ilham.


"Iya, Nak!" jawabku.


Tanganku terhenti saat ada sepasang tangan yang turut menggenggam seikat kangkung itu.


"Aku bantu, ya." Boby tersenyum sembari meraih kangkung di tanganku.


"Apa bisa?" tanyaku.


"Kalau bisa mau kasih hadiah apa?" jawabnya.


Aku memalingkan wajah, entah bagaimana rupaku ... yang jelas aku tersipu malu mendengar kata-katanya.


"Sebaiknya istirahat dulu saja, pasti perjalanan jauh membuatmu lelah," tukasku.


Boby malah terkekeh, bahkan kini mencium pipiku.


" Terima kasih perhatiannya, tapi aku ingin masak bersamamu," imbuhnya.

__ADS_1


Aku biarkan saja dia, sedang aku merajang tempe dan tahu, menu alakadar yang kami dapat beli di tukang sayur keliling.


"Apa tak membeli ikan atau ayam untuk anak-anak, setidaknya ada telur?" sanggahnya.


"Tak ada, tukang sayur sampai ke sini terkadang keranjangnya sudah tinggal sedikit lagi, bahkan kadang aku tak kebagian apa pun!" seruku.


"Kalau warung sembako?"tanyanya lagi.


"Ada, sekitar setengah jam jalan kaki, atau naik ojek sekitar 15 menitanlah. Aku akan belanja sebulan sekali, karena jauh." Aku mulai mengolahkan tempe dan tahu.


"Nanti setelah kita makan, belanja ya! Sekalian aku menyapa para warga kampung," ucapnya.


"Kamu ga balik ke Jakarta?" tanyaku.


"Aku menyerahkan perusahaan pada paman, selama aku di sini bersamamu dan meyakinimu agar mau menemaniku lagi di Jakarta, aku ingin kita menikah secara agama dan negara ... agar ada kejelasan untuk anak-anak kita, dan aku akan memboyong Yayan juga Ilham turut tinggal dengan kita di sana, aku akan membeli rumah yang besar ... di mana akan muat untuk kita sekeluarga, saat kau bersedia ... saat itulah aku akan kembali mengurus perusahaan kembali. Bagiku, kau dan anak-anak adalah hidup dan matiku, bukan uang ataupun jabatan." Boby berkata serius sembari menatap netraku lekat.


Ya Allah, benarkah yang kudengar ini?


Boby mengatakan kalau kami lebih berharga dari segalanya, sesaat aku termenung ... airmataku luruh begitu saja.


"Hei, kenapa menangis?" Boby mendekat dan menyeka airmataku.


"Apakah, apakah yang kudengar barusan itu benar adanya?" tanyaku.


Boby tersenyum dan kemudian memelukku, " Semua itu karena kamu, aku takut kau seperti angin ... yang dapat kurasakan tempatnya namun tak dapat kumiliki."


Aku membalas pelukannya, dan semua menjadi ambyar saat Ilham datang.


*****


Setelah makan bersama, kami berempat kemudian berencana belanja sembako.


"Apa mau berjalan kaki?" tanyaku pada Boby.


"Gak dong, ya kan Ilham? Kita nunggu juemputan, barusan aku menyewa satu mobil ... atau perlukah aku membeli mobil kalau seandainya kita masih lama tinggal di sini?" gumam Boby.


Aku memilih tak menanggapi kata-katanya, dan benar saja tak lama sebuah mobil kijang di antar sebagai tanda menyewa, di mana pada bagian kuncinya ada kertas di tulis angka 1, yang katanya menyewa satu hari.


Ilham dan Tri begitu senang naik mobil, bahkan Ilham meminta untuk jalan-jalan.


"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan, Nak Ilham pengen kemana?" tanya Boby.


Pandangannya tak luput dari jalan tanah yang tak rata karena masih tanah kuning.


"Bagaimana kalau ke kota, Ilham pengen mandi bola dan main mobil-mobilan," jawab Ilham.


Boby pun mengiyakan permintaan anak sambungnya itu.

__ADS_1


Aku hanya bisa bersyukur dan tersenyum padanya, kali ini tanganku menggenggam tangan kekarnya, " Terima kasih!"


****


Di toko sembako itu, Boby benar-benar memborong semua keperluan baik dapur sampai keperluan anak-anak, apa pun yang Ilham dan Tri tunjuk dan ingin maka akan dirinya ambil dan bayar.


"Kamu mau beli apa? Ada barang yang perlu tidak? Bedak, pembalut, parfum atau lipstik?" kilahnya.


Aku menggeleng, Boby hanya menghela nafas dan kini dirinya mengambil semua yang disebutnya tadi.


Belanjaan kami sungguh banyak, hingga mobil kijang itu penuh dengan barang belanjaan.


Malamnya, Boby bercengkrama dengan Tri dan Ilham, aku bersyukur Ilham bisa dengan mudah menerima Boby.


Harapanku pun begitu pada Yayan kelak.


Tak terasa Tri dan Ilham telah tertidur nyenyak, aku yang menjadi canggung sendiri ... aku tidur di mana?


"Apa ada kasur berlebih?" bisiknya.


Lelaki itu entah kapan ada di belakangku dan memeluk tubuhku.


"A-ada, tunggu sebentar!" jawabku terbata-bata.


Aku gugup, sungguh gugup.


Tentu dari gelagatnya, Boby akan meminta haknya.


Hak yang selama setahun lebih tersampaikan.


Begitu aku mengampar kasur di dekat anak-anak, Boby protes dan memintaku mengamparkannya sedikit jauh dari jangkauan Tri dan Ilham.


"Aku ingin cukup ruang untuk kita berdua," bisiknya.


Maka di sinilah kami, tidur memisahkan diri dari anak-anak dengan maksud merengkuh cinta yang lama tak tersalurkan.


Boby berkali-kali mengecup kening dan bibirku saat dirinya melakukan penyatuan itu.


Aku merasa kembali jatuh cinta padanya, malam itu suara kami menyatu dengan suara hujan yang membasahi bumi.


"Terima kasih, sayangku! Aku mencintaimu, jangan pernah pergi lagi dariku," bisik Boby.


Diantara suara nafas yang menyatu dan senyum yang mengembang di bibir.


Aku mengecup bibirnya, sebagai tanda cintaku seperti cintanya.


Malam itu kami berdua tidur sembari berpelukan erat.

__ADS_1


Boby, aku harap tak ada lagi rintangan yang berarti dalam cinta kita.


Harapanku, tapi entah bagaimana ke depannya ....


__ADS_2