Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
Hanya menjadi pengganti Selena


__ADS_3

Hari berganti bulan ...


Tak terasa sudah tiga bulan kehamilanku.


Hubunganku bersama sang suami tak ubahnya kucing dan 4njing.


Setiap pagi dirinya akan pergi saat matahari mulai tampak, sekitar jam enam pagi sudah meluncur ke rumah Tuan Atmaja, yang baru kuketahui rupanya tuan Atmaja adalah pamannya.


Boby tak pernah menyentuh sarapan atau sekedar kopi yang kusiapkan, yang diterimanya hanya baju kerja yang setiap pagi kusiapkan, selebihnya ... Tak ada.


Hubungan suami istri, tak pernah kami lakukan.


Boby selalu memilih tidur di sofa yang ada di ruang tamu.


Boby selalu pulang tepat jam sembilan malam, disaat aku sudah memilih merebahkan tubuh di atas kasur, atau terkadang sudah terlelap tidur.


Tentu saja lelaki itu sudah makan di rumah pamannya, maka aku tak perlu repot-repot memasak atau pun menunggu kepulangannya, karena itu adalah aturan yang dibuatnya untukku di rumah ini.


"Kau tak perlu memasak untukku dan tak perlu menunggu kepulanganku. Aku akan menafkahimu secara lahir namun jangan pernah berharap aku memberi nafkah batin padamu.


Kau tak perlu khawatir untuk urusan biaya anakmu, perbulan gajiku dipotong paman sebesar 10 juta untuk anakmu, dan setiap bulan kau akan kuberikan uang sebesar 10 juta untuk resiko dapur dan keperluanmu ... Terserah, aku tak mau tahu! Yang jelas kau patuhi peraturan yang ku buat." ucap Boby malam itu.


Aku hanya mengangguk pelan dan semenjak itu aku tak pernah bicara atau pun memandang wajahnya.


Bagiku dirinya tak ubahnya majikan.


Aku hanya pembantu yang bertugas mematuhi peraturan yang dirinya buat.


Ingin rasanya aku menatap mata sendu yang dulu selalu membuatku merindu akan hadirnya, tapi sekarang semua sirna.


Aku beban baginya, bahkan di saat perut ini semakin membesar.


Aku bahkan tak berani sekedar mengelus perut di depannya, karena takut akan hinaan yang akan dirinya lontarkan untukku.


"Satu lagi, pernikahan ini tak ada yang tahu.


Jika ada orang yang datang kemari berarti itu adalah keluargaku, aku tak ingin kau mengatakan kau istriku ... Katakan saja kau menyewa rumah ini. Pamanku dan keluarganya juga sudah setuju tak membeberkan pernikahan ini pada ayah ibuku." Lelaki itu berkata sembari merokok di depanku, sekali lagi aku hanya mengangguk.


Setiap hari aku menelepon Yayan dan Ilham, karena di rumah ini aku banyak waktu luang.


Bu Sani mengatakan selama dua bulan ini uang yang dikirim pak Atmaja selalu dengan jumlah yang sama 10 juta.


Aku hanya tersenyum getir mendengarnya.


Setidaknya anak-anakku bahagia dapat sekolah dan makan enak.

__ADS_1


*****


Malam itu Boby kembali dengan wajah yang pucat pasi, sesekali dirinya memijit kening.


Aku yang berbaring di kasur hanya dapat melihat saja, takut jika mendekatinya malah umpatan dan hinaan yang kudapat.


Boby meringis dan duduk di tepi ranjang, sontak saja aku bangkit dan duduk di ranjang. Entah mengapa berada di dekatnya membuatku waspada sekali.


"Apa punya obat penurun panas?" tanyanya pelan.


"Ada, mau kuambilkan?" tawarku.


Lelaki itu mengangguk sembari meringis.


Gegasku beranjak dari ranjang dan mengambil obat penurus panas di rak obat-obatan.


"Ini,"


Kuberikan obat dan segelas air padanya, begitu dirinya meraih obat dan gelas itu dari tanganku dapatku rasakan badannya yang begitu panas, lelaki ini demam tinggi.


"Kau demam," ucapku.


Boby kembali mengangguk pelan, dan kutuntun dirinya untuk berbaring di tempat tidur. Kuselimuti dia.


"Mauku kompres?"


Aku hanya mengangguk dan berbaring di sampingnya, aku pun beringsut masuk ke dalam selimut. Cuaca dingin karena sedang hujan lebat.


Lelaki itu terpejam dan aku menatapnya lekat.


Dapatku rasakan nafasnya yang teratur pertanda lelaki ini telah tertidur.


Kupegang pipinya.


" Apakah aku beban bagimu? Aku pun tak ingin seperti ini. Seharusnya kita tak bertemu atau pun dekat, agar tak ada yang terluka." Ku dekati wajahnya dan kening kami bersentuhan.


Airmataku luruh, " maafkan aku."


Malam itu aku tertidur sembari menghadapnya, karena begitu dekat hingga tanpa kusadari bibir kami berdua sudah berpagut di pagi hari yang dingin. Entah siapa yang memulai ....


"Kau menginginkannya, bukan?" bisiknya.


Kuberanikan mengangguk dan tanpa menunggu dirinya memulai, aku pun memagut bibirnya duluan. Hingga pagi itu dirinya dan diriku memadu kasih. Ini adalah pertama kalinya kami melakukan penyatuan setelah menikah.


Di elusnya perutku yang semakin terlihat membesar.

__ADS_1


"Sudah tiga bulan, ya?" Boby berkata sembari terus mengelus perutku.


Aku mengangguk pelan, keadaan kami masih tanpa sehelai benangpun membuatku malu saat dirinya mengelus perutku dan seluruh tubuhku terekspos olehnya.


"Maafkan aku kasar padamu," ucapnya.


Aku hanya menatapnya, karena aku berbaring sembari memeluk tubuhnya.


"Malam itu aku tak berniat memperkosamu, aku mabuk karena Selena memutuskan hubungan kami karena mengetahui aku tak bekerja di perusahaan ayah, malah menjadi supir di rumah paman Atmaja." Lelaki itu bercerita sembari mengelus perutku, tak jarang sesekali tangannya malah turun ke bagian bawah perut.


"Semalam temanku memberitahuku bahwa Selena akan menikahi seorang duda beranak dua karena lelaki itu kaya raya. Hahaha! Wanita itu mencintai harta, tak ada ketulusan akan cinta." Boby menatap dan mengangkat daguku, dikecupnya bibir ini lama sekali.


"Maukah kau menyembuhkan luka hatiku, katanya menyembuhkan luka cinta maka harus kembali mencintai. Lalu maukah kau mengajarkan aku mencintaimu, karena bagaimanapun kau adalah wanita yang halal untukku cintai." Boby menarik tubuhku dan kembali pagi itu kami mengarungi nikmat bercinta.


Aku bahagia, meski kutahu tubuhku hanya pelampiasan hati dan rasa kecewanya.


Yang kurasakan lelaki ini hanya bernafsu, bukan ada getaran cinta padaku.


****


Hari-hariku lalui seperti biasa, dirinya tak mengindahkanku memasak untuknya.


Pernah kucoba menyiapkan sarapan untuknya, tapi dengan dalih ada telepon dari tuan Atmaja membuatnya pergi tanpa menyentuh masakanku.


Yang berbeda hanya setiap malam dirinya akan menggauliku meski kutahu hanya sekedar nafsu, pernah ketika dirinya mengerang saat mendapat puncak dalam bercinta suamiku itu menyebut nama Selena. Padahal dirinya tengah berada di atas tubuhku, bagaimana bisa?


Airmataku luruh, sungguh semua ini hanya kebahagiaan semu belaka.


"Kenapa menangis?" tanyanya.


Aku hanya menggelengkan kepala.


"Aku terbawa suasana," kilahnya.


Sepertinya Boby menyadari alasan diriku menitikkan airmata.


Lekas dikenakannya dalaman dan suamiku itu kembali menyulutkan rokoknya.


"Aku belum bisa melupakan dia," lirihnya.


"Maafkan aku bila membayangkan Selena setiap kali menyentuhmu." Boby berkata sembari berjalan ke jendela dan memandang ke luar.


Dalam keadaan polos tak mengenakan sehelai benang pun, gegasku bangkit dan memungut bajuku satu persatu.


Dengan langkah gontai kulewati dirinya dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Kunyalakan shower dan malam itu aku mandi sembari menangis dibawah guyuran air yang membasahi badanku.


"Mirisnya nasibmu, Rengganis ...!" batinku.


__ADS_2