Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)

Balada Pembantu Jadi Nyonya (Yakin, Bahagia?)
POV. Boby


__ADS_3

Aku adalah Boby Wardoyokusumo.


Anak kedua dari Dhani Wardoyokusumo, siapa yang tak mengenal ayahku ... seorang pebisnis handal di berbagai bidang.


Hidup bergelimang harta membuatku tak pernah merasa kekurangan dan semua dapat kuraih.


Seperti saat kumemilih hidup bersama kekasihku, Selena di Los Angeles. Dengan alasan kuliah, kunikmati hidup berdua bersama kekasihku.


Hingga suatu hari ayahku terbaring sakit dan harus melakukan pengobatan ke Singapura.


Orangtua itu memaksaku pulang, karena tak ada yang menggantikan posisinya.


Dengan sangat terpaksa aku kembali ke tanah air dan membuatku meninggalkan Selena seorang diri di negeri orang, sebab tak mungkin dirinya ikut pulang. Mengingat orangtuanya pun sama dengan orangtuaku ... mengetahui kami menuntut ilmu di LA.


Aku kembali marah dan tak terima, saat pamanku Atmaja, memintaku menjadi supirnya ... bukan menjadi bos di perusahaan papah.


"Kenapa harus menjadi supir, paman? Boby balik ke Indo itu untuk jadi pemegang perusahaan!" protesku kala itu.


"Agar kau bisa mengerti arti dari sebuah tanggung jawab. Untuk sementara perusahaan ayahmu akan berada di bawah kepemimpinan paman, jadilah supir di rumah paman. Titik ... no debat!"


Baru kusadari, mereka melakukan semua itu agar aku pulang ke Indonesia dan tidak tinggal di luar negeri lagi.


Saat itu aku marah, aku bahkan tak berani menghubungi Selena. Takutnya wanita itu memutuskan aku begitu tahu Boby, pacarnya hanya menjadi seorang supir.


Pelan-pelan kurenungi, ada benarnya juga kata pamanku itu.


Memulai sesuatu dari bawah bisa memupuk rasa tanggung jawab di diri agar kelak bisa bijak memimpin semua perusahaan papah.


Malam itu aku mengiyakan perkataan paman, saat aku berada di ruang kerja bersama paman seorang wanita masuk dan sekilas kulihat wanita itu cantik juga.


Senyumku mengembang, jika para pelayan paman cantik-cantik tentu aku bisa menghilangkan stres selama di sini.


Terlebih wanita yang masuk ke ruang kerja paman malam itu, wajahnya ayu dan terlihat sekali cantiknya alami.


****


Beberapa hari kemudian wanita itu tersandung dan hampir jatuh di depanku.


Reflek ... aku meraih tubuhnya, saat dirinya terpejam aku begitu yakin wanita ini cantik sekali meski hanya di poles tipis.


Semenjak itu aku selalu mengajaknya makan di jam malam, wanita itu mudah tersipu malu.


Beberapa kali perkenalan barulah ku tahu namanya Rengganis, namanya cantik seperti orangnya.


Sosok wanita tangguh yang berjuang demi anak-anaknya setelah ditinggal wafat sang suami.


Tak ada salahnya aku menggodanya, toh dia janda!


Hatiku tertantang untuk merayunya, membuat dirinya jatuh ke pelukanku anggap saja selingan selama Selena tak ada di sisiku.


Tentu saja, posisi Selenaku tak mungkin bisa terbesar oleh wanita kampungan begini.


Ya ... itu adalah ungkapan hatiku pertama kali ingin iseng padanya.


Bahkan ketika wanita itu menangis, kucuri kesempatan untuk mencium bibirnya.


Manis sekali ... tapi hanya sekedar mencium.


Pernikahan paman dan adik iparnya, Olivia digelar secara private.


Saat itu aku gunakan untuk bertemu pujaan hatiku, Selena.


Kebetulan dirinya sudah kembali dari LA.


Selena memeluk dan menciumku mesra.


Pada ayah dan ibunya, kekasihku dengan bangga memperkenalkan aku sebagai lelaki yang akan meminangnya kelak.


Pada keluarganya pula, Selena memperkenalkan aku sebagai seorang pemimpin perusahaan.

__ADS_1


Aku sedikit kecewa akan sikap Selena malam itu, secara gamblang kukatakan padanya bahwa untuk sementara perusahaan akan tetap di-handle pamanku dan aku belajar dari bawah sebagai seorang supir.


Saat itu, Selena mengumpat dan berkata kasar padaku ... padahal selama kami hidup bersama di LA, tak pernah sedikit pun wanita itu berucap kasar padaku.


Malam itu Selena memutuskan hubungan denganku, aku yang begitu mencintainya tak dapat menerima semua itu.


Hatiku hancur, kutepis harga diri sebagai seorang lelaki ... demi cinta aku bersimpuh di kakinya meminta dirinya memikirkan ulang hubungan kami, dan saat itu Selena acuh dan meninggalkanku.


Aku yang rapuh memilih menegak minuman keras hingga mabuk, dalam penglihatanku seorang wanita di depanku itu adalah Selena.


Aku tak ingin melepaskannya dan malam itu kembali kurenggut nikmat bersamanya.


Hanya saja kenapa beda sekali kenikmatan yang kurengkuh kala itu.


"Akh, masa bodo ... yang penting dirinya kembali menjadi milikku," batinku kala itu.


Pagi itu aku terjaga karena suatu gigitan di lenganku dan mataku terbelalak saat kulihat wanita yang bergumul denganku semalam


adalah Ganis, bagaimana bisa?


Wanita itu menangis dan aku berjanji akan bertanggung jawab. Simpel dan jika tak hamil maka aman, bukan?


Setelah kejadian itu, aku dan Ganis mulai menjauh. Semula aku biasa saja, tapi wanita itu selalu menjauh dariku.


Aku pun sadar diri ... wanita itu pasti tak terima akan perlakuanku malam itu.


Dua bulan kemudian, wanita itu pingsan tepat di depanku.


Kadung saja kami semua panik, termasuk Dinda dan paman Atmaja.


Kubopong tubuh wanita yang pernah kusentuh itu, ada rasa khawatir di hati.


Aku takut ... wanita ini hamil.


Benar saja, setelah dokter keluarga memeriksa.


Ganis dinyatakan hamil, pandanganku nanar melihatnya.


"Kau kenapa, Boby?" tanyanya.


"Paman, aku yang menghamili Ganis. Aku memperk*sanya di malam pernikahan paman," akuku.


Diriku pasrah saat paman memukuliku, mengumpatku dan menyeretku.


Tak sedikit pun aku melawan, sebab aku tahu kesalahanku begitu besar.


"Kau harus menikahinya!" ucap pamanku waktu itu.


Apa aku punya pilihan lain ... tidak! Maka sore itu juga, pernikahan siri terjadi.


Aku putuskan untuk membawanya mengisi rumah omah yang tak begitu jauh dari rumah paman dan aku meminta paman merahasiakan pernikahanku bersama Ganis.


Ada rasa kesal di hatiku pada Ganis, apa benar aku memperkos*nya ataukah dirinya yang menyerahkan diri padaku?


Secara wanita itu seorang janda, tentu saja hasratnya masih ada.


Buktinya ketika tanganku iseng mengg3rayanginya, wanita itu mel3nguh dan mend3sah.


Dari situlah aku menyimpulkan, wanita ini turut ambil andil dalam perbuatan dosaku malam itu.


Pupus sudah impianku untuk dapat menikahi Selena.


Aku menjadi semakin kesal pada wanita itu.


Perlahan kuhadirkan neraka untuknya.


Sering kulontarkan kata kasar dan menghina dirinya, dan akan berakhir dengan airmatanya yang menganak sungai.


Seiring waktu, aku candu akan tubuhnya, perlahan peraturan yang kubuat untuknya malah diriku sendiri yang melanggarnya.

__ADS_1


Hatiku mulai melembut untuknya, raut wajah cantiknya menjadi suatu hal yang begitu kuingin setiap saat, bahkan ketika aku mendengar Selena akan menikahi lelaki tua karena hartanya ... hatiku tak merasa sakit sama sekali.


Perhatianku hanya Ganis dan perut besarnya yang kerap kuusap dan kucium.


Rasanya tak sabar menantikan kehadiran bayi mungil itu.


Hingga hari dimana Dinda tantrum ... paman meminta bantuan Ganis menenangkan Dinda, maka hari itu kami pun bergegas ke rumah paman Atmaja.


Sembari menunggu Ganis, aku dan paman banyak berbincang-bincang terlebih paman sudah mempercayakan aku memegang kendali perusahaan toh sekarang keluargaku sudah kembali ke tanah air.


Keadaan papah yang membaik merupakan suatu berkah bagi kami, tapi selalu ada pembicaraan tentang perjodohan ... itu yang aku tak ingin dengar.


Maka malam itu aku membalasnya bersama paman dan juga perihal kelak aku menceraikan Ganis, tujuanku hanya akan memberi pilihan pada Ganis, jika anak kami lahir maka kami akan menikah secara sah di mata hukum. Maksudku aku akan menikahinya sekali lagi secara sah agama dan negara.


Perbincangan kami terdengar oleh Ganis, malam itu kami bertengkar hebat. Ganis menamparku dan aku memilih keluar agar tak tersulut emosi.


Malam itu aku pulang ke rumah orangtuaku, sekaligus menyambut kedatangan mereka di Indonesia.


Aku pun sibuk berkutat dengan perusahaan, beberapa kali kulihat ponselku ada pesan masuk dari Ganis. Bibirku tersungging membaca pesannya.


Sayangnya aku belum bisa pulang karena sedang berada di luar kota, hingga tepat dua minggu aku pun kembali ke rumah papah terlebih dulu untuk memberi laporan hasil kinerjaku selama dua minggu itu.


Dalam hati dan pikiranku, bayangan Ganis dan senyumnya sudah terpatut jelas di depan mata.


Maka saat kulihat panggilan darinya yang di angkat ... oleh siapa? Ternyata oleh Melani, kakakku!


Bed*bah! Pasti Ganis berpikir macam-macam, aku langsung menuju ke rumah tempat kami tinggal ... apa yang kutakutkan terjadi, Ganis tak ada berikut barang-barangnya.


Begitu pun di rumah paman, istriku itu tak ada.


Rasanya aku kehilangan setengah hatiku.


Saat aku mengadu pada papah dan mamah, jawaban mereka malah memintaku meneruskan perjodohan.


Aku menolak keras! Semenjak itu hidupku hanya berkutat di sekitar rumah omah, menghabiskan hari dengan mengingat Ganis.


Sesekali aku ke kampungnya, berharap wanita itu ada di sana.


Aku tak pernah pulang ke rumah orangtuaku, mengingat papah yang tak menyetujui pernikahanku dan keukeuh memaksakku menerima perjodohan.


Hingga papah dilarikan ke Rumah Sakit, disaat-saat terakhirnya papah merestui pernikahanku dan meminta aku selalu menjaga mamah dan Melani.


Kini, dengan bekal restu dari papah. Kutekadkan selalu mencari Ganis disela-sela kesibukanku memimpin perusahaan.


Tapi masih saja sama ... nihil!


Sampai saat aku bertandang ke rumah paman, lelaki itu menunjukkan foto dirinya yang tengah memangku anak kecil.


Mataku memicing saat wajah anak itu seperti aku dan matanya seperti Ganis.


"Paman, siapa anak ini?" tanyaku.


"Menurutmu?"


Aku menghela nafas panjang, tak tahu harus menanggapi ini semua seperti apa.


"Apakah ... Paman sudah mengetahui dimana Ganis?" tanyaku lagi.


"Entahlah, waktu itu kami bertemu di sebuah Mall dan anak yang kupangku itu ... anakmu!" jawabnya.


Tangisku pecah, aku lelaki yang jarang menangis tapi jika sudah menyinggung hal tentang Ganis ... hatiku melow sekali.


"Dimana dia, Paman?"


"Tenangkan dirimu, beri dia waktu ...paman sudah memberitahu dirinya semua tentang apa yang kau lalui. Bersabarlah, nanti juga dirinya akan menghubungi," tukas paman.


Aku menunggu, aku akan selalu menunggu ... hingga malam ini ponselku berdering dan dapatku tebak isak tangisnya, masih sama seperti dulu.


Ya, istri yang kucintai akhirnya meneleponku.

__ADS_1


Setelah bertanya dirinya berada, tak pikir panjang ... malam ini juga aku berangkat ke Kalimantan menjemputnya.


"Kita akan bersama ... selamanya, Ganis!"


__ADS_2