Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Misunderstanding


__ADS_3

"Apa terjadi sesuatu?" Anggara menghampiri orang tuanya diruang keluarga. Saat dia masuk kedalam rumah, dia mendengar kedua orang tuanya sepertinya sedang beradu argumen, dia tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh keduanya. Namun, ketika Anggara menghampiri. Keduanya justru terdiam.


Mamanya yang tadinya sedang berdiri, duduk sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Kau tidak ke kantor?" Papa Anggara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi." Tatapan Anggara masih tertuju ke arah Mamanya. Dia ingin kembali bertanya, namun memilih untuk mengurungkan niatnya. "Aku masuk ke kamar dulu. Ma, Pa!" Anggara menoleh ke arah Papanya, lalu beranjak pergi. Dia merasa, mungkin perdebatan di antara keduanya tidak perlu dia ikut campur.


*


Anggara kembali tersenyum seorang diri ketika sedang bercermin. Memikirkan hal konyol yang dia lakukan. Bisa-bisanya dia tertidur di rumah Nona, dilantai pula. Padahal sebelumnya, dia tipe orang yang paling sulit tidur disembarang tempat.


*


"Om.. Sedang apa disini?" Nona langsung menghampiri Om Hary yang sedang berdiri di depan rumahnya. Sepertinya, beliau baru saja hendak kembali masuk kedalam mobil, setelah mencoba mengetuk pintu rumah Nona berulang kali namun tak ada jawaban.


"Apa kita bisa bicara?" Raut wajah serius Om Hary membuat Nona sedikit menegang.


"Tentu." Nona tersenyum canggung.


"Apa sebaiknya kita mengobrol sambil makan siang?" Tawar Om Hary.


"Emm boleh." Jawab Nona ragu-ragu. Sebenarnya dia merasa canggung di hadapan Om Hary, dia merasa tidak enak pada Om Hary karena pergi begitu saja dari rumah beliau.


"Ayo.." Om Hary mempersilahkan Nona untuk masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


*


*


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Om Hary tiba-tiba, setelah terdiam cukup lama sepanjang perjalanan.


"Baik Om."


"Tidak sekolah?"


Nona terdiam sejenak. "Gak Om." Lalu menunduk.


"Kenapa? Bukannya kalian akan UN sebentar lagi."


"Selesaikan sekolah mu, jangan pikirkan hal lain. Kamu hanya perlu bersekolah setingginya dan menjadi orang sukses."


Om Hary memarkirkan mobilnya di sebuah restoran.


Keduanya turun dan masuk kedalam restoran tersebut. Nona masih terdiam seribu bahasa, bahkan sampai Om Hary selesai memesan makanan.


"Soal biaya, akan Om tanggung sampai kamu kuliah nanti." Imbuh Om Hary selanjutnya.


"Baik Om." Nona hanya menurut saja.


Mendengar jawaban Nona, Om Hary tersenyum.

__ADS_1


"Tapi...." Ucap Nona ragu-ragu.


"Iya, katakan saja. Tidak apa-apa."


"Aku tidak harus tinggal di rumah Om kan?"


"Jika kau tidak ingin, Om tidak akan memaksanya. Kau boleh tinggal dimana yang kau suka."


"Terimakasih Om." Nona bisa tersenyum sekarang. Rasanya memang berat jika harus kembali ke rumah itu.


"Ayo, silahkan makan." Om Hary mempersilahkan.


"Empp..." Nona mengangguk semangat.


Dia mulai menikmati hidangan lezat di hadapannya.


"Apa Anggara menemuimu?" Tanya Om Hary tiba-tiba di sela makannya.


Nona kembali mengangguk. Dia menatap ke arah Om Hary, menunggu kelanjutan dari ucapannya.


"Tidak apa-apa, Om hanya ingin tahu saja. Ayo, silahkan dilanjutkan." Ucap Om Hary terkekeh. Karena ekspresi Nona yang kembali menegang setelah mendengar pertanyaannya.


Nona menghela nafas lega. Dia pikir Om Hary akan bertanya tentang kesiapannya untuk menikah dengan Anggara. Seperti yang di katakan Anggara tempo hari, Om Hary sangat berharap dengan pernikahan mereka.


NEXT>>>

__ADS_1


__ADS_2