Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Again


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Dany sudah datang lagi untuk menemui Nona.


Kebetulan hari ini hari minggu, jadi dia punya banyak waktu untuk di habis kan bersama Nona.


Nona sudah tahu kalau Dany akan datang, sehingga dia menunggunya dihalaman rumah.


Mereka sudah sepakat untuk mengerjakan tugas sekolah itu bersama. Sekalian belajar untuk menghadapi ujian nasional yang 2 bulan lagi akan berlangsung.


Nona memilih halaman samping rumah untuk mereka mengerjakan tugas tersebut. Selain di sana terdapat sebuah pondok dengan pepohonan yang rindang, juga untuk menghindari ke sungkanan nya terhadap pemilik rumah karena membawa temannya masuk ke rumah.


Mereka belajar sambil tertawa terbahak-bahak. Untuk pertama kalinya, Nona tertawa selepas itu.


Anggara yang baru saja bangun dan berdiri di balkon kamarnya langsung dapat melihat keduanya yang sedang bercengkrama hangat.


Sebagai ketua kelas yang memiliki nilai tertinggi di kelas membuat Dany dengan mudah dapat mengajari Nona.


Sedangkan di balkon sana, Anggaran sedang terfokus pada Nona yang tertawa begitu lepas karena lelucon Dany.


Lagi dan lagi, itu seperti hipnotis bagi Anggara.


"Tidak ! Tidak ! Tidak. Apa yang sedang aku pikirkan. Aku tidak mungkin tertarik pada gadis kampung itu."


Anggara akhirnya memilih untuk berendam di bathtub. Untuk merelaksasi otaknya agar tidak terus memikirkan Nona.


***


Anggara memilih untuk menemui gadis-gadis lain di club. Dia beranggapan ingatan tentang senyuman dan tawa Nona itu terus saja terngiang-ngiang dalam ingatannya karena selama beberapa hari ini dia tidak menemui gadis-gadis lain yang lebih seksi dan lebih bohai dari Nona.


Di saat dia merasa sudah cukup mabuk, dia pun pulang. Dan lagi, dia ke kamar Nona.


Kini dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Nona yang sudah tertidur tidak menyadari kalau Anggara masuk ke kamarnya.


Dia baru menyadari ketika Anggara sudah berbaring dan memeluknya dari samping.


"Hei apa yang kamu lakukan." Nona mencoba melepaskan pelukan itu. Dan berniat menjauh dari tempat tidur. Dia tahu saat ini Anggara sedang mabuk. Alkohol tercium sangat menyengat.


Semakin Nona mencoba untuk melepaskan pelukan itu, maka semakin erat Anggara memeluknya.


Sampai Nona kehabisan tenaga dan akhirnya membiarkan Anggara terbaring di sampingnya sambil menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan pelukan itu.


Mereka terdiam cukup lama, Anggara memejamkan matanya. Sedangkan Nona terbelalak, matanya melingkar bulat setelah dikagetkan dengan pelukan itu.


"Kenapa kamu mabuk hampir setiap hari ?" Nona memulai percakapan.


"Aku punya masalah yang harus aku lupakan dengan alkohol."


"Apa itu ?"


"Kamu !"


Nona terdiam, kini dia memberanikan diri menatap wajah Anggara yang berada tepat di sampingnya.


"Bisakah kamu menghilang dari hidupku ? Biarkan aku kembali tenang seperti dulu." Ucap Anggara dengan mata yang masih terpejam.


Nona menatap dalam wajah Anggara yang seakan terlihat memohon, Nona merasa sangat bersalah. Ketika melihat orang yang ingin sekali dia hancurkan, menjadi seperti ini. Justru membuat hatinya yang terenyuh.

__ADS_1


"Bukankah ini yang aku inginkan? Tapi kenapa melihat dia yang seperti ini justru membuat aku menjadi merasa bersalah dan terlihat sangat kejam."


***


Setelah memastikan jika Anggara sudah benar-benar terlelap, Nona perlahan bangkit dan meninggalkan kamar. Dia memilih untuk tidur di kamar tamu.


Dua hari kemudian. Om hary kembali dari luar kota.


Disaat semuanya sedang makan malam, Nona sengaja menghampiri mereka.


"Om maaf menganggu. Ada yang ingin saya sampaikan." Nona berdiri tak jauh dari meja makan.


Hanya om hary yang menoleh ke arahnya, sedang kan Anggara dan yang lainnya sama sekali tak perduli.


"Apa yang mau kamu sampaikan ?"


"Aku ingin membatalkan pernikahan itu dan kembali ke rumahku."


Anggara tersedak. Kaget dengan yang baru saja dia dengar.


Ada rasa puas dan senang jika pernikahan itu di batalkan dan Nona menghilang dari hidupnya. Dan mungkin dengan begitu dia bisa dengan secepatnya membuat bayang-bayang Nona yang selalu saja menghantuinya menghilang untuk selamanya.


"Om minta maaf Nona. Kamu tidak bisa membatalkannya lagi karena om sudah mengumumkan pertunangan kalian minggu depan."


"APA !"


"APA !"


"Tolong jangan permalukan om dihadapan orang-orang penting yang sudah om undang."


Nona semakin merasa bersalah pada Anggara, karena keegoisannya yang lebih mementingkan dendamnya membuat hidup Anggara di pertaruhkan dengan harus menderita karena perjodohan itu.


"Andai saja aku tidak menerima perjodohan itu, mungkin tidak akan ada yang terluka sampai detik ini."


***


"Maafkan aku." Dengan penuh penyesalan. Nona sungguh merasa tidak enak pada Anggara.


Sedangkan Anggara masih hanya berdiri dihadapan Nona dengan membelakanginya.


Mereka berdua memilih untuk bertemu dan membahas masalah mereka di samping kolam. Dibawah bulan yang terlihat bulat sempurna.


Anggara masih belum mengeluarkan sepatah-katapun sedari tadi.


Cukup lama Nona menunggu apa yang akan dikatakan oleh Anggara.


Anggara menarik nafas dalam sebelum memulai percakapan.


"Ayo kita lakukan."


"Apa ?"


"Kita ikuti saja apa yang dikatakan oleh papaku."


Anggara langsung meninggalkan Nona seorang diri setelah mengucapkan kalimat itu.


Melihat Anggara yang sama sekali tidak marah atau mengamuk membuat Nona menjadi semakin merasa bersalah.

__ADS_1


***


Kaki Nona semakin membaik. Dia memutuskan untuk kembali bersekolah. Dan dua hari lagi Nona dan Anggara akan bertunangan.


"Ciee ciee ciee yang udah sembuh." Dany menggoda Nona.


"Apaan sih." Nona tersenyum. Kini Nona dan Dany memang sudah lebih dekat. Hubungan mereka terjalin cukup baik. Keduanya mulai saling terbuka satu sama lain.


"Nanti aku anterin yaa."


"Empp baiklah."


"Oh jadi ternyata kamu udah punya pacar ?" Tiba-tiba saja Nindi muncul di saat Nona dan Dany sedang menikmati makanan mereka di kantin.


Keduanya menatap ke arah Nindi yang berdiri dengan angkuh.


"Dia siapa ?" Dany bertanya karena penasaran.


"Dia pemilik rumah tempat aku tinggal." Dany mengangguk paham.


"Undang saja kekasihmu dimalam pertunangan mu nanti. Pasti akan seru." Nindi menahan kekehan nya. Menurutnya akan seru jika terjadi sesuatu di acara itu.


"Tunangan ?" Dany terkejut.


Nona memilih diam dan meninggalkan kantin. Dia tidak ingin Nindi membuat kehebohan di kantin, jika dia meladeninya. Dany langsung mengikuti Nona dan menahan langkahnya dengan menarik tangan Nona.


"Apa kamu beneran mau tunangan ?"


"Itu hanya perjodohan..." Nona menunduk dalam.


"Jadi beneran ?" Dany memastikan.


Nona mengangguk pelan, Dany menepuk jidatnya sendiri.


"Ada apa ?" Tanya Nona penasaran.


"Aku baru saja berniat untuk menembak mu!" Ucap Dany dengan serius.


Nona justru tertawa terbahak-bahak.


"Apa nya yang lucu ?"


"Kamu lucu !"


Nona kembali memulai langkahnya. Dan Dany pun mengikuti dan menyeimbangi langkah Nona.


"Jadi bagaimana ?" Tanya Dany.


"Apa nya ?"


"Rencana aku itu, menurutmu apa aku harus tetap mengutarakan isi hatiku atau menyerah saja."


"Hemm entahlah, mungkin kamu harus tetap melakukannya. Untuk tahu apa jawabannya." Sambil menaikkan bahunya.


Setelah itu mereka tertawa bersama.


💮💮💮

__ADS_1


__ADS_2