Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Ep. 27 > Next


__ADS_3

"Bik, tunggu!" Nona mempercepat langkahnya. Menghampiri Bik Inah yang hendak pulang setelah jam kerjanya selesai.


Bik Inah yang sudah berada di ambang pintu, berhenti dan berbalik. "Ada apa, Nona.?" Tanyanya pada Nona yang kini sudah meraih telapak tangannya dan meletakkan beberapa lembar uang.


"Tidak perlu, Kau sudah terlalu sering memberikan Bibik uang." Tolaknya, dia merasa tidak enak.


"Gak apa-apa Bik. Ambil aja!" Sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Tapi, Non."


Nona langsung berbalik, meninggalkan Bik Inah begitu saja. Dia ingin Bik Inah menerima uang itu, dan dia tidak ingin mendengar alasan apapun dari Bik Inah.


Melihat Nona yang berlalu pergi begitu saja. Bik Inah hanya menghela nafas.


Sebenarnya uang dari Nona cukup membantunya, mengingat kondisi ekonomi nya yang sulit. Namun dia juga tidak ingin, Nona mendapatkan masalah atas perlakuan baiknya itu.


*

__ADS_1


*


Pulang dalam keadaan mabuk. Anggara langsung masuk kedalam kamarnya tanpa menghiraukan Mamanya yang sedari tadi memanggil namanya dan terus mengikuti langkah anaknya itu.


"Anggara!" Pekik Tante Ambar yang akhirnya ikut masuk kedalam kamar Anggara. "Sampai kapan kamu akan seperti ini? Ingat, kau punya riwayat sakit jantung. Mohon jaga sedikit kesehatanmu!"


Namun, Anggara sama sekali tak menghiraukannya. Entah ia sudah tertidur atau tidak. Yang jelas, tubuhnya sudah direbahkan ke atas tempat tidur dengan mata tertutup.


Tante Ambar, hanya bisa menghela nafas. Kemudian berjalan mendekati Anggara. Meraih selimut, lalu menyelimuti anaknya. Dengan tatapan sendunya! Lalu, perlahan Tante Ambar meninggalkan kamar itu.


"Apa dia mabuk lagi?" Tanya Om Hary, ketika istrinya kembali masuk kekamar.


"Semuanya salah Papa! Dari awal kita sudah berhasil terlepas dari gadis itu. Dia tidak tahu apa-apa Pa. Untuk apa Papa justru memungut dia dan membawanya kerumah. Sampai memberitahukan semuanya pada gadis itu."


"Dia tidak tahu semuanya!"


Tante Ambar menghela nafas. "Jika sudah begini, kita hanya perlu menunggu waktu sampai dia tahu segalanya."

__ADS_1


"Baiknya kita nikahkan saja mereka. Anggara pasti sudah mulai menyukainya."


"Tidak akan! Itu tidak akan pernah terjadi."


"Ma!"


"Pa! Dengar, Mama tetap tidak akan merestui hubungan mereka. Mau ditaruh dimana muka Mama ini jika sampai memiliki menantu seperti dia."


Om Hary hanya bisa berdengus kesal. Dia tidak akan menang kalau berdebat dengan istrinya itu. Dengan sangat terpaksa, dia harus mengikuti semua kemauan istrinya.


Sebenarnya dia kasian pada Nona. Dia ingin menepati janjinya pada Pak Muklis.


"Pokoknya Mama akan mencari wanita yang sepadan dengan Anggara. Yang selevel dengan kita, sederajat dan bisa Mama banggakan dihadapan teman-teman Mama." Lanjut Tante Ambar bergebu-gebu dengan penuh penekanan.


"Terserah Mama!" Om Hary bangkit dari duduknya. Lalu, ia berlalu meninggalkan Tante Ambar seorang diri di dalam kamarnya. Ia merasa sakit kepala jika harus meladeni istrinya lebih lama lagi. Dari pada ujung-ujungnya mereka harus bertengkar, lebih baik dia pergi saja.


Sedangkan Tante Ambar, hanya menatap punggung suaminya yang berlalu pergi. Tanpa mencegahnya, ia tahu jika suaminya pasti kesal dengan ocehannya.

__ADS_1


>TO BE CONTINUED<


__ADS_2