Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Ep. 20 > Next


__ADS_3

Nona mengambil langkah, setelah dipersilahkan masuk oleh suster tersebut. Nona langsung duduk didepan Dokter yang sudah menunggunya itu.


"Nona?" Tanyanya disaat Nona sudah duduk.


"Iya." Nona tersenyum ramah ke arah Dokter tersebut.


"Perkenalkan saya Dokter yang menangani operasi Ayahmu waktu itu."


Nona kembali tersenyum, dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Dokter itu selanjutnya.


"Sebelumnya saya ingin minta maaf, karena pihak kami sudah melakukan beberapa kesalahan."


"Kesalahan?" Nona mengulangi.


"Iya, waktu itu genting sekali. Dan kami harus mengambil tindakan."


"Maksud Dokter?" Nona merasa, apa yang dikatakan Dokter tersebut sedikit membingungkannya.


Lalu, Dokter itu mengeluarkan sebuah map dari dalam laci meja kerjanya.


"Apa kau bisa tanda tangan disini?" Imbuh Dokter tersebut, setelah membuka map itu dan menyodorkannya ke arah Nona.


Sebelum menandatanganinya, Nona memilih untuk membaca berkas tersebut terlebih dahulu.


"Donor jantung?" Nona mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Iya, disaat kecelakaan itu Ayahmu terluka parah. Begitu juga dengan Pria yang menabraknya, karena dia terkejut dan memiliki penyakit jantung. Akhirnya kondisinya pun memburuk."


"Lalu?"


"Ayahmu mengizinkan kami untuk memberikan jantungnya pada pria itu."


"Begitu saja? Lalu, bagaimana mungkin Ayahku bisa mengizinkan kalian memberikan jantungnya? Bagaimana Ayahku bisa tahu, kalau pria itu membutuhkan transplantasi jantung?" Nona sedang menahan tangisnya, rasa terkejutnya juga hampir membuat dia sakit jantung. Masalah ini sedikit rumit untuk dia mengerti.


"Sebelum kami menerima izin darinya, dia sudah sempat berbicara dengan pihak keluarga pria tersebut." Dokter itu menelan salivanya, dia tidak menyangka Nona se-terkejut itu.


"Apa-apaan ini. Bagaimana mungkin kalian mengambil keputusan tanpa menunggu izin dari walinya. Dan langsung mengambil keputusan begitu saja, dia sedang sekarat. Dan kalian-" Kalimat Nona terputus, dia merasa juga percuma jika memarahi Dokter itu. Yang harus dimintai penjelasan saat ini adalah pihak Anggara.


Dia butuh menemui Om Hary saat ini, dia butuh penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi? Nona bangkit dari duduknya, dia harus pergi dari ruangan itu.


Langkahnya dicegat oleh salah satu suster disaat keluar dari ruangan Dokter itu.


Awalnya Nona ingin tak memperdulikan suster tersebut. "Aku tahu apa yang terjadi!" Imbuhnya dan menghentikan kaki Nona. Nona berhenti dan berbalik menghadap ke arah suster tersebut.


"Apa yang kau tahu?" Tanya Nona dengan lindangan air matanya.


*


Suster tersebut membawa Nona ke rooftop, disana dia mulai menceritakan kronologinya.


"Hari itu, Ayahmu dilarikan kerumah sakit ini setelah mengalami kecelakaan. Beliau mengalami luka parah! Begitu pun pria yang sudah menabrak Ayahmu, dia juga dilarikan kerumah sakit ini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Yang aku tahu, dia menderita penyakit jantung dan kecelakaan itu membuat dia shock. Mereka berdua sama-sama kritis. Namun, disaat aku membantu Dokter menangani Ayahmu, Ibu dari pria itu meminta Ayahmu mendonorkan jantungnya untuk Anaknya. Ucapannya terdengar seperti paksaan, bagaimana mungkin dia meminta persetujuan dari orang yang sedang kritis. Ayahmu berada di antara sadar dan tidak sadar, namun karena kekuasaan yang mereka miliki. Mereka bisa membungkam Dokter dan melakukan tindakan dari sebelah pihak." Suster itu terlihat emosi, dia tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan.

__ADS_1


Sedangkan Nona, jantungnya sudah kembang kempis mendengar apa yang diceritakan oleh Suster itu. Dia merasa keluarga Anggara benar-benar kejam kepada Ayahnya. Bagaimana mungkin mereka bisa berlakon sok baik setelah benar-benar telah merenggut nyawa Ayahnya.


"Lalu aku juga mendengar, orang tua pria itu memberikan janji-janjinya pada Ayahmu. Ketika Ayahmu menolak permintaan mereka, karena dia berkata  masih memiliki tanggung jawab untuk menghidupi Anak gadisnya. Apa mereka benar-benar melakukannya?" Suster itu memastikan.


"Apa yang mereka janjikan?"


"Mereka akan menjagamu layaknya Anak sendiri. Mereka akan menggantikan Ayahmu untuk menjagamu dan menjamin kehidupanmu menjadi lebih layak. Dan putra mereka akan menikahimu! Dan sepertinya kalimat itu yang menjadi senjata bagi mereka untuk membuat Ayahmu menjadi yakin.


Nona terdiam. Jadi, itu sebabnya Om Hary berniat menikahkannya dengan Anggara.


"Apa mereka menepatinya janji mereka?" Suster itu kembali bertanya.


Nona mengangguk pelan.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Suster tersebut lega. "Aku hanya takut mereka tidak menepati janji mereka, dan Ayahmu tidak mendaptkan keadilannya. Tapi, jika mereka memang menepati janjinya, aku turut bahagia. Semoga mereka memang orang-orang baik yang Tuhan kirimkan untuk menggantikan sosok Ayahmu dalam hidupmu." Imbuh Suster itu bijak.


Nona tersenyum pilu. Tetap saja, tidak ada yang bisa menggantikan sosok Ayahnya dalam hidup Nona. Hanya disa satu-satunya keluarga yang dimiliki Nona selama ini.


***


Setelah meninggalkan rumah sakit, Nona langsung menuju kediaman Om Hary. Walaupun dia sudah tahu kronologinya, tetap saja. Dia butuh penjelasan yang lebih detail dari pihak keluarga Anggara.


*


Namun apa yang didapatinya ketika sampai dirumah yang dia tuju. Rumah itu sepi bak tak berpenghuni!

__ADS_1


^TO BE CONTINUED^


__ADS_2