
Deon, kembali menghampiri Nona setelah beberapa menit.
"Ayo." Imbuhnya sambil kembali menarik koper miliknya.
Sedangkan Nona, masih hanya mengikutinya dari belakang tanpa berkata sepata katapun.
Langkah lemahnya hanya bisa mengikuti Deon, seperti bayangan.
*
Nona, hanya memandang ke arah luar jendela pesawat. Takjub dengan pemandangan dari atas sana. Namun, juga dibuat gundah dengan apa yang harus dihadapinya setelah ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di tempat yang akan dituju. Yaitu rumah Deon, yang berada di luar negri. Rumah itu sudah ditinggalkan cukup lama.
"Kamarmu ada dilantai dua. Pergi dan istirahat!" Imbuh Deon sambil merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa ruang tamu.
Nona, sempat ragu-ragu awalnya. Haruskah ia mengikuti perkataan Deon? Tapi, tubuhnya pun juga sudah sangat lelah dan terasa kaku. Hanya duduk dan terkadang juga berbaring di kursi pesawat tanpa banyak bergerak.
Nona, mengambil langkah. Setelah sempat berdiam diri cukup lama. Menatap Deon yang sudah memejamkan matanya. Ia naik ke lantai dua, lalu masuk ke sembarang kamar. Ia tak perduli, kamar siapa yang ia masuki itu. Benarkah kamar yang dimaksud Deon untuk dirinya, atau bukan. Entahlah! Yang penting ia sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu terlelap.
__ADS_1
***
Nona begitu menikmati tidurnya. Hingga lupa berapa lama ia sudah tertidur. Ia tersentak dan dengan cepat langsung bangun. Turun kembali ke lantai satu, setelah tersadar itu sudah waktunya makan malam.
"Maaf Tuan, aku ketiduran." Pintanya, saat berpas-pasan dengan Deon.
Sedangkan Deon, tak menggubris sama sekali kepanikan yang sedang melanda Nona. Ia masih sibuk dengan ponselnya, bahkan tak memperdulikan jalan yang sedang ia lalui.
"Tuan." Nona dengan cepat langsung meraih lengan Deon, untuk menghentikan langkah Deon. Karena jika Deon berjalan beberapa langkah lagi, ia akan menabrak sofa.
Deon tersadar, lalu menoleh kedepan. "Makasih." Imbuhnya, setelah itu menghindar sedikit.
Nona meraih celemek yang tergeletak di atas chicken set, memakainya lalu membuka kulkas. Ia baru sadar setelah membuka kulkas yang ternyata kosong tak berpenghuni.
Nona baru sadar, ia sedang berada dirumah lain dari Tuannya itu. Mereka baru saja sampai beberapa jam yang lalu. Wajar saja jika kulkas dan makanan dirumah itu masih kosong.
"Ma-maaf Tuan. Kulkasnya kosong, jadi saya tidak Tahu harus.." Ucap Nona terputus.
"Makanannya ada di meja makan. Kau boleh makan jika lapar." Imbuh Deon dingin, bak sedingin kutub Utara.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Nona kembali berjalan menuju dapur. Membuka celemeknya, setelah itu kembali ke kamar. Tanpa makan, ia terburu-buru tadinya hanya untuk menyiapkan makan malam untuk Deon. Jika Tuannya itu sudah makan, maka menurutnya tugasnya sudah selesai. Ia boleh kembali beristirahat sekarang.
"Kau tidak makan?" Tanya Deon kemudian, saat menyadari Nona hendak kembali naik ke lantai dua.
Nona menghentikan langkahnya, berbalik kembali ke arah Tuannya.
"Tidak Tuan, aku belum lapar." Nona kembali mengambil langkah. Bergegas untuk kembali ke kamarnya.
Sedangkan dari belakang, Deon masih menatap punggung Nona yang berlalu pergi.
*
*
"Apa tidak bisa, jika kalian saja yang pergi?" Tolak Anggara.
Ajakan makan malam dari Ayah, Sarah.
^TO BE CONTINUED^
__ADS_1