
"Nona.." Panggil Bik Inah disaat keduanya sedang berjalan menuju pangkalan ojek.
"Iya Bik."
"Bibik minta maaf, soal semalam."
"Kenapa Bibik yang minta maaf, kan bukan salah Bibik."
"Walaupun, Bibik tetap merasa tidak enak. Karna kan Bibik yang mengajak kamu untuk bekerja disana."
"Gak apa-apa Bik."Imbuh Nona sambil menggenggam lembut tangan wanita paruh baya yang sedang berjalan beriringan dengan Nona itu.
***
Dari luar saja, sudah terdengar suara ribut dari kedua majikannya itu. Nona dan Bik Inah saling tatapan, ragu-ragu untuk masuk kedalam ruamh itu.
"Apa nggak apa-apa kalau kita masuk sekrang Bik." Tanya Nona, jujur saja dia takut untuk masuk kedalam sana. Pasti kedua majikannya sedang mempermasalahkan amplop yang diterimanya tadi malam.
"Mudah-mudahan saja tidak, kan kita datang untuk bekerja. Bukan untuk mecampuri urusan mereka."
Bik Inah memilih masuk kedalam rumah itu. Begitupun dengan Nona, yang akhirnya memberanikan diri untuk masuk walaupun sebenarnya, hatinya sudah berdegup kencang.
Sepasang suami istri itu sedang bertengkar hebat di lantai dua rumahnya. Sedangkan Nona, sedari tadi terus saja mengekori Bik Inah kemana pun dia pergi.
__ADS_1
"Sudah, kamu naik saja ke atas. Bereskan pekerjaanmu."
"Nggak berani Bik. Gimana kalau nanti aku kena marah lagi." Rengek Nona, dia benar-benar takut kena tampar lagi seperti semalam.
"Kan ada Tuan, Nyonya Alice gak akan berani."
"Tapi Bik-"
"Cepat selesai, cepat kita pulang." Tambah Bik Inah lagi, mencoba meyakinkan Nona.
"Hufttt.. Baiklah kalau begitu." Nona berjalan menuju tempat penyimpanan peralatan kerjanya, seperti vacuum cleaner, kemoceng dan lain-lain. Setelah berdiri cukup lama didalam sana, Nona memilih kemoceng. Dia akan memastikan keadaan di atas terlebih dulu, jika aman. Dia baru akan membawa vacuum cleaner nantinya.
*
"Hei kamu!" Nah kan benar. Baru saja Nona menginjakkan kaki di lantai dua. "Sini!" Lanjut Alice dengan penuh amarah.
"I-iya Nyonya.." Nona menunduk dalam-dalam ketika sudah berada tepat dihdapan kedua majikannya itu.
"Jangan libatkan orang lain dalam masalah kita, Alice !"
"Salahnya, mengapa menerima itu."
"Dia hanya mengikuti perintahku, aku yang menyuruhnya memberikan itu padamu."
__ADS_1
"Seharusnya dia tidak menerima itu, harusnya kau sendiri yang memberikannya."
"Alice ! Jangan konyol dan seperti anak-anak! Ini hanya masalah sepele."
"Sepele katamu?" Diiringi kekehannya. Alice masih meninggikan suaranya, padahal air mata terus saja mengalir di pipi mulus Alice .
Sedangkan Nona, masih menunduk dan tidak berani mendongakkan wajahnya sama sekali.
"Kau menitipkan surat cerai pada wanita ini, dan meminta ku menandatanganinya. Lalu kau berharap apa? Berharap aku akan menandatangani surat itu begitu saja dan pergi dari rumah ini? Begitukah maumu!"
Nona sedikit terkejut mendengar kalimat itu, mengapa Tuan Deon menceraikan Nyonya Alice . Padahal selama ini mereka hidup damai dan baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.
"Dan kau!" Tunjuk Alice ke arah Nona.
"Aku menceraikanmu bukan tanpa alasan!" Imbuh Deon, dan menghentikan mulut Alice yang siap memaki Nona. Hanya karena dia menerima amplop itu!
"Apa! Katakan padaku apa alasanmu?" Alice kembali menoleh ke arah Deon. Dia benar-benar ingin tahu, alasan apa yang dimiliki suaminya itu, sampai berniat menceraikan dirinya.
"Aku akan menikahi Dia."
Mata Alice terbelalak membulat sempurna ketika melihat ke arah mana Deon mengarahkan telunjuknya.
"Apa kau gila Deon?" Pekik Alice kembali memuncah.
__ADS_1
Sedangkan Nona, masih menunduk dalam. Dan sama sekali tidak tahu kalau Deon menunjuk ke arahnya.
^TO BE CONTINUED^