
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu, membangunkan Nona dari lelapnya. Saat bangkit dari tempat tidur, Nona melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 03:45 pagi. Tentu saja, dia sudah bisa langsung menebak, jika itu pasti Deon. Tapi, untuk apa Deon membangunkan Nona?
"Iya, Tuan. Ada apa?" Tanya Nona ketika sudah membuka pintu kamar, dan benar yang berdiri didepan pintu itu Deon.
"Maaf mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin memberikan ini." Deon menyodorkan sebuah paper bag.
"Terimakasih." Ucap Nona sekenanya, ia masih sangat mengantuk. Dan ingin cepat-cepat kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Yasudah, kembali tidur sana."
"Baik Tuan." Dengan cepat, Nona langsung menutup pintu kamarnya. Tidak perduli, walaupun Deon masih berada tepat di didepan kamarnya dan belum beranjak. Yang jelas ia ingin cepat-cepat kembali memejamkan matanya.
*
*
Dan paginya, Nona sudah menyibukkan dirinya didapur menggantikan Bik Inah.
"Bik Inah mana?" Tanya Deon, saat melihat justru Nona yang pagi ini menyajikan sarapan untuknya.
"Bik Inah hari ini gak masuk Tuan, Anaknya udah dua hari sakit. Jadi hari ini rencana mau di bawa kerumah sakit."
Tak ada jawaban, atau tanggapan selanjutnya. Ya, seperti itulah Deon. Ia sangat irit bicara dengan Nona. Pun begitu dengan Nona, yang juga merasa tidak perlu banyak bicara dengan Tuannya itu, yang kini sudah menjadi suaminya.
Setelah menghidangkan makanan di atas meja makan, Nona berlalu pergi. Seperti biasa, mereka tidak pernah makan di meja yang sama.
__ADS_1
"Tunggu!" Imbuh Deon, yang membuat Nona menghentikan langkahnya. Lalu berbalik, kembali menghadap ke arah Deon.
"Tuan butuh sesuatu?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."
Nona sempat termenung sesaat. Ini untuk pertama kalinya setelah 3 bulan mereka menikah, Deon mengajaknya mengobrol.
"Apa kau sibuk?" Tanya Deon, yang melihat Nona hanya termenung.
"Hah.. Ti-tidak Tuan." Nona mengambil langkah, lalu duduk tepat di hadapan Deon.
"Sepertinya kau harus ikut denganku." Tanpa menatap ke arah Nona, Deon berbicara sambil terus melanjutkan makannya.
"Ikut Tuan? Kenapa?" Tanya Nona hati-hati.
"Apa boleh jika aku tidak ikut?"
"Tidak!"
Tepat setelah suapan terakhir, Deon bangkit dari duduknya. "Kemaskan barang-barangmu!" Imbuhnya, setelah itu berlalu pergi.
Sedangkan Nona, hanya bisa menghela nafas dalam. Dia seperti dikurung didalam sangkar! Deon melarangnya keluar rumah, melarangnya membuka pintu untuk siapapun yang datang kerumah itu, kecuali Bik Inah. Mau tidak mau dia harus menuruti semua perkataan Deon itu. Ia tetap tidak keluar dari rumah, walaupun disaat Deon tidak berada dirumah. Bagaimana tidak, ada dua security yang sudah mendapatkan perintah khusus dari Deon. Dan menjaga kediaman itu dengan ketat. Tak ada celah bagi Nona untuk keluar, walau satu langkah.
Kini, ia hanya bisa menertawakan dirinya sendiri.
"Kau salah besar Nona, Anggapanmu salah. Menikahi Deon, tidak menjamin kau bisa membalaskan dendammu pada Anggara. Untuk apa uang dan fasilitas yang ia berikan, ketika kamu hanya di penjara olehnya."
__ADS_1
*
*
Tok! Tok!
Nona memberanikan diri untuk menemui Deon diruang kerjanya.
"Masuk.."
Nona membuka pintu itu perlahan, lalu masuk kedalamnya. Berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Deon.
Sebenarnya, setelah bercerai dari Rina dan memilih untuk menikahi Nona. Deon terlihat sangat berbeda dari dulu, dari awal-awal Nona mengenal Tuannya itu. Walaupun dari dulu ia memang irit bicara, tapi paling tidak ia tahu caranya tersenyum. Caranya menunjukkan wajah ramahnya. Tidak seperti sekarang!
Nona bahkan sudah dibuat menciut hanya dengan tatapan tajam dan wajah datar Deon.
"Ada apa?" Tanya Deon datar.
"Ma-maaf Tuan, saya mau izin keluar sebentar. Mau ziarah ke kuburan Ayah saya."
"Apa itu penting?"
Nona yang tadinya menunduk, kini mendongakkan wajahnya karena pertanyaan itu. Sedangkan Deon, tak bergeming. Ia masih disibukkan entah dengan apa di depan laptopnya. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nona.
"Tentu saja!" Sarkas Nona, dengan linangan air mata.
^TO BE CONTINUED^
__ADS_1