Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Ep. 29 > Next


__ADS_3

Nona mengambil langkah, keluar dari ruang kerja Deon dengan kecewa. Sedangkan Deon, keras hati tak menggubris sedikitpun rasa kecewa Nona padanya. Ia membiarkan Nona berlalu begitu saja. Ia tidak perduli, seberapa kecewanya Nona pada dirinya.


Tak ada yang bisa Nona lakukan kecuali menangis seorang diri didalam kamarnya. Menyesali keputusannya menikahi Deon? Tentu, Nona sangat menyesali keputusannya itu. Namun, tak ada yang dapat ia lakukan.


"Persetan dengan balas dendam itu. Mengapa semuanya justru menjadi seperti ini?"


*


Deon, kembali mengetuk pintu kamar Nona untuk kesekian kalinya.


"Nona buka pintunya, atau akan aku buka dengan paksa." Sarkas Deon sedikit emosi, ketika Nona berulah tak membuka pintu kamarnya. Padahal saat itu mereka sudah hampir terlambat ke Bandara. Sesuai dengan apa yang di katakan Deon, ia akan membawa Nona ikut bersamanya. Namun sudah hampir 30 menit Deon mengetuk pintu kamar Nona, tapi Nona tetap tak kunjung keluar.


"Oke! Baiklah jika itu maumu." Deon melangkah pergi, menjauh dari kamar Nona.


Sedangkan didalam sana, Nona masih berbaring di atas tempat tidur. Dengan sengaja mengabaikan Deon, walaupun ia tahu apa yang ia lakukan akan membuat Deon marah.

__ADS_1


Setelah hening beberapa saat. Nona pikir, ia sudah aman. Dan Deon sudah pergi tanpa dirinya.


Nona baru saja menghela nafas lega. Sampai akhirnya suara pintu yang di dobrak membuat ia tersentak.


Kedua security itu berhasil membobol pintu kamar Nona dengan mendobraknya.


"Kalian boleh pergi sekarang." Perintah Deon, pada kedua security nya itu. Ia melangkah masuk kedalam kamar Nona. Menatap beringas ke arah Nona yang sudah pucat pasi.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Deon sambil berlipat tangan didepan dadanya.


"Kau ikut aku dengan baik-baik? Atau ingin sebaliknya?" Tanya Deon untuk sekian kalinya.


Bibir Nona kelu, perasaan tertekan yang ia rasakan padahal ingin di ungkapkannya. Namun, entah mengapa ia tak bisa mengatakan seluruh isi hatinya.


Deon sudah tidak punya banyak waktu untuk menunggu penjelasan apapun dan jawaban yang tidak kunjung keluar dari mulut Nona.

__ADS_1


"Ch!" Deon melangkah mendekati Nona, lalu membopong tubuh mungil Nona dan membawanya keluar.


"Tuan aku bisa jalan sendiri." Nona menjadi tambah kikuk


"Ah kelamaan." Deon tak menghiraukan perlawanan Nona. Ia sudah berhasil membawa Nona keluar dari kamar bahkan rumahnya, memasukkan Nona kedalam mobil setelah itu melaju menuju Bandara.


ia benar-benar sudah tak punya waktu, atau mereka akan ketinggalan pesawat.


Nona, hanya bisa terdiam seribu bahasa. Duduk sambil memandang ke arah luar jendela mobil. Ia bahkan tak berani melirik ke arah Deon, yang juga sedang terdiam seribu bahasa. Seakan tak ada pembahasan diantara keduanya. Deon tetap fokus mengemudi, sambil sesekali melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


*


Turun dari mobil, tanpa menenteng satu pun tas atau koper. Nona hanya bisa mengikuti langkah Deon yang memasuki Bandara. Ia, masih menggunakan kaos oblong dan celana tidur. Semua tatapan jelas tertuju ke arahnya. Tatapan aneh dari setiap orang melihatnya cukup membuat Nona risih. Namun, itu tak berlaku untuk Deon. Ia tetap berjalan santai dengan menggunakan kacamata hitam dan setelan casualnya.


"Tunggu disini." Deon menyerahkan koper kepada Nona, dan memintanya untuk menunggu di tempat tunggu. Setelahnya, ia berlalu entah kemana. Sedangkan Nona, hanya bisa patuh. Menunggu Deon di ruang tunggu.

__ADS_1


^TO BE CONTINUED ^


__ADS_2