
____ Alam tidak akan selalu menghukummu, adakalanya, langit juga akan berpihak padamu. Entah itu sekarang, atau nanti! ____ ^Author^
Setelah menerima panggilan masuk dari Pak Zainal, yang memintanya untuk bertemu. Om Hary langsung bergegas menuju PK Group. Walapun ia sendiri tidak tahu, mengapa Pak Zainal tiba-tiba memintanya untuk bertemu.
*
Tok!Tok!
"Pak, Pak Hary sudah datang." Imbuh Sekretaris Pak Zainal memberitahukan.
"Suruh masuk." Pak Zainal bangkit dari balik meja kerjanya, untuk menyambut kedatangan Pak Hary.
"Selamat siang, Pak." Sapa Om Hary sambil berjabat tangan dengan Pak Zainal ketika sudah masuk kedalam ruang kerja Pak Zainal.
"Selamat siang, Pak Hary. Ayo silahkan duduk, silahkan duduk." Pak Zainal mempersilahkan Pak Hary untuk duduk. Setelahnya, ia juga ikut duduk bersama Om Hary di sofa yang berada di tengah-tengah ruangan itu. "Maaf sudah mengganggu waktu Anda." Imbuh Pak Zainal kemudian.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, saya memang sedang senggang siang ini." Imbuh Om Hary, sambil sedikit terkekeh. Sebenarnya, ada dua perasaan yang sedang melandanya. Senang dan was-was. Senang, karena akhirnya, hubungan keduanya semakin leluasa. Jika sebelumnya, cukup sulit untuk bisa bertemu dengan orang terkaya di urutan nomor 5 itu. Namun, setelah Anggara menandatangani kontrak kerja sama di antara kedua perusahaan itu. Kini, justru Pak Zainal yang mengundangnya secara langsung untuk bertemu.
Sedangkan rasa was-was itu, muncul karena ia takut. jikalau ternyata, Nona sudah mengadukan perbuatan yang pernah mereka lakukan. Bukankah apa yang sudah mereka lakukan, bukan hal yang terpuji. Kabur dari tanggung jawab, dan mengingkari janji setelah memberi harapan.
"Jadi begini Pak, maksud dari undangan saya kali ini adalah untuk membahas tentang putra putri kita." Pak Zainal langsung ke inti, tanpa perlu basa basi lebih panjang. Ia bukan orang yang suka bertele-tele dalam berbicara."
Om Hary sedikit mengernyitkan keningnya, tentu saja. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Pak Zainal itu.
"Apa Anda tidak tahu, jika putri saya sudah menyukai Anggara sejak masih di SMU." Lanjut Pak Zainal kemudian.
Membuat Om Hary terbelalak tak percaya. "Benarkah?" Tanyanya memastikan.
Sedangkan Om Hary, hanya bisa terdiam. Otaknya mulai berfikir. Pantas saja, ketika Anggara yang menangani project itu akhirnya ia bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan begitu mudah. Berarti semua itu karena Sarah!
"Jadi bagaimana menurut Anda? Apa kira-kira Anggara akan setuju, jika mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius?" Pertanyaan selanjutnya yang di ajukan Pak Zainal, membuat Om Hary menelan salivanya.
__ADS_1
Apa itu tidak terkesan egois?
"Emm.. " Om Hary mulai gelagapan, jika tidak mungkin bisa memutuskan semua itu dalam sedetik. Ada hal yang harus di bahasnya dengan keluarganya bukan, terlebih pada orang yang bersangkutan. Yaitu Anggara!
"Bagaimana Pak Hary? Anda tahu saya kan, saya paling tidak suka menunggu!" Imbuh Pak Zainal kemudian.
"Bisa! Tentu saja bisa. Saya pastikan Anggara akan setuju dengan permintaan Anda itu." Jawab Om Hary tanpa berfikir lagi. Sekeras apapun ia berfikir, ia tidak akan menemukan alasan yang tepat untuk menolak permintaan yang menguntungkan itu. Hubungan yang terjalin antara Anggara dan Sarah pasti akan menguntungkan semua pihak.
Pak Zainal kembali tertawa dengan suara yang bergelegar. "Saya tidak menyangka Anda akan memutuskannya secepat itu. Saya suka saya suka." Sambil mengangguk-anggukan kepala dan kekehannya yang seakan sulit dihentikannya. Pak Zainal sangat senang dengan keputusan yang di ambil Om Hary itu.
***
Om Hary, kembali keperusahaan. Wajah datarnya cukup menarik perhatian.
"Ada ada, Pa?" Tanya Anggara, ketika mendapati Papa nya kembali dari PK Group dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Bulan depan kau akan bertunangan dengan Sarah!"
>>>