Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Ep. 39 > Next


__ADS_3

Pagi kembali menyongsong, embun mulai membasahi bumi. Nona bangun dengan semangat baru. Bersiap menyambut hari baru dalam hidupnya. Ia begitu semangat, ketika membayangkan balas dendam nya akan segera dimulai.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Nona, ketika keduanya keluar dari kamar dalam waktu yang bersamaan.


"Pagi." Balas Deon sekenanya.


"Aku sudah siapkan sarapan untuk Anda." Kalimat itu menghentikan langkah Deon yang memang akan menuju ruang makan. Deon menoleh ke arah Nona yang masih berdiri tepat didepan pintu kamarnya. Raut wajah Nona tampak ceria, tak seperti biasanya.


"Kau tidak sarapan?" Tanya Deon kemudian.


"Nanti saja." Sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Setelah aku selesai?" Deon memastikan.


"Emm.." Nona mengangguk cepat.


"Temani aku sarapan sekarang!" Sarkas Deon, setelah itu langsung berlalu pergi.


"Hah!" Sambil mengernyitkan keningnya. "Apa aku tidak salah dengar?"


Nona melangkah perlahan, menuju ruang makan. Sekaligus untuk memastikan, jika ia tidak salah dengar dengan ucapan Deon barusan.


"Ayo cepat!" Ucapan Deon itu membuat Nona mengambil langkah lebih cepat. Dan kini, ia sudah duduk tepat di hadapan Deon.


"Kapan aku boleh mulai bekerja?" Nona memastikan, jika kesepakatan mereka semalam benar-benar sudah disetujui oleh Deon.


"Selesaikan dulu sarapan mu, setelah itu baru berbicara." Deon memperingati, sepertinya ia juga menerapkan peraturan yang digunakan oleh Pak Zainal. Atau mungkin karena itu sudah jadi kebiasaannya.

__ADS_1


"Emm.." Nona hanya mengangguk pelan.


Suasananya pun jadi hening seketika. Hanya suara dentingan sendok yang berbentur dengan piring yang terdengar.


*


Setelah membereskan meja makan, Nona kembali menemui Deon yang sedang santai diruang tengah sambil menonton.


"Apa sekarang aku boleh berbicara?" Nona ikut duduk di sofa ruang tengah.


"Silahkan!"


"Jadi kapan aku bisa mulai bekerja?"


"Kapan saja yang kau inginkan." Deon bahkan tak menoleh sedikit pun, tatapannya masih fokus menonton televisi yang menyiarkan tentang berita dalam negeri.


"Lalu, Tuan sendiri? Kapan Tuan akan mulai bekerja?"


"Minggu depan."


"Kenapa lama sekali?"


"Jika kau ingin, kau bisa langsung kekantor, dan bekerja tanpa aku!"


Nona menghela nafas kasar.


"Dia sedang bergurau, atau apa? Sama sekali tidak lucu!" Gumam Nona.

__ADS_1


"Apa kau akan bekerja dengan menggunakan bajuku?" Kalimat Deon itu menyadarkan Nona. Ia menunduk, menatap tubuhnya yang sedang menggunakan T-shirt Deon, dan celana training Deon.


Yap, Nona berangkat dan melakukan penerbangan hanya menggunakan piyama bukan. Selain itu, ia tak punya baju satu pun. Kecuali satu lagi, gaun yang diberikan Deon saat akan pergi makan malam itu.


Tidak mungkin Nona menggunakan gaun itu untuk sehari-hari bukan. Akhirnya, Deon dengan berbesar hati meminjamkan baju dan celana nya untuk Nona.


"Pesan saja apa yang kau inginkan." Deon, menyodorkan ponselnya ke arah Nona. Dengan layar yang sudah membuka marketplace online.


Bukannya menerima ponsel itu, Nona justru hanya menatap Deon heran.


"Apa kau tidak mau?" Gertak Deon kemudian.


"Mau!" Nona langsung meraih ponsel yang sedang disodorkan Deon itu.


"Apa dia memang sebaik ini?"


Nona mulai memilih apa saja yang ia rasa perlu.


"Ini, aku kembalikan! Terimakasih, Tuan."


"Sudah selesai?" Deon menoleh heran.


"Emm.." Nona mengangguk dengan penuh keyakinan.


Setelah itu beranjak kembali ke kamarnya.


"Keahlian belanjanya sangat buruk." Deon kembali memeriksa apa saja yang sudah di pesan oleh Nona.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2