
Nona keluar dari kamar Deon, dengan kalimat terakhir Deon yang terus saja tengiang-ngiang dalam benaknya. "Apa dia serius?" Nona kembali menoleh ke belakang. Tepatnya kearah pintu kamar Deon yang tertutup rapat. Lalu tubuhnya merinding tiba-tiba, membayangkan jika sampai Deon benar-benar serius dengan ucapannya itu.
Sedangkan didalam kamar sana, Deon sama sekali tak menggubris serius percakapannya dengan Nona tadi. Ia bangkit dari duduknya, lalu melanjutkan niatnya untuk mandi.
Didalam kamar mandi, Deon hanya berdiam diri. Membiarkan air hangat yang keluar dari shower itu menghujani tubuhnya.
Kini, bayangan Alice kembali terngiang dalam ingatan Deon. Tak ada yang tahu, seberapa sakit Deon menerima pengkhianatan itu. Karena sikapnya yang dingin dan tertutup, jadi tak ada yang tahu. Jika Deon, sedang tidak baik-baik saja.
2 Tahun, ia menyembunyikan rasa sakit itu. Bahkan, Alice sendiri tidak tahu. Jika perselingkuhannya telah diketahui oleh Deon. Segala cara ia lakukan, agar Alice dapat berubah. Namun, nyatanya sia-sia.
Alice terbiasa hidup bebas, tak mau dikekang. Deon menurutinya, bahkan saat Alice berencana untuk tidak mau memiliki anak. Deon pun mengiyakan!
Deon rela melakukan apapun asal Alice bahagia. Rasa cinta dan sayangnya membutakan mata Deon.
Dan pada akhirnya, Deon menyerah!
__ADS_1
Bertahan selama 2 tahun benar-benar membuat ia kelelahan.
Hingga, ide untuk menikahi Nona terlintas begitu saja. Itu ia lakukan agar terlepas dari jerat Alice. Keegoisan Alice membuat Deon merasa sesak. Ia tidak ingin melepaskan Deon, namun ia juga tidak bisa mengubah kebiasaannya untuk berselingkuh.
Walalupun memilih bercerai, namun Deon masih tetap menjaga nama baik Alice. Lalu mengorbankan nama baiknya sendiri.
Ia dianggap telah berselingkuh dari Alice, sehingga mereka bercerai.
*
"Apa dia sengaja melakukannya, untuk balas dendam." Tebak Tante Ambar.
"Ma, Nona bukan orang yang seperti itu." Bela Anggara.
"Iya, lagipula bagaimana bisa dia tahu kalau perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan Pak Zainal. Terlalu tidak masuk akal jika ia bisa tahu itu, dan dengan sengaja menikah dengan putra Pak Zainal hanya karena itu." Om Hary, akhirnya juga memberi komentar.
__ADS_1
"Tapi ini terlalu kebetulan!" Tante Ambar menghela nafas kasar, sambil memijat pelan keningnya. Kejadian ini membuat ia merasa pusing, jika semakin di pikirkan.
"Sudahlah Ma, jangan jadikan hal ini beban. Jalani saja! Lagi pula, Nona tidak akan mungkin mengusik kita." Om Hary mencoba menenangkan istrinya.
Sedangkan Anggara, kini hanya terdiam tanpa berkomentar apapun lagi. Pikirannya melayang entah kemana. Perasaannya kini sudah campur aduk.
"Anggara istirahat dulu." Anggara beranjak dari duduknya, berjalan dari ruang keluarga menuju kamarnya. Sedangkan Tante Ambar dan Om Hary, hanya bisa memandang punggung Anggara yang sudah berlalu pergi.
"Bagaimana jika Nona sampai mengadukan perbuatan kita pada Pak Zainal." Tante Ambar melanjutkan.
"Ma, sudahlah. Justru jika Mama berfikiran buruk seperti itu, maka itu yang akan terjadi. Sebaiknya kita juga istirahat, ini sudah larut." Om Hary beranjak dari duduknya, sambil menggandeng tangan istrinya untuk ikut bersamanya kekamar.
*
Anggara, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. "Nona, mengapa kau kembali lagi dalam hidupku!" Lirih Anggara, ada sesuatu yang mengganggunya jauh dalam lubuk hatinya. Ketika tatapannya menatap netra Nona sewaktu dirumah Pak Zainal tadi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...