
Baru saja memasuki gerbang sekolahnya. Nona sudah dicegat oleh tangan Dany, yang meraih tangan Nona dan langsung membawanya ke belakang sekolah. Menurutnya, itu tempat yang paling aman bagi mereka membahas permasalahan mereka. Tanpa harus ada mata yang memperhatikan.
Sedangkan Nona, hanya mengikut saja. Dia juga tidak mau terus saja menghindari Dany. Dia ingin memperjelaskan, dan memutuskan hubungan mereka secara baik-baik.
"Kau harus mendengarkan penjelasanku, kali ini."
“Baik! Akan aku dengarkan. Silahkan jelaskan.” Imbuh Nona datar. Tanpa mau menatap mata Dany, Nona menarik
lengannya kasar agar terlepas dari genggaman tangan Dany.
“Gadis itu anak sahabat Mamaku,hari itu aku terpaksa jalan dengannya. Karena Mamanya memintaku untuk menemaninya berbelanja. Dan aku tidak mungkin mengakui hubungan kita didepannya, karena dia akan mengadu pada Mamaku!”
Nona masih terdiam, dan mendengar penjelasan Dany dengan malas. Rasanya alasan yang diberikan terlalu tidak masuk akal.
“Sudah selesai?” Tanya Nona kemudian.
“Kau mau memaafkan ku, bukan.”
“Iya, aku memaafkanmu.”
“Terimakasih Nona, aku tahu kau pasti akan memaafkanku.” Imbuh Dany dengan wajah berbinar. “Berarti kita-“
“Aku akan menikah dengan Anggara!” Imbuh Nona mematahkan semangat Dany. Dengan begitu percaya diri, Nona
__ADS_1
mengucapkan kalimat itu tanpa ragu sedikitpun.
Dany mengernyitkan keningnya. “Tapi-“
“Aku memaafkanmu Dany, tapi bukan berarti aku akan Kembali bersamamu.”
“Jadi kau akan menikah dengan laki-laki itu?”
“Iya!”
“Apa kau yakin? Dia bukan orang yang baik dan tepat untukmu.”
“Paling tidak dia tidak sepertimu.”
“Kau salah Nona. Keputusanmu ini keliru.” Dany masih mencoba meyakinkan Nona.
Tidak dapat dipungkiri, Nona memang jatuh hati Ketika melihat Anggara untuk pertama kalinya. Namun rasa benci karena Anggara telah menabrak Ayahnya membuat dia meredamkan rasa suka itu dalam-dalam. Dan sekarang, rasa suka itu Kembali timbul, Ketika Nona memutuskan untuk memaafkan Anggara. Dia sadar, meninggalnya ayah Nona bukan karena Anggara, tapi karena memang sudah ajalnya.
Nona langsung meninggalkan Dany disana seorang diri. Lalu bergegas Kembali ke kelas.
Grrttt ….
Dering ponsel Nona, menghentikaan langkahnya di ambang pintu kelas.
__ADS_1
“Hallo..” Ucapnya setelah menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal itu.
“Benar saya berbicara dengan Nona Vahirra?”
“Iya benar.”
“Bisa Anda kerumah sakit Kartika? Karena ada beberapa berkas dari Alm.Pak Muklis yang harus Anda ambil.”
“Hari ini saya tidak bisa, apa boleh saya mengambilnya besok?”
“Tantu.”
***
Sepulang sekolah, Nona langsung mendatangi rumah Bik Inah. Dia sudah siap untuk pergi bekerja.
“Cepat sekali hari." Ucap Bik Inah yang sedang menjemur kain dihalaman rumahnya.
"Iyaa Bik, hari ini cepat pulang sekolah." Nona duduk di teras rumah Bik Inah, sambil menunggu Bik Inah selesai menjemur kainnya.
Walaupun berat untuk pergi lagi kerumah itu, dan bekerja disana. Namun, Nona harus tetap melakukannya. Mengingat dia benar-benar butuh pekerjaan dan penghasilan untuk saat ini.
*
__ADS_1
"Ayo, Bibik udah siap." Imbuh Bik Inah, pada Nona yang sempat melamun beberapa saat.
^TO BE CONTINUED^