
Nona keluar dari ruang kerja Deon, dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka bahas dan putuskan.
Apa ini keputusan yang benar?
"Ndhuk.." Nona menoleh, mendapati Bik Inah yang langsung menghampirinya saat dia turun dari tangga. "Apa yang dikatakan Tuan?" Lanjut Bik Inah. Sepertinya dia ikut penasaran dengan apa yang dibahas oleh Nona dan Tuannya itu.
"Dia hanya minta maaf atas kejadian tempo hari." Nona berbohong!
"Oh, kiraaiinn..."
"Kirain apa Bik?"
"Hehe, Nggak apa-apa. Kau mau langsung pulang?" Tanya Bik Inah setelahnya.
"Rencananya sih gitu Bik. Bibik lagi buat apa?"
"Lagi mau masak, tapi cucian juga belum kelar. Mau ambil kain kotor di atas, tapi pinggang sakit. Kalau nggak ada kamu mah bibik kewalahan sendirian." Keluh Bik Inah sambil mengusap pinggangnya.
"Yaudah biar Nona bantu." Nona langsung bergegas, kembali naik ke atas. Berencana mengambil kain kotor dikamar Tuannya.
"Kau belum pulang?" Tanya Deon ketika keduanya berpas-pasan di depan kamarnya.
"Belum, aku berencana membantu Bik Inah mengerjakan pekerjaannya hari ini sebelum kembali."
__ADS_1
"Hemm.. " Deon mengangguk-anggukan kepalanya. "Silahkan!" Dia mempersilahkan Nona untuk masuk. Sedangkan dia kembali melanjutkan langkahnya yang akan menuju kelantai bawah.
Kecanggungan di antara keduanya terasa sekali. Setelah apa yang telah mereka putuskan 'Menikah'!
***
"Bik.." Panggil Nona, ketika mereka sudah sampai didepan rumah Bik Inah, akhirnya seharian Nona membantu Bik Inah bekerja hingga selesai dan pulang bersama.
"Iya ndhuk." Bik Inah yang baru saja hendak masuk kedalam rumahnya, menghentikan langkahnya.
"Tuan Deon-" Imbuh Nona menggantung, lalu ia menunduk. Nona ragu-ragu untuk mengutarakannya pada Bik Inah.
"Iya, Tuan Deon kenapa?" Tanya Bik Inah penasaran.
"Memintaku untuk menikah dengannya."
Bagaimana mungkin, Tuannya meminta Nona untuk menikah dengannya, selain dia baru saja memutuskan untuk bercerai dengan istrinya, perbedaan umur di antara keduanya pun cukup jauh.
Dan juga, keputusan Tuannya itu terkesan sangat terburu-buru, mengingat mereka hanya mengenal selama 7 hari.
"Lalu, apa jawabanmu nduk?" Tanya Bik Inah dengan ekspresi yang tak biasa.
"Aku-" Nona menunduk lebih dalam.
__ADS_1
"Kau jawab apa?" Bik Inah kembali mendesak.
"Aku jawab iya." sarkas Nona kembali mendongakkan wajahnya.
Sedangkan Bik Inah, hanya menghela nafas sambil terus menatap ke arah Nona dengan tatapan lesu.
"Apa kau yakin, dengan jwabanmu itu?"
Nona ikut menghela nafas dalam. "Entahlah Bik."
"Aku hanya berharap, dengan menikahi Tuan Deon, akan membuat aku bisa membalaskan dendamku pada keluarga Om Hary. Akan aku cari keberadaan mereka dimanapun mereka berada. Akan aku buat mereka merasakan sakit, seperti yang aku rasakan."
"Yasudah kalau memang sudah itu keputusanmu. Mungkin, itu yang terbaik untukmu. Paling tidak, dengan menikah. Kamu ada yang jagain, ada yang nafkahi. Tidak perlu capek-capek kerja lagi." Imbuh Bik Inah, entah mengapa Bik Inah sedikit menyayangkan keputusan Nona itu, padahal mungkin saja jika bersabar sedikit lagi. Nona akan mendapatkan orang yang lebih cocok dengannya. Orang yang lebih tepat tentunya. Namun, tak ada yang bisa dilakukan Bik Inah, dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk tetangganya itu.
*
*
Anggara salah dengan persepsinya.
Dengan membatalkan pernikahan dan membuang Nona dari hidupnya, akan membuat ia tenang. Nyatanya, dia justru semakin merindukan gadis polos itu ketika tidak lagi bertemu dengannya.
Anggara, yang sedang berada di balik meja kerjanya. Mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benci setiap kali bayang-bayang Nona melintas dalam ingatannya.
__ADS_1
Senyumnya, tingkah polosnya, dan kebaikan yang dimiliki oleh gadis itu.
^TO BE CONTINUED^