
"Rekan bisnis Papa." Sarah meletakkan vas bunga yang sudah diisi dengan bunga segar itu di atas meja makan. Dengan ekspresi sumbringah karena sudah selesai mendekor ruangan itu sesuai dengan keinginannya. Tingkahnya itu benar-benar membuat Sandra semakin bingung.
"Hanya rekan bisnis?" Dengan kening yang berkerut. "Tumben sekali." Lanjut Sandra.
"Apa Mama penasaran?" Diiringi sedikit kekehannya.
Sandra mengangguk.
"Jika Mama penasaran, maka coba lebih banyak habiskan waktu dirumah. Jadi Mama akan tahu apa yang sedang terjadi didalam rumah ini." Sambil menunjukkan senyumannya.
Setelah selesai, Sarah langsung bergegas meninggalkan Mamanya yang masih berada diruangan itu. Sandra, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Kau sudah beranjak dewasa sekarang. Waktu berjalan begitu cepat."
***
"Anggara, jangan lupa nanti malam kita makan malam dirumah Pak Zainal." Tante Ambar kembali mengingatkan Anggara yang sudah bersiap untuk ke kantor.
"Iya, Ma." Jawabnya dengan nada malas. Anggara lantas langsung keluar rumah tanpa ikut sarapan.
__ADS_1
"Kakak kenapa, Ma?" Nanda, ikut menanggapi sifat Anggara yang terlihat jelas sudah berubah.
"Iya, Kakak terlihat sangat aneh selama pindah ke sini." Sahut Nindi.
"Mungkin dia lelah, bukankah akhir-akhir ini pekerjaannya sangat banyak diperusahaaan." Tante Ambar, kembali melanjutkan sarapannya.
"Masa cuma hanya gara-gara pekerjaan yang menumpuk, dia sampai harus mabuk setiap malam." Lanjut Nanda.
"Sudah sudah, cepat selesaikan sarapan kalian. Atau kalian akan terlambat sekolah." Timpat Tante Ambar kemudian.
***
Nona yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung berlari kecil menuju pintu kamarnya untuk membukakan pintu.
"Iya Tuan." Sahutnya setelah pintu sudah berhasil di bukakan.
"Nanti malam kita akan pergi makan malam dirumah orang tuaku. Aku akan menjemputmu jam 7, gunakan gaun yang sudah aku siapkan. Sudah aku letakkan diruang tamu."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Setelah mendapatkan anggukan dari Nona, Deon kembali beranjak. Ada hal yang harus dilakukannya diluar.
"Aku pulang kau sudah harus siap." Imbuh Deon saat hendak turun dari tangga.
"Baik.." Jawab Nona dengan suara yang sedikit berteriak, agar Deon yang sedang turun dari lantai dua dapat mendengar jawabannya.
Nona kembali masuk kedalam kamarnya setelah kepergian Deon.
"Bertemu keluarganya? Apa aku benar-benar harus menjalani peran ku sebagai istri Tuan Deon mulai sekarang? Lalu bagaimana dengan rencana balas dendam ku, benarkah aku harus melupakannya?"
Nona yang tadinya sedang termenung di dalam kamarnya kembali tersadar. Karena rasa lapar yang tiba-tiba melandanya. Ia bangkit dari duduknya, lalu turun ke dapur untuk mencari makanan. Dan ternyata, Deon sudah menyiapkan sarapan untuk Nona.
Nona tersenyum melihat meja makan yang sudah dipenuhi dengan hidangan makanan itu. "Ternyata di balik sikapnya yang dingin, Tuan Deon cukup perhatian juga." Nona menikmati sarapan itu seorang diri, tentu saja sarapan itu tidak akan sanggup ia santap seorang diri sampai habis. Setelah merasa kenyang, Nona memilih untuk berkeliling rumah besar itu. Semenjak sampai dirumah itu, Nona hanya menghabiskan waktu didalam kamar.
Mata Nona menyapu setiap sudut dari rumah mewah itu. Dan perhatiannya tertuju ke arah meja yang tergeletak sebuah amplop dengan isiannya yang sedikit terlihat. Itu seperti lembaran foto. Entah mengapa rasa penasaran Nona semakin memuncak. Ia meraih amplop itu, lalu mengeluarkan isi yang berada dari amplop tersebut.
Mata Nona membulat sempurna, ketika melihat gambar yang berada didalam foto tersebut.
***
__ADS_1