Balas Dendam, Tak Berbalas

Balas Dendam, Tak Berbalas
Ep. 34 > Next


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang diperintahkan Deon. Nona sudah siap sebelum Deon pulang. Kini, ia sudah menunggu Deon diruang tamu dengan pertanyaan yang sudah bersarang di otaknya.


"Kau sudah siap?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Nona.


"Sudah Tuan" Nona langsung bangkit dari duduknya. Lalu mempercepat langkahnya, mengikuti Deon yang sudah kembali keluar dari rumah.


"Apa kita sudah terlambat?" Tanya Nona, saat masuk kedalam mobil Deon.


"Empp!" Jawab Deon, lalu langsung melajukan mobilnya.


Seperti biasa, keduanya selalu hening tanpa percakapan.


"Tuan.." Nona memberanikan diri untuk memulai. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Tuannya yang merangkap sebagai suaminya itu.


"Iya." Jawab Deon, masih sedingin es.


"Aku tidak sengaja melihat foto yang berada di meja ruang tamu." Dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya. Nona sebenarnya sedikit takut untuk membahasnya.


"Lalu?"


"Apa itu alasan Anda bercerai dengan Nyonya?"


"Emp!"


"Apa Nyonya tidak menyadarinya? kalau sebenarnya Anda sudah tahu kesalahannya itu?" Nona menerka.


"Emp!" Jawabannya masih sangat cuek.

__ADS_1


Akhirnya Nona memilih untuk diam. Padahal ia masih ingin bertanya beberapa hal pada Deon. Namun ia mengurungkan niatnya. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu.


*


Mereka sampai disebuah kediaman.


Para pelayan langsung menyambut kedatangan keduanya.


"Apa tamunya sudah datang?" Tanya Deon pada pelayang yang baru saja membukakan pintu untuk mereka.


"Sudah Tuan." Sambil mengangguk.


Deon langsung berjalan menuju ruang makan, dengan Nona yang berjalan dibelakangnya.


"Kakak.." Imbuh Sarah sedikit heboh. Semua mata orang yang berada di ruang makan itu langsung tertuju pada Deon dan Nona.


Misalnya Sandra, yang terkejut dengan kedatangan anak tirinya itu. Keduanya memang tidak pernah akur.


Lalu, Anggara dan kedua orangtuanya. Saat melihat Nona yang datang bersama Deon.


Juga Nona, yang ikut terkejut melihat Anggara dan kedua orangtuanya yang sedang berada disana.


"Ayo duduk." Deon menarik sebuah kursi, untuk Nona. Dan mempersilahkan Nona untuk duduk disampingnya.


"Maafkan kedatangan nya yang terlambat. Ayo silahkan dilanjutkan makannya." Imbuh Pak Zainal kemudian.


Sedangkan Sarah sudah tidak sabar ingin mengobrol dengan Kakaknya yang sudah lima tahun lebih tidak berjumpa.

__ADS_1


Semua orang yang berada disana, kembali melanjutkan makannya. Walaupun sedang sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


Pak Zainal memang punya peraturan, tidak boleh berbicara disaat sedang berada dimeja makan.


Entah ada yang menyadari atau tidak. Ada beberapa raut wajah yang menang di antara beberapa orang disana.


Namun, acara makan malam itu tetap harus berlangsung.


Setelah selesai, semuanya bersantai diruang tamu sambil mengobrol.


Dan, disitulah. Deon memperkenalkan Nona.


"Pa, kenalkan. Ini istri Deon."


Mata Tante Ambar membulat sempurna, dengan mulut menganga. Tidak hanya dia, semua orang yang berada disana hampir berekspresi seperti dia, kecuali Pak Zainal.


"Akhirnya kau mengambil keputusan itu." Dengan kekehan kecilnya. "Kita bahas itu nanti saja, saat ini kita sedang ada tamu." Lanjut Pak Zainal.


"Kakak..." Imbuh Sarah pelan sambil menarik lengan Deon.


"Ssttt..." Balas Deon kemudian.


"Anggara, nanti Deon yang akan bertanggung jawab untuk projects kerja sama kita. Kau bisa konsultasi dengan dia nanti." Ucap Pak Zainal memulai pembasahan bisnisnya. Namun, Anggara terlanjur termenung dengan tatapan yang tak dapat di alihkan dari wajah Nona.


"Anggara.." Tante Ambar menyiku pelan Anggara yang berada tepat disampingnya. Menyadarkan Anggara dari lamunannya.


^TO BE CONTINUED^

__ADS_1


__ADS_2