
Pak Zainal terkekeh pelan. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Deon.
"Tahu apa kau tentang cinta!" Sarkasnya sinis. "Kau tahu, konsekuensi yang harus kau terima dengan keputasanmu itu." Tanya Pak Zainal kemudian.
"Deon tahu, Pa." Jawab Deon tegas, sepertinya ia memang sudah siap dengan apapun yang akan terjadi. Dan sepertinya apa yang terjadi dalam hidupnya sebelum ini memang sudah membuat Deon muak. Hingga berani mengambil resiko yang dapat merugikan hidupnya.
Nona hanya dapat menatap Deon dengan beribu pertanyaan dibenaknya. Semua yang terjadi dihadapannya benar-benar ambigu untunya. "Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tekat Nona.
"Baik, jika kau memang sudah bulat dengan keputusan mu itu. Buktikan jika kau memang mencintai wanita ini!"
Mendengar kalimat itu, Deon mendongakkan wajahnya, tanpa bertanya ia hanya menatap ke arah Papanya.
"Berikan Papa cucu!" Tatapan Pak Zainal tajam menghujam Deon. Dengan raut wajah serius, seakan ia sedang menantang Deon dengan ucapan Deon sebelumnya.
Deon seakan kehabisan kata-kata di buat Pak Zainal.
*
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Sandra menghampiri Sarah yang sedang menguping pembicaraan Papa dan Kakaknya di ruang tamu.
"Sstttt... Jangan ribut, Ma." Dengan jari telunjuk yang diletakkan di depan bibirnya.
Sandra pun akhirnya ikut di buat penasaran dengan pembicaraan antara suami dan anak tirinya itu. Namun, sayangnya. Pembicaraan itu sudah selesai saat ia ingin mendengarkannya.
__ADS_1
Deon dan Nona beranjak dari duduknya, meninggalkan Pak Zainal diruang tamu seorang diri.
"Kakak akan pulang sekarang?" Sarah menghampiri Deon dan Nona.
"Empp.."
"Kakak.." Rengek Sarah.
Sarah memang sangat manja dengan Deon. Walaupun status mereka hanya saudara tiri. Terlahir dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda.
"Tapi Kak-" Imbuh Sarah terputus.
"Kan kau bisa main kerumah Kakak ataupun ke perusahaan. Kakak akan lama disini."
"Iya, Kakak harus pulang sekarang."
"Empp, baiklah. Kalau begitu aku akan temui Kakak nanti."
"Iyaa.." Sambil mengacak rambut Sarah. Deon kembali beranjak. Tanpa memperdulikan Sandra yang berada tepat dibelakang Sarah.
"Permisi.." Ucap Nona yang melewati kedua wanita itu. Namun hanya tatapan sinis yang ia dapat.
Deon dan Nona meninggalkan rumah utama. Kembali ke kediaman Deon.
__ADS_1
"Kenapa Tuan tidak katakan yang sebenarnya." Nona akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di benaknya.
"Aku punya alasanku sendiri." Sarkas Deon dingin.
"Tapi Tuan, akhirnya kau yang disalahkan jika kau hanya diam dan menutupi apa yang sebenarnya terjadi."
"Akan aku atasi dengan caraku sendiri."
"Apa Tuan masih sangat mencintainya? Sampai Tuan rela menutupi kesalahannya?" Sarkas Nona kemudian.
Deon hanya terdiam.
Nona tersenyum tipis, mendapati Deon hanya menanggapi pertanyaannya dengan diam. "Sepertinya itu benar." Nona memutar bola matanya malas. "Dan Tuan akan terus melindunginya?" Sekali lagi Nona memberikan Deon pertanyaan.
"Iya!"
Jawaban itu membuat Nona tersenyum tipis. Sambil mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan.
Maksud Nona menikahi Deon untuk keluar dari masalah. Tapi kini, ia justru masuk kemasalah yang lainnya. Apa yang sebenarnya sedang Tuhan rencana untuk Nona.
Nona memilih memejamkan matanya, apa yang terjadi hari ini membuat ia benar-benar lelah dan pusing. Sepertinya ia benar-benar harus menyiapkan mentalnya untuk apa yang akan terjadi kedepannya. Tentang balas dendam nya, dan kehidupan pernikahan yang diluar nalarnya. Apa lagi kini di tambah lagi keluarga dari Deon yang sepertinya akan sulit untuk dihadapi oleh Nona dengan mental lemahnya.
Apalagi ketika Ayah Mertuanya meminta cucu darinya, itu diluar perencanaannya!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...