
"Kapan Tuan Deon pulang, Non?" Tanya Bik Inah yang sedang duduk di meja makan, sambil memperhatikan Nona mencuci piring. Pasalnya Deon, sudah hampir dua minggu berada di luar Negri.
"Nggak tahu Bik."
"Lah kok nggak tahu. Kan suaminya!"
Nona terkekeh. "Ah si Bibik mah, macam gak tahu aja."
Akhirnya, kalimat itu membuat Bik Inah ikut terkekeh. Dia tahu betul, setelah menikah dengan Deon, bisa di katakan hubungan mereka sama sekali tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Deon, tidak pernah sekalipun menyentuh Nona, dan tetap saja bersikap dingin pada Nona. Yang padahal sudah menjadi istri sahnya.
Entah apa, dan untuk apa Deon menikahi Nona secara tiba-tiba seperti itu. Yang jelas, ia memiliki alasannya sendiri untuk hal itu. Sedangkan bagi Nona, ia merasa bersyukur. Ketika Deon, memintanya untuk tidur di kamar terpisah, dan meminta Nona untuk tidak mencampuri urusan pribadinya.
Menyandang status sebagai Nyonya Deon, kini Nona tidak harus lagi membanting tulang mencari sesuap nasi. Hidupnya lebih dari berkecupan, apalagi ketika Deon menyerahkan sepenuhnya urusan dapur dan rumah pada Nona dengan memberikannya black card yang hanya dimiliki oleh orang-orang elit.
Entah, mimpi apa Nona sehingga bisa menikmati itu semua dalam waktu singkat. Hidupnya berubah drastis dalam waktu sekejap.
Tunggu!
Nona masih belum melupakan niat awalnya menikahi Deon. Dia masih dengan misinya yang ingin balas dendam terhadap Anggara dan keluarganya. Namun, ini belum saatnya.
__ADS_1
Nona tidak ingin gegabah. Kali ini ia harus mengatur rencana yang matang, dan menyusun pembalasan yang setimpal.
Entah pembalasan seperti apa yang ada dalam otak polosnya itu. hanya Nona yang tahu!
Yang jelas saat ini, dia masih bergelut didapur. Basah-basahan dan berminyak-minyakan!
*
*
Anggara kembali meneguk segelas Tequila Rey. Dia ingin mabuk, untuk menenangkan hatinya. Entah apa, yang terus saja mengganggu perasaannya akhir-akhir ini. Rasa gelisah tiba-tiba melandanya, tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Kau butuh teman?" Belaian lembut menghampiri punggung Anggara yang mulai hampir kehilangan kesadarannya. Sepertinya, alkohol sudah mulai menguasai dirinya.
Sebelah sudut bibir Anggara sedikit terangkat, lalu kembali menoleh ke arah depan, menyuruh pelayan menuangkan segelas lagi minuman keras untuknya. Tanpa meladeni wanita yang kini, mulai berusaha menggodanya.
"Bisa kau pindahkan tanganmu dari tubuhku?" Imbuh Anggara, dengan nada ketusnya.
"Bukankah kau butuh seseorang untuk membawamu kembali ke alam sadarmu!" Tanpa memperdulikan perintah Anggara, tangan gadis itu semakin nakal meraba pangkal paha Anggara.
__ADS_1
"Sekali lagi aku katakan, pindahkan tanganmu dari tubuhku!" Dengan penuh penekanan.
"Bagaimana jika aku tidak mau." Dengan tutur kata penuh godaan, wanita itu berfikir bisa menaklukkan seorang Anggara.
Tapi, tidak semudah itu. Walaupun dalam keadaan mabuk, Anggara tidak tergoda sama sekali. Itu bukan seperti dirinya sama sekali.
Anggara yang dulu, pasti akan langsung membawa wanita itu ke kamar hotel. Namun kini, segelas cocktails langsung disiramkan ke wajah wanita itu.
"Kau gila!" Pekik wanita itu yang tersentak dari duduknya, setelah segelas cocktails berhasil menghujaninya.
"Bukankah sudah aku katakan, pindahkan tanganmu dari tubuhku!"
Dan sebuah tamparan langsung melayang dipipi kiri Anggara. Setelahnya, wanita itu langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan penuh emosi. Sambil terus mengutuk Anggara yang menurutnya sangat keterlaluan.
Dan entah siapa yang salah dalam hal itu!
Anggara sama sekali tidak perduli dengan tamparan itu. Kembali dia memijat pelan tengkuknya sambil menunduk. Bukan pipinya yang baru saja ditampar yang sakit. Namun jauh dilubuk hatinya, ada yang membuat hati itu terasa sakit walau tidak berdarah.
"Sepertinya kau benar-benar akan gila jika seperti ini terus Anggara! Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu? Siapa yang kau rindui ini? Tidak mungkin gadis kampung itu bukan? Ayolah Anggara, kembali ke alam sadarmu yang sebenarnya!"
__ADS_1
Hati dan otaknya sedang tidak sinkron. Hatinya memintanya untuk mencari tahu tentang Nona, apakah dia baik-baik saja disana? Sedangkan otaknya, melarang keras. Dan memaksanya untuk melupakan semua bayang-bayang indah yang pernah Nona berikan untuknya.
^TO BE CONTINUED^