
Setelah berusaha menekan bel, memanggil hingga menelpon Anggara dan juga Om Hary. Tetap saja, tak ada jawaban dan tidak ada yang keluar dari rumah itu.
Nona menyerah, hatinya semakin berdegup kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka tiba-tiba saja sulit untuk dihubungi?
Nona pulang dengan hati gelisah dan langkah lunglai.
Dia sedang berusaha berfikir jernih dan tidak berburuk sangka. Namun, kejanggalan itu sungguh mengganggunya.
*
*
Keesokan harinya, sesampainya disekolah, Nona langsung mencari keberadaan kedua gadis kembar, putri Om Hary. Dan benar saja, mereka berduapun ikut menghilang. Nona mendapatkan kabar jika mereka berhenti sekolah dan pindah keluar negeri.
"Nona, kau dipanggil pak kepala sekolah." Ucap salah satu siswa pada Nona yang baru saja meninggalkan kelas si kembar.
Nona, kembali merubah haluannya. Dia menuju ruang pak kepala sekolah.
__ADS_1
Tok!Tok!
"Bapak memanggil saya?"
"Oh iya, ayo silahkan masuk." Pak kepala sekolah mempersilahkan Nona untuk duduk di hadapannya.
Pak kepala sekolah langsung menyodorkan sebuah amplop ke arah Nona. Lagi-lagi amplop! Melihat amplop itu saja, perasaan Nona langsung tidak enak.
"Jadi begini Nona, saya mendapatkan amanah dari Pak Hary untuk menyampaikan pada mu, kalau beliau meminta agar kau terus bersekolah sampai selesai. Dan melanjutkannya hingga jenjang yang lebih tinggi. Dan beliau juga menitipkan ini." Lanjut Pak Kepala Sekolah.
"Maaf pak, apa Anda tahu kemana pindahnya keluarga Om Hary?" Tanya Nona memberanikan diri.
"Kalau itu saya kurang tahu!"
"Em baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Pak." Nona meraih amplop yang disodorkan Pak Kepala Sekolah. Lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
*
__ADS_1
Nona duduk ditaman sekolah, membuka dan melihat isi amplop yang di berikan Om Hary. Sebuah buku tabungan beserta Kartu ATM nya. Disana hanya ada secarik kertas yang menuliskan. PIN tanggal lahir mu! Sesingkat itu.
Nona tersenyum kecut ketika melihat jumlah uang yang tertera didalam buku tabungan itu.
"Jadi kalian mengganti jantung Ayahku dengan uang ini? Lalu bagaimana dengan janji yang sudah kalian ucapkan pada Ayahku? Bukan berarti aku berharap dengan janji-janji palsu kalian itu. Paling tidak sedikit hargai pengorbanan Ayahku untuk menyelamatkan putra kalian." Amarah Nona memuncah. Dia merasa sangat kecewa, tidak menyangka orang yang berlakon baik selama ini dihadapannya, ternyata selicik itu.
"Om Hary, aku tidak akan memaafkanmu! Dan juga kamu Anggara. Akan aku cari dimana pun kamu berada!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Nona tertawa seorang diri. "Apa yang bisa kamu lakukan Nona? Ayo sadarlah! Kamu hanya sampah yang sedang di buang oleh keluarga itu agar tidak menggangu mereka! Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk membalas mereka."
*
*
Nona bangkit dari duduknya, dengan dipenuhi amarah dan rasa kecewa dia meninggalkan sekolah. Dia tidak sudi menikmati apa yang sudah di berikan keluarga itu padanya.
"Aku bersumpah akan membalas kalian! Aku benar-benar akan membalasnya!" Kekeh Nona, dia tidak lagi menangis. Rasanya air matanya sudah mengering. Dan dia, juga tidak ingin membuang-buang waktunya untuk meratapi nasib. Dia harus menyusun rencana agar kali ini, dia benar-benar bisa balas dendam pada Anggara dan orang tua nya yang sudah merenggut nyawa Ayahnya secara sepihak!
^TO BE CONTINUED^
__ADS_1