
"Pak Zainal khusus memintamu untuk menghadiri makan malam itu, manamungkin jika kamu tidak hadir."
"Tapi, Ma." Anggara padahal sudah memasang wajah malasnya, tapi seakan Tante Ambar tidak mengerti. Atau memang tidak mau mengerti.
"Untuk kali ini, hadiri saja dulu undangan Pak Zainal ini. Tidak enak, jika kau menolak undangannya diawal kerja sama kalian" Kali ini, Om Hary ikut memberi pendapat. Dan membuat Anggara tak lagi punya pilihan. Mau tidak mau, ia harus menghadiri undangan makan malam itu.
*
*
"Apa Papa yakin, Anggara akan datang?" Sarah sedikit pesimis dengan rencana Papanya kali ini. Ia paling mengerti Anggara. Anggara bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan. Ia sudah mencobanya hampir 10 tahun, tapi ia hingga detik ini, Anggara masih belum bisa ditaklukkan oleh Sarah. Jangankan menaklukkan Anggara, membuat Anggara melirik ke arahnya saja, Sarah belum berhasil.
"Kamu tenang saja, bukankah sudah Papa katakan. Serahkan pada Papa, akan Papa buat dia menjadi milikmu." Sambil mengusap lembut kepala Sarah. Dengan tatapan penuh keyakinan, Pak Zainal sangat yakin, ia bisa membuat Anggara menjadi milik putrinya.
__ADS_1
"Bagaimana jika tetap gagal. Aku tidak ingin kecewa lagi, Pa." Sarah, tetap masih tidak terlalu yakin. Jika apa yang direncanakan oleh Papanya akan berhasil.
"Kau tidak akan pernah tahu hasilnya, jika tidak mencobanya."
"Aku sudah mencoba segala cara, Pa. Tapi Papa lihat sendiri kan, Anggara tetap tak acuh padaku." Dengan raut wajah sedihnya.
"Caramu mungkin salah." Sambil terkekeh, Pak Zainal melipat koran yang sedari tadi hanya dibolak balik olehnya. Lalu diletakkan kembali ke atas meja tamu.
Kali ini, Sarah hanya menatap ke arah Papanya tanpa berkomentar lagi. Ia, ingin mencobanya. Sekali lagi, jika kali ini masih belum berhasil juga. Ia tak tahu harus menaruh mukanya dimana.
*
Persiapan untuk makan malam itu benar-benar dipersiapkan oleh Sarah dengan sesempurna mungkin. Ini kesempatan terakhirnya, ia harus menunjukkan yang terbaik dihadapan Sarah.
__ADS_1
Dua hari sebelum acara makan malam itu, Sarah sudah disibukkan dengan berbagai rutinitas. Dari busana, perawatan, hingga tempat makan malam.
"Apa kita akan kedatangan tamu?" Tanya seorang wanita. Yang baru saja pulang dari berliburnya.
"Ma, kau sudah kembali." Sarah hanya menoleh sekilas, setelahnya ia kembali menyibukkan diri merias bunga yang akan diletakkan di ruang makan itu.
Wanita yang terlihat masih sangat awet muda itu tidak lain adalah ibu dari Sarah, ia pun berjalan mendekati Sarah. "Apa kita benar-benar akan kedatangan tamu." Tanyanya memastikan.
Wanita itu memang terlalu sibuk berlibur dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman sosialita nya. Sehingga bisa dibilang, ia tidak terlalu banyak tahu dengan apa yang terjadi pada putrinya.
Semua itu terjadi karena suaminya terlalu memberikannya kebebasan. Sehingga Sarah bisa dikatakan tumbuh tanpa sosok ibu disampingnya. Maka dari itu, Sarah hanya sangat dekat dengan Papanya dibandingkan Mamanya.
"Empp..." Jawab Sarah sekenanya.
__ADS_1
"Siapa?" Wanita, dengan nama Sandra itu sedikit penasaran. Sekaligus terkejut. Karena ini kali pertama rumah utama itu dibuka untuk tamu. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pak Zainal, adalah pengusaha yang sangat tertutup. Ia belum pernah mengizinkan siapapun datang kerumahnya. Rumah itu bak kastil yang di jaga ketat.