
Sesampainya dikediaman Deon. Nona langsung masuk kedalam kamar tanpa berbicara sepatah katapun lagi. Sembari membanting pintu untuk pertama kalinya. Sampai Deon kaget dibuatnya. "Ada apa dengan anak itu? Apa dia kesurupan?"
Deon menghela nafas kasar. Sambil mengelus dadanya, lalu kembali mengambil langkahnya yang sempat terhenti. Ikut masuk kedalam kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Nona. Membuka bajunya dan bersiap untuk mandi.
Dubrakkk ..
Pintu terbuka tanpa ketukan.
"Ma..Maaf Tuan!" Nona langsung berbalik, ketika lagi dan lagi. Melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat.
"Kenapa tidak ketuk pintu dulu!" Pekik Deon yang dibuat kaget untuk kedua kalinya. Dengan cepat ia langsung melingkari handuk dipinggangnya yang sudah tanpa celana.
"Aku buru-buru." Imbuh Nona terbata.
"Apa yang membuat kamu begitu buru-buru?" Tanya Deon, sambil duduk disofa yang berada didalam kamarnya.
"Apa Anda sudah menggunakan sesuatu untuk menutupi tubuh Anda?" Tanya Nona hati-hati.
"Em.."
Nona berbalik perlahan. Menghadap ke arah Deon. Setelah nya ia menghela nafas lega. Lalu mengambil langkah dan duduk tepat dihadapan Deon.
"Ada yang harus kita bicarakan." Lanjut Nona.
"Apa tidak bisa besok saja?"
"Tidak! Atau aku tidak akan bisa tidur." Sarkas Nona kemudian.
"Itu bukan urusanku." Dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Sambil melirik ke arah samping.
__ADS_1
"Apa kata Anda?" Tanya Nona yang tidak terlalu mendengar apa yang baru saja di ucapkan Deon. Ia pikir itu kata yang penting.
"Tidak ada, silahkan lanjutkan." Dengan gerakan tangan, mengisyaratkan Nona untuk melanjutkan pembahasan yang akan di bahas nya. Yang katanya itu akan menganggu tidurnya jika tidak ia utarakan.
"Sampai kapan Anda akan merahasiakan perselingkuhan mantan istri Anda?" Nona memulai pembahasannya.
"Selamanya." Jawaban itu terlalu cepat, keluar begitu saja dari mulut Deon tanpa harus dipikir terlebih dahulu.
"Dan Anda akan menanggung kesalahannya?" Nona memastikan.
"Tentu!"
"Baik, jika begitu. Berarti aku juga kena imbasnya. Karena orang akan berfikir, akulah dalang dari perceraian kalian!"
"Kau benar." Jawaban itu seakan di ucapkan tanpa sedikitpun rasa berdosa.
Membuat Nona mengernyitkan keningnya. Sedikit paham, Deon sengaja menikahinya untuk itu. Hanya untuk dijadikan kambing hitam.
"Aku mengerti sekarang!" Ucap Nona begitu saja.
"Apa yang kau mengerti?" Tanya Deon, berjaga-jaga. Mungkin saja yang dimengerti Nona tidak sesuai dengan yang tersirat sebenarnya.
"Lupakan saja! Bukankah seharusnya aku mendapatkan imbalan dari apa yang aku korbankan!" Cara bicara itu seakan bukan Nona sama sekali. Dari mana keluarnya keberanian itu?
Deon tersenyum menyeringai. "Akhirnya kau keluar dari sarangmu. Selama ini, aku pikir kau hanya gadis polos." Ucap Deon sambil menegakkan duduknya.
"Kau telah salah memilih target Tuan!" Balas Nona tak kalah sinis.
Seakan ada yang merasukinya, mungkin karena lelah selalu dipermainkan. Membuat ia memiliki keberanian itu. Apalagi setelah kembali bertemu dengan keluarga yang sangat ingin ia balas perbuatannya. Membuat ia nekat bernegosiasi dengan Deon saat ini. Atau ia akan kehilangan kesempatan balas dendamnya.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Deon dengan nada serius.
"Jadikan aku asisten mu! Untuk projects yang akan kamu kerjakan selama disini?" Sarkas Nona dengan begitu percaya diri.
Deon tertawa terbahak mendengar kalimat itu. "Kau! Jadi asisten ku?" Dengan nada mengejek, sambil menahan kekehannya.
"Jangan nilai orang dari luarnya saja Tuan. Lihat saja nanti hasilnya!" Oh My God, apa yang sedang kau lakukan Nona?
Deon sempat terdiam, memperhatikan baik-baik raut wajah serius Nona.
Nona bahkan tak gentar ditatap tajam oleh netra Deon.
"Baik, aku berikan satu kali kesempatan. Jika kau gagal dihari pertama, maaf! Kau harus mengubur dalam-dalam mimpi mu itu!"
"Setuju!"
Keduanya sempat terdiam. Hening beberapa saat. Tatapan mata Nona sempat turun ke dada bidang Deon. Otot-ototnya sungguh menantang.
"Hei tatapan mu!" Sambil menjentikkan jarinya, menyadarkan Nona dengan tatapan matanya yang terus saja menurun.
"Ehemm ..." Nona berdehem sambil menelan salivanya. "Maaf!" Lanjutnya. "Lalu apa rencana Anda dengan permintaan Papa Anda?" Sarkas Nona kemudian.
"Maksudmu?" Sambil mengernyitkan keningnya.
"Cucu! Bukankah Papa Anda meminta Anda memberikan ia cucu!" Ucap Nona cepat.
"Yaa berikan!"
"Apa!" Dengan mata yang terbelalak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...