
Anggara terkekeh tak percaya. "Lelucon macam apa lagi ini, Pa?" Sarkas Anggara.
"Papa serius, Pak Zainal memintamu untuk menikah dengan Sarah." Imbuh Om Hary dengan suara berat.
"Dan Papa menyetujui nya?" Tanya Anggara memastikan. Raut wajahnya jangan ditanya lagi. Sudah tampak geram, segeram-geramnya.
Om Hary hanya mengangguk, ia bahkan tak berani menatap wajah anaknya itu.
"****!" Anggara meremas kasar rambutnya.
Seakan hidupnya bukan miliknya sendiri. Ia sudah merasa sangat muak terus dikendalikan oleh orang tuanya. Ia tak bisa dan tak punya kesempatan untuk mengatur masa depannya.
"Apa-apaan ini, Pa. Dulu Papa juga memaksa Anggara untuk menikahi Nona. Lalu, tiba-tiba memutuskan untuk membatalkannya. Lalu sekarang? Papa meminta Anggara, untuk menikah dengan Sarah?" Dengan penuh emosi. Seakan ingin menolak secara keras permintaan Papanya kali ini.
Sedangkan Om Hary, hanya terdiam sambil memijat pelan keningnya.
"Anggara punya kehidupan Anggara sendiri, Pa. Anggara bukan anak-anak yang hidupnya harus selalu diatur. Lagi pula, kenapa Papa tiba-tiba jadi sangat ikut campur tentang siapa yang harus Anggara nikahi. Perasaan dulu Papa bahkan tak perduli siapa yang Anggara pacari!"
"Waktumu untuk bermain-main sudah berakhir Anggara. Dulu Papa tak perduli dak tidak ikut campur, karena kau butuh waktu untuk bersenang-senang dengan hidup dan masa mudamu. Tapi beda dengan sekarang!"
__ADS_1
Anggara kembali menyeringai tak percaya.
Ini benar-benar diluar logikanya.
"Kau tak punya pilihan, kecuali menyetujui nya!" Lanjut Om Hary kemudian.
Anggara bangkit dari duduknya, keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu.
*
Tok!Tok!
"Nona, barang pesananmu sudah sampai!" Imbuh Deon, membangunkan Nona dari tidur siangnya.
Sedangkan Deon yang mengikuti nya dari belakang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Nona, wanita yang sangat berbeda dengan Alice. keduanya seperti berbanding terbalik. Jika Nona sama sekali tak perduli dengan penampilannya, maka Alice adalah orang yang sangat menjaga penampilan.
"Mengapa kau bisa sampai punya pikiran untuk menikahi gadis ini, Deon!"
__ADS_1
Nona langsung mengernyitkan keningnya, ketika melihat banyak sekali kotak disana.
"Apa disini juga ada barang Anda, Tuan?" Tanya Nona, sambil menoleh ke arah Deon yang baru saja duduk di sofa yang berada tepat disamping barang-barang itu diletakkan.
Deon hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nona.
"Tapi aku tidak pesan sebanyak ini." Dengan ekspresi herannya. Nona mulai membuka satu persatu berang yang berada dihadapannya.
Dan, ia kembali dibuat heran.
"Perasaan aku tidak pesan ini." Saat melihat isi dari kotak itu adalah perlengkapan lengkap alat make-up.
Deon hanya menaikkan kedua bahunya. Saat Nona menatapnya.
Nona kembali membuka paket lainnya. Dan lagi, Nona di buat heran. Ketika yang dibuka juga bukan pesanannya. Hingga semua paketnya terbuka, tak ada satupun yang sama seperti yang di pesan Nona.
"Apa mereka salah kirim, aku perasaan tidak memesan semua ini." Nona melihat satu persatu isi paket yang sudah dikeluarkan semua dari kontaknya itu.
Semuanya justru barang bermerk, mulai dari baju, sepatu sport, high heels, make-up hingga pakaian dalam dan pernak pernik lainnya.
__ADS_1
Deon hanya senyum-senyum sendiri melihat raut heran di wajah Nona. Semua ulahnya, ia membatalkan semua pesanan Nona dan memesan ulang semuanya. Tentu saja sesuai dengan seleranya. "Kau terlalu banyak pakai perasaan." Deon beranjak dari duduknya. "Kembali bereskan semua barang-barang ini." Lanjut Deon, setelah itu berlalu pergi dari ruangan itu.
>>>