
"Ehem.." Pak Zainal kembali meletakkan kontrok itu di atas meja. "Saya setuju dengan kontraknya." Imbuh Pak Zainal setelahnya.
Senyuman langsung mereka di wajah Anggara, ketika Pak Zainal menyetujui untuk bekerja sama dengan perusahaanya.
*
*
Pulang dalam keadaan lelah, ia harus mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ketika Om Hary memanggilnya dari ruang keluarga.
"Iya Pa." Anggar kembali mengambil langkahnya yang sempat terhenti. Melangkah menuju ruang keluarga dan ikut duduk bersama Papanya disana.
"Jadi akhirnya dia setuju?" Tanya Om Hary dengan wajah sumbringah. Ia sudah mendapatkan kabar bahagia itu sebelumnya dari Anggara melalu panggilan telpon. Namun, ia kembali ingin memastikannya dengan lebih jelas.
Ternyata, ini pengajuan kontrak untuk yang ketiga kalinya, namun sebelumnya Pak Zainal selalu menolak kontrak yang di tawarkan Om Hary. Dan akhirnya, Om Hary meminta Anggara yang menawarkan kontrak kerjasamanya untuk kali ini.
Kebetulan sekali, Sarah ikut Papanya untuk kali ini. Bisa dibilang, keberhasilan Anggara kali ini berkat Sarah.
*
*
"Jadi, itu laki-laki yang selalu kau ceritakan selama ini?" Tanya Pak Zainal pada Sarah. Putri yang selalu dimanjakannya itu.
__ADS_1
"Empp, dia masih tetap tampan seperti dulu." Dengan wajah yang berbinar. Sarah memuji ketampanan Anggara tanpa ragu.
Melihat putrinya yang kembali kasmaran setelah sejak lama seakan patah semangat karena tidak lagi bertemu dengan pujaan hatinya, membuat Pak Zainal terkekeh.
"Dasar gadis ini." Imbuh Pak Zainal sambil mengacak puncak kepala Putrinya itu.
Gadis itu tetap manja, di usianya yang sudah dewasa. Namun sayangnya, diusianya yang dewasa itu, ia tidak pernah sekalipun memiliki kekasih. Walaupun orang tuanya kerap kali menjodohkannya dengan anak-anak sahabatnya. Gadis itu tetap menolak. Ia tetap kekeh, akan mendapatkan Anggara suatu saat nanti. Apapun, dan bagaimana pun caranya.
Usahanya untuk menemukan Anggara berbuahkan hasil. Orang yang selama ini dicari-carinya, tiba-tiba saja muncul dengan sendirinya di hadapannya.
"Mungkin Tuhan memang dengan sengaja kembali mengirimnya dalam hidupku."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Bukankah kau ingin memilikinya?"
"Empp.." Gadis itu mengangguk pelan. Tapi dia sedikit bingung, apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan Anggara. Sedangkan sejak dulu Anggara terus saja menolak dirinya. Tidak! Sekarang, dia bukan lagi Sarah yang dulu. Gadis dengan bobot 100 kg, yang selalu dipandang sebelah mata oleh Anggara. Kini, ia sudah bertransformasi menjadi gadis jelita, nan cantik dan anggun.
"Papa akan membantumu mendapatkannya kali ini." Imbuh Pak Zainal dengan percaya diri.
"Sungguh?" Wajah Sarah kembali berbinar seketika. "Sungguh Papa akan melakukannya?" Sarah kembali memastikan.
"Tentu saja. Akan Papa lakukan apapun demi kebahagiaanmu."
__ADS_1
"Tapi apa itu akan berhasil?" Ada sedikit keraguan dalam hati Sarah.
"Kau lihat saja nanti!" Pak Zainal tersenyum, mencoba meyakinkan putrinya.
*
*
Sedangkan disana, dimana Nona sedang berada. Ia sudah menjadi Nyonya Deon selama 3 bulan. Namun tak ada yang berubah.
Dia masih melakukan pekerjaan rumah bersama Bik Inah, Membantu Bik Inah agar pekerjaannya sedikit ringan.
"Jangan Nona, sebaiknya kau istirahat saja. Tidak perlu bantu Bibik." Tolak Bik Inah karena merasa tidak enak, karena saat ini Nona sudah menjadi majikannya.
"Nggak apa-apa Bik, aku juga bosan nggak tahu mau ngapain."
Bik Inah menghela nafas, ketika Nona sudah berhasil merebut sabut cuci piring dari tangannya.
"Udah Bibik duduk aja dulu, biar aku yang cuci piringnya." Sambil nyengir, memperlihatkan hampir seluruh barisan gigi putihnya.
"Dasar kamu ini." Imbuh Bik Inah sambil menepuk pelan punggung Nona, dan terkekeh karena ulah gadis yang menjadi semakin akrab dengannya itu.
^TO BE CONTINUED^
__ADS_1