
"Ma-maaf Tuan. Saya pikir Tuan sedang tidak berada dirumah." Nona masih menunduk. Tidak berani mendonggakan wajahnya.
Majikannya justru terkekeh. "Yaudah, cepat ambil baju kotornya. Bik Inah pasti sudah menunggumu dibawah."
"Ba-baik Tuan." Nona langsung masuk ke kamar itu lagi setelah diberi akses oleh majikannya untuk masuk. Majikannya yang hanya menggunakan handuk, yang dililitkan dipinggangnya menunggu di ambang pintu sampai Nona kembali keluar membawa baju kotor. Walaupun memiliki umur hampir 40 tahun, namun laki-laki yang bernama Deon itu memiliki tubuh yang kekar.
Nona mengambil langkah seribu, dan langsung meninggalkan lantai dua itu secepat mungkin.
Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal. Nona berjalan menuju ruang laundry, dan menyerahkan kain kotor itu kepada Bik Indah, tetangganya.
"Kau kenapa?"
Nona tidak menyadari pertanyaan itu, dia masih melamun. Pikirannya entah kemana. Rasanya malu sekali jika harus bertemu dengan majikannya itu lagi. Tidak tahu harus menaruh muka dimana.
"Ndhuk!"
"I-iya.."
"kenapa? Kau lihat hantu di atas sana?"
"Iya Bik."
"Hah!"
"E eh bukan, bukan bukan.. Maksud aku, ternyata Tuan ada di atas."
__ADS_1
"Jadi dia dirumah? Tapi dia tidak tahukan kalau kita datang terlambat?"
"Nggak tahu aku Bik. Mungkin saja tahu, mungkin saja tidak."
"Kamu bicara apa sih ndhuk! Buat bibikĀ bingung saja. Sudah ah, gak perlu dipikirin. Kalau pun ketahuan ya paling kita di omelin. Udah, lanjut kerja gih."
Nona hanya menggangguk pelan. Rasanya berat sekali untuk kembali naik ke atas. Padahal dia harus memberiskan lantai dua.
"Udah tunggu apa lagi?" Ujar Bik Inah, membuat Nona mau tidak mau harus naik ke atas.
Perlahan tapi pasti, Nona mulai menaiki anak tangga satu persatu. Berharap Tuannya itu cepat-cepat kelaur dari rumah, karena sibuk.
"Nona!"
"Iya Tuan." Nona langsung mematung di anak tangga terakhir karena berpas-pasan dengan Deon yang sepertinya benar akan keluar rumah.
"Baik Tuan." Nona mengambil amplop itu dari tangan Deon sambil mengangguk.
Setelahnya, Deon langsung berlalu pergi. Dan dia tampak sedang terburu-buru.
Akhirnya, Nona bisa kembali bekerja normal. Tanpa ada rasa rasa yang mengganggunya. Bahkan, hati kecilnya masih merasa malu ketika memikirkan hal yang seharusnya tidak dia lihat itu. Lekuk tubuh dan otot Tuan Deon masih terpampang nyata dalam ingatannya.
"Argghh.. Nona apa yang kau pikirkan itu." Sambil menjitak kepalanya sendiri.
***
__ADS_1
"Bik, apa kita langsung pulang aja. Kita letakkan saja amplop ini dikamar Nyonya Rina." Kedua majikannya itu memang tidur dikamar yang berbeda.
"Jangan, nanti kalau mereka bertengkar lagi bagaimana? nanti malah kita yang disalahin karena tidak melakukan sesuai dengan perintah Tuan. Sudah, kita tunggu saja sebentar lagi."
"Tapi ini sudah larut Bik, anak Bibik-"
"Sudah, tidak apa-apa." Kekeh Bik Indah. Dia tidak mau, kejadian yang pernah di alaminya terulang lagi. Kejadian itu, sebelum Nona bekerja di rumah itu. Saat itu, dia juga tidak melakukan sesuai dengan yang di perintahkan Tuannya. Akhirnya, kedua majikannya itu bertengkar hebat dan menyeret namanya dalam permasalahan mereka. Dan membuat mereka memutuskan tidur pisah kamar pada akhirnya. Itu membuat Bik Indah sangat merasa bersalah. Namun, tidak ada yang dapat dilakukannya.
Setelah menunggu sampai jam 10 malam. Akhirnya Rina pulang, majikan yang sedang ditunggu oleh Nona dan Bik Indah itu pulang dalam keadaan mabuk.
"Nyonya, ini titipan Tuan." Nona dengan cepat langsung menghadang langkah Rina yang sedang tidak seimbang itu. Dia ingin cepat-cepat menyerahkan amplop itu, lalu pulang. Dia kasian pada anak Bik Inah yang masih kecil, pasti sedang menunggu Bik Inah pulang.
Bukannya mengambil amplop itu, Rina justru menatap tajam ke arah Nona.
Dan...
Plakkk !!!
Nona langsung di hadiahi sebuah tamparan dari Nyonya nya itu.
Nona terkejut dengan apa yang dia terima, matanya langsung memanas karena air matanya. Bukan hanya dia, Bik Inah juga ikut terkejut dengan ulah Majikannya yang sedang mabuk itu.
"Berani sekali kau menerima amplop ini!" Pekik Rina, memaki Nona. "Apa kau tahu? Ini cara satu-satunya agar aku bisa berjumpa dengannya. Jika kau tidak menerimanya, aku akan membuat ini menjadi alasan untuk bertemu dengannya." Amarah Rina memuncak. "Datangi dia, dan kembalikan amplop ini padanya. Minta dia temui aku langsung, dan menyerahkan amplop ini sendiri!" Rina menepis tangan Nona.
Sedangkan Nona, hanya terdiam seribu bahasa. Dia masih terkejut dengan perlakuan majikannya itu. Dia baru tiga hari bekerja, dan sudah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan seperti itu. Kalau tidak memikirkan, dia membutuhkan pekerjaan itu agar dapat menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Mungkin dia sudah membalas tamparan itu. Tidak! Tentu saja tidak! Nona tidak punya keberanian untuk itu.
__ADS_1
^TO BE CONTINUED^