
Satu Minggu Kemudian....
Inilah yang sudah di tunggu oleh Arya, yakni jawaban atas cintanya tersebut. Dan kesediaan Zie untuk menikah dengannya. Zie tidak memutuskan sendiri, ia juga meminta saran pada Sefelin yang sudah tumbuh besar.
"Nak, mamah ingin meminta pendapat darimu dihadapan nenek dan kakek. Bagaimana kiranya kalau mamah ingin menikah lagi atau itu maksudnya hem...kamu punya papah sambung?" tanya Zie agak ragu pada saat dirinya akan mengatakan hal itu.
Zie ragu khawatir anaknya marah atau ngambek, tetapi ternyata justru Sefelin bersuka cita," aku sangat setuju, tetapi jika papah sambungku itu sifatnya seperti Om Arya. Aku nggak mau punya parah seperti dia yang diseberang sana, mah."
Neneknya tersenyum dan ikut berkata," kamu nggak usah khawatir cu. Karena yang akan menjadi papah sambungmu memang Om Arya. Makanya mamahmu bertanya terlebih dahulu padamu, karena khawatir kamu nggak setuju."
"Horeeeeee.... Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan doa yang selama ini aku panjatkan kepadaMu," Sefelin begitu antusiasnya, ia pun kegirangan dan memeluk Zie.
"Mah, serius kan mau menikah dengan Om Arya? jika iya, kenapa mamah harus bertanya terlebih dahulu padaku mah?" tanya Sefelin merenggangkan pelukannya seraya menatap lekat kearah Zie.
Zie membalas tatapan Sefelin seraya menangkup daunnya," nak, Mamah itu nggak ingin egois. Mamah harus meminta persetujuan darimu dulu. Karena yang terpenting bagi mamah itu perasaanmu, bahagiamu. Jika kamu bahagia, mamah akan menerima Arya sebagai pengganti papahmu. Tetapi jika kamu tidak setuju ya, Mamah juga tidak akan menikah dengannya."
Tetapi Sefelin sangatlah setuju jika Zie menikah dengan Arya. Zie lega setelah mengetahui jika keputusan Sefelin sesuai dengan keputusan dirinya.
Awalnya Zie ingin langsung memberikan jawaban tersebut pada Arya, tetapi ia ingat dengan Sefelin. Ia tidak akan mungkin mengambil keputusan besar tersebut seorang diri. Apa lagi baginya yang terpenting itu kebahagiaan Sefelin.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sekarang Mamah sudah tenang dan akan...
"Ke rumah Om Arya untuk mengatakan kesediaan Mamag menjadi pendamping hidupnya," Sefelin memotong pembicaraan Zie.
Zie tersenyum seraya mengusap pucuk rambut Sefelin," nak lain kali nggak boleh memotong pembicaraan orang ya? entah itu mamah atau siapapun karena tidak sopan. Ya mamah mau ke rumah Om Arya, kamu di rumah saja dengan nenek dan kakek ya."
"Iya mah, maaf ya mah. Karena aku begitu bahagia mau punya Papah apa lagi papahnya sekelas Om Arya. Aku janji nggak akan memotong pembicaraan mamah atau siapapun. Ya sudah mamah buruan ke rumah Om Baik!" pinta Sefelin tersenyum.
Zie pun melangkah dengan pasti ke luar rumah dan melangkah menuju ke rumah Arya. Kebetulan sekali saat ini Arya sedang berada di teras halaman, ia sedang gelisah mondar mandir sendiri.
"Zie, aku memberikan waktu satu Minggu tapi ini sudah lebih satu Minggu baru mau jawab. Mana sih Zie, katanya mau kemari kok nggak datang juga ya? apakah sebaiknya aku samperin saja ke rumahnya ya?"
Pada saat Arya akan melangkah pergi dari teas halamannya, dirinya hampir bertabrakan dengan Zie yang sudah ada tepat dihadapannya. Karena sedari tadi Arya terus menunduk hingga ia tidak melihat kedatangan Zie.
Mendadak Arya gugup pada saat menatap Zie tepat didepannya.
Dia merasakan jantungnya berdegup dengan kencang dan seperti genderang yang mau perang. Ingin sekali dirinya memeluk wanita pujaan hatinya yang saat ini benar-benar ada di hadapannya. Mereka benar-benar sangat dekat hanya berjarak satu inci saja.
Mereka tidak sadar jika sedari tadi hanya diam saja saling berpandangan satu sama lain. Bahkan Arya menatap Zie tanpa berkedip sama sekali. Didalam hatinya ada rasa cemas," apakah jawaban yang akan diberikan oleh Zie kepadaku ya? jika jawaban iya, aku akan sangat bahagia. Tetapi jika jawaban tidak, Oh My God! aku akan patah hati dan kemungkinan selamanya aku akan melajang. Karena bagiku tidak vada wanita yang sempurna Zie."
__ADS_1
Zie pun tersadar, ia segera tersenyum dengan sedikit berniat akan memundurkan tubuhnya. Tetapi justru dirinya tidak berhati-hati dan satu kakinya tergelincir hingga dirinya oleng dan akan jatuh telentang, tetapi dengan gerak cepat Arya meraih pinggang Zie dan menariknya kedalam pelukannya.
Semakin tidak terkontrol degup jantung Arya," Ya Allah, kenapa semakin tidak karuan saja hatiku?"
Kembali lagi mereka bertatapan tanpa berkedip, tanpa sepengetahuan mereka dari seberang Nelson tidak sengaja melihat pemandangan tersebut.
Karena kebetulan tembok rumah dos dan tembok rumah Zie tidak terlalu tinggi. Hingga ia bisa memandang kearah seberang.
"Sialan, kenapa juga aku harus melihat pemandangan itu sih! ocehnya lirih dan ia akan membalikkan badannya masuk kedalam rumah tetapi ia hampir menabrak Mila, bahkan Mila sempat mendengar perkataan lirih dari Nelson.
"Kenapa raut wajahmu masam dan terlihat tidak suka melihat kemesraan mantan istrimu dengan lelaki lain?" Mila juga sempat melihat Zie dan Arya.
Nelson diam saja, ia tidak menjawab pertanyaan Mila, hingga membuat Mila kesal dan kembali berkata," mas, sikap diammu ini merupakan sebuah jawaban juga jika kamu masih cinta pada mantan istrimu itu. Apalagi. pada saat dulu berpisah bukan kamu yang menceraikannya, tetapi ia uang menggugat cerai dirimu bukan? secara dengan begini aku tahu jika sebenarnya kamu belum ingin berpisah dengannya."
Mendengar omongan Mila, Nelson yang sedang terbakar api cemburu melihat kebersamaan Zie dan Arya, ia semakin marah dan tanpa sadar mengatakan banyak hal. Ia lepas kontrol bahkan mengatakan dirinya masih cinta pada Zie. Perkataannya begitu lantang, hingga Zie dan Arya pun sempat terpancing untuk melihat ke arah rumah Nelson.
Arya lupa jika dirinya masih memeluk pinggang Zie. Hingga Zie yang terpaksa meminta Arya untuk melepaskan pelukannya," Mas Arya, Maaf ini....
Arya tersentak kaget," astaghfirullah aladzim, maafkan aku Zie. Tadi aku reflek karena tidak ingin kamu terjatuh."
__ADS_1
Dengan perlahan Arya melepaskan pelukan tangannya di pinggang Zie.
Pikirannya semakin tidak fokus, karena mendengar pertengkaran hebat antara Nelson dan Mila. Pikirannya menjadi terpecah belah dengan berbagai persepsi dirinya sendiri," ternyata mantan suami Zie masih cinta padanya. Mungkin tadi dos cemburu pada saat melihatku reflek memeluk pinggang Zie. Kok aku jadi semakin cemas dengan keputusan yang akan Zie katakan padaku ya? bagaimana jika....ah tidak mungkin! secara mantan suaminya kan sudah punya istri lagi dan menurut cerita mamah, istrinya saat ini sedang hamil jadi nggak mungkin....ah...ya Allah kenapa aku jadi berpikiran macam-macam seperti ini ya?" gumamnya didalam hati tanpa sadar beberapa kali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.