
Sore harinya, balutan kain perban di wajah Nelson di buka oleh dokter. Dan dirinya benar-benar sangat shock pada saat melihat wajahnya yang sekarang," nggak, nggak mungkin! dok, bagaimana bisa wajahku berubah menjadi menyeramkan seperti ini?" Nelson tidak percaya pada saat melihat kondisi wajahnya yang sangat buruk penuh dengan luka. Bahkan luka tersebut masih saja terlihat basah.
"Sabar ya Mas, karena anda memiliki riwayat penyakit gula basah. Hingga luka di wajah andapun tidak bisa mengering. Tetapi anda tidak usah khawatir, jika anda benar-benar bisa menghindari segala pantangan atau menjaga pola makan anda dengan benar, saya yakin luka di wajah anda bisa lekas mengering."
"Seperti yang sudah pernah saya katakan waktu itu, jika anda mengalami luka akan sulit kering karena anda memiliki riwayat penyakit gula basah."
"Coba mulai sekarang hindari segala makanan dan minuman yang justru berdampak buruk terhadap diri anda. Kurangi makanan dan minuman yang terlalu manis. Supaya kelak anda bisa jalani operasi plastik pada wajah. Karena jika kondisi luka di wajah anda tidak bisa kering, anda tidak akan bisa jalani operasi plastik di wajah."
Dokter mengatakan banyak hal pada Nelson, setelah itu ia berpamitan untuk mengurus pasien yang lain. Nelson juga sudah bisa pulang ke rumah karena kondisinya sudah stabil. Ia bisa melakukan pengobatan selanjutnya dengan pengobatan jalan tanpa rawat inap. Hanya di anjurkan baginya untuk sering kontrol ke rumah sakit yakni satu Minggu sekali.
Beberapa Hari Kemudian....
Nelson di kejutkan dengan Mila yang membawa koper besar di malam hari tepatnya pukul tujuh.
"Mila, kamu mau kemana?" tanya Nelson mulai panik dan didalam hatinya sudah mempunyai firasat buruk.
Mila tersenyum sinis," masih saja bertanya setelah melihat aku membawa koper ini? aku mau pergi dari rumah ini, karena aku tidak mungkin lagi hidup dengan seorang lelaki penyakitan seperti dirimu!"
Nelson mencekal lengan Mila," tolong jangan seperti ini Mila, masa iya kamu tega meninggalkanku dengan kondisiku yang seperti ini? dimana rasa cintamu padaku Mila?"
Terus saja Nelson memohon meminta belas kasihan pada Mila. Tetapi Mila justru menepis tangan Nelson," cinta-cinta, makan tuh cinta! hari gini yang paling utama itu uang bukan cinta. Dengan kondisimu seperti ini, mana mungkin kamu masih bisa bekerja di kantoran, paling yang ada kamu bakal dipecat. Aku sangat yakin dengan kondisimu seperti ini, pantasnya kamu itu ngemis di lampu merah."
__ADS_1
Terus saja Mila menghina kondisi Nelson yang benar-benar tidak berdaya. Nelson tidak tinggal diam, ia terus saja berkata banyak hal dengan harapan Mila sedikit iba padanya dan mengurungkan niatnya untuk pergi dari dirinya.
"Mila, aku seperti ini juga karena ulahmu. Jika saja waktu itu kamu tidak berbuat nekad, pasti kita tidak alami kecelakaan. Dan kamu juga masih hamil anak kita. Tolonglah Mila, jika kamu pergi siapa yang akan merawatku dengan kondisiku seperti ini aku tidak bisa merawat diriku sendiri. Aku butuh bantuan orang lain yakni ya istriku sendiri."
Kembali lagi Mila tersenyum sinis," mintalah dirawat sama keluarga toxicmu itu. Wanita manapun mana sudi tetap bertahan dengan suami seperti dirimu. Aku melihat wajahmu saja jijik, ingin muntah. Sudahlah nggak usah mengiba dihadapanku, karena aku tidak akan lagi merasa iba padamu mas. Untuk perceraian sedang di proses, jika sudah keluar berkas perceraian atau surat cerai, akan aku kirim padamu."
Saat itu juga Mila berlalu pergi dari hadapan Nelson. Tetapi Nelson berusaha dengan gigih mengejarnya walaupun dengan susah payah karena ia. menggunakan kursi roda, apa, lagi kondisi kedua kalinya buntung.
"Mila, tunggu! Milaaaaa....
BRUGGGGG
"Milaaaaaaa... kamu jahat sekali! tega banget pergi di saat kondisiku seperti ini!" ocehnya dengan sangat kesulitan dirinya berusaha duduk kembali di kursi roda.
Sementara saat ini Mila dan Gondo tertawa ngakak di dalam mobil. Mereka sangat puas karena sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Nelson.
"Bagaimana usahamu mencuri surat-surat mobil milik Nelson? berhasil bukan?" tanya Gondo seraya melirik Mila di tengah ia mengemudi.
"Berhasil dong, anak siapa dulu... Gondo." Mila menaik turunkan alisnya tertawa ngakak.
"Sip, pintar sekali. Nah seperti ini namanya baru anak ayah," ucap Gondo.
__ADS_1
Mendadak Mila terdiam dan murung. Hingga Gondo terpaksa menghentikan laju mobilnya sejenak dan menepikannya," kamu kenapa Mila, kok tiba-tiba murung seperti itu?" tanyanya penasaran.
"Ayah, kenapa hingga saat ini aku tidak di beri tahu dimana tempat ibu dimakamkan jika memang ibu sudah meninggal? bahkan ayah juga sama sekali tidak pernah menunjukkan foto almarhumah ibu," ucap Mila sedih.
Sejenak Gondo terdiam, ia benar-benar bingung harus mengatakan apa pada Mila, karena selama ini ia telah berbohong padanya. Tetapi tiba-tiba terlintas kebohongan lagi di otaknya dan ia pun bisa tersenyum lega.
"Mila, ayah minta maaf ya. Sebenarnya ibumu itu masih hidup, hanya saja ayah tidak tahu saat ini ia ada dimana. Karena pada saat kamu dilahirkan, ia pergi begitu saja dengan seorang pria yang lebih muda dari Ayah."
"Sekali lagi ayah minta maaf karena memang sengaja tidak menyimpan foto ibumu. Karena ayah sangat benci padanya dengan apa yang telah ia lakukan pada kita. Terutama padamu."
"Sudahlah, kamu tidak perlu lagi bertanya tentang ibumu ya. Sekarang kamu fokus dengan masa depanmu. Carilah pria kaya lagi untuk kamu nikahi. Kalau bisa yang lebih kaya dari Nelson."
Sebenernya Mila masih penasaran dengan jati diri Ibu kandungnya. Karena semasa ia kecil dirawat oleh baby sitter. Karena dulu Gondo juga pernah kaya raya. Ia mendadak miskin karena kebiasaan buruknya yang suka berjudi dan main perempuan hingga semua hartanya habis.
Tetapi Gondo pintar sekali menyembunyikan kebiasaan buruknya. Hingga Mila sama sekali tidak tahu jika Gondo suka berjudi dan main perempuan.
Mila hanya tahu satu hal, Gondo menjadi miskin karena ulah temennya sendiri. Dan karena frustasi, Gondo merubah dirinya seperti preman.
Mila percaya saja dengan semua yang telah dikatakan oleh Gondo. Bahkan Mila sangat sayang padanya. Setelah sejenak bercengkrama dengan Mila di tepi jalan, Gondo melanjutkan kembali laju mobilnya.
Sementara di dalam hati Mila sudah punya rencana sendiri," jika dari dulu ayah tidak berbohong tentang jati diri Ibu, pasti aku akan mencari tahu dimana saat ini ibu berada. Ayah, aku akan mencari tahu tentang ibuku. Dan jika aku sudah bertemu, aku akan tanya kenapa ia tega meninggalkanku. Tetapi bagaimana aku bisa menemukan jejak ibu, jika sama sekali tidak ada bukti?"
__ADS_1