
Dengan sangat terpaksa, Nelson merelakan mobilnya diambil oleh dua orang preman tersebut. Sontak saja membuat Bu Eka sangat emosi," kamu ini bagaimana sih, surat-surat mobil diambil oleh Mila, kamu sampai nggak tahu! heran deh mamah sama kamu! ya. sudah mana ATMmu, biar Mamah yang pegang!"
Bu Eka menengadahkan tangannya, tetapi lagi-lagi Nelson mengatakan hakm yang membuat Bu Eka sangat marah," mah, selama aku menikah dengan Mila, ia yang mengatur keuangan. Aku hanya diberi seperlunya saja untuk uang bensin."
"Astaga, Nelson! kamu ini bodoh atau....aahhh.... menyebalkan sekali sih kamu! bagaimana bisa jadi seperti ini? jika kamu tidak ada uang sama sekali, lantas dengan apa mamah mengurus dirimu hah? semua itu kan butuh uang, Nelson!!!!!!" ucap lantang Bu Eka seraya menghentakkan kakinya kesal.
Nelson tertunduk lesu, ia juga tidak tahu harus bagaimana lagi dengan kondisi dirinya yang memang tidak memungkinkan untuk mencari nafkah.
"Aku sendiri bingung, kerja apa dengan kondisiku yang seperti ini. Diriku saja menatap sendiri jijik, apa lagi orang lain," batin Nelson didalam hatinya.
Melihat sikap diamnya Nelson, sejenak Bu Eka juga turut diam. Tetapi mendadak wajahnya berubah sumringah," begini saja, kamu kan repot tinggal di rumah sendirian bukan? bagaimana kalau rumahmu di jual dan kamu tinggal dengan Mamah saja? jadi Mamah gampang untuk mengurusmu."
Nelson pun sama sekali tidak menolak, karena dirinya memang tidak bisa hidup seorang diri dengan kondisinya yang seperti sekarang ini.
"Baiklah mah, sertifikat rumah ini ada di almari pakaian di kamar. Mamah cari aja di bawah lipatan baju," ucap Nelson.
Saat itu juga Bu Eka dengan sangat antusias melangkah ke kamar Nelson dan ia menggeledah almari, tetapi ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan menghentakkan kakinya, Bu Eka melangkah menuju ke ruang tamu dimana saat ini Nelson berada.
__ADS_1
"Kamu mau bohongi mamah, di almari nggak ada sama sekali. Coba kamu ingat lagi dimana kiranya kamu menyimpan sertifikat rumah ini," ucap Bu Eka sangat kesal.
Tetapi Nelson terus saja berkeras hati bahwa ia meletakkan sertifikat rumah di dalam almari, hingga mereka berdebat begitu lamanya.
Tok tok tok tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di ruang tamu, pintu sebenarnya tidak terkunci. Sejenak Nelson dan Bu Eka menghentikan perdebatan mereka, dan segera mereka keluar. Nelson melajukan kursi rodanya arah pintu, sedangkan Bu Eka mengikutinya dari belakang.
"Maaf kalian ini siapa dan ada perlu apa ya?" tanya Nelson penasaran seraya menatap ke arah tiga pria bertubuh kekar tersebut.
"Kami kemari di perintah oleh Juragan Wardi untuk menyita rumah ini karena istri anda sudah satu bulan tidak melunasi hutang-hutangnya. Istri anda menggadaikan sertifikat tanah rumah ini dengan janji dalam waktu dua bulan akan di bayar, tetapi tidak juga dibayar. Sesuai dengan kesepakatan Juragan Wardi dan istri anda, bahwa jika tidak bisa membayarnys, rumah ini akan menjadi milik seutuhnya Juragan Wardi," ucap salah satu preman tersebut menjelaskan pada Nelson.
"Pak, apa tidak bisa dibicarakan terlebih dahulu? lagi pula peminjaman itu tanpa persetujuan saya, bahkan saya sama sekali tidak mengetahui akan hal ini," ucap Nelson.
"Tidak bisa! semua sudah tertera jelas di surar perjanjian hitam di atas putih dan bahkan ada tanda tangan anda. Jadi tak usah berkilah Deng mengatakan bahwa anda sana sekali tidak mengetahui tentang gadai rumah ini!" ucap salah satu preman tersebut sangat lantang.
Hingga Nelson sama sekali tidak bisa membantah, walaupun didalam hatinya ia mengingkari semua itu. Bahwa itu bukanlah perbuatannya.
__ADS_1
Bahkan ketiga preman tersebut mengusir paksa Nelson dari rumah tersebut. Dengan melempar semua pakaian Nelson ke pelataran rumah.
"Cepat kalian pergi dari rumah ini sekarang juga! jika tidak ingin kami berbuat lebih kasar lagi dari pada ini!" bentak salah satu preman.
Dengan sangat terpaksa, Bu Eka membawa Nelson kerumahnya. Tanpa berhenti dia mengomel terus," kamu ini benar-benar sangat bodoh Nelson! semuanya habis hanya dalam sekejap oleh tingkah Mila dan Gondo!"
"Mah, tolong jangan ngomel terus deh. Semua yang terjadi ini kan diluar kendaliku, di luar keinginanku. Bukan salahku juga!" protes Nelson kesal.
Tentu saja membuat Bu Eka semakin bertambah marah," masih berani membantah juga? ya sudah sebaiknya kamu caro tempat tinggal sendiri! nggak usah ikut mamah ya!"
Bu Eka melepas tangannya di pegangan kursi roda. Ia justru berjalan meninggalkan Nelson, hingga Nelson langsung ketakutan dan panik," mah, tolong jangan seperti ini! mahhhh tolong jangan tinggalkan aku sendiri disini.'
Nelson lekas mendorong sendiri kursi rodanya dengan kedua tangannya di gerakkan di atas kursi roda tersebut.
Bu Eka menghentikan langkahnya," ada apa takut, semua yang kamu lakukan juga tidak di pikir terlebih dahulu pada saat kamu menikah dengan Mila! kamu anggap apa mamah ini, hah?"
Tetapi saja Bu Eka ngoceh tanpa ada hentinya. Nelson sampai jengah dan ia pun berusaha membujuk Bu Eka," mah, aku minta maaf. Tolong jangan marah terus, aku janji akan melakukan apapun demi mamah. Tapi izinkan aku untuk tinggal di rumah mamah ya."
__ADS_1
Bagaimana pun, Bu Eka masih ada ras iba pada Nelson. Ia pun luluh dan tidak marah lagi, dan kembali mendorong kursi rodanya menuju ke rumahnya sendiri.
Walaupun ia sendiri tidak tahu apa kata Dina dan Sony jika nanti melihat Nelson turut pulang ke rumah. Untuk saat ini Bu Eka hanya tidak ingin Nelson hidup di jalanan. Hati nuraninya sebagai seorang ibu masih ada.