
Sementara saat ini Zie dan Arya sedang merasakan indahnya kebersamaan menjadi sepasang suami istri.
"Sayang, mau donk?" pinta Arya mengedipkan matanya.
"Mau di cubit?" tanya Zie terkekeh.
"Ih kok di cubit sih, bukanlah.." rajuk Arya.
"Mau di pukul?" canda Zie.
"Astagaaaa....ini malah lebih parah lagi di pukul. Bukanlah sayangku, masa nggak ngerti sih?" goda Arya.
Dia sengaja tidak mengatakan sejujurnya apa yang ia inginkan, karena biar Zie yang menebak sendiri.
Zie sebenarnya juga sudah tahu apa yang diinginkan suami tampannya itu. Ia sengaja menggodanya, karena ingin mengujinya apakah pemarah atau tidak.
"Sayang...."
"Mau di sayang?" ucap Zie pada akhirnya nggak tega.
"Mau-mau-mauuuuuu.." bibir Arya di monyongin.
Arya yang memang baru pernah merasakan nikmatnya bercinta, hingga ia pun selalu ketagihan dan hampir setiap hari meminta jatah pada Zie.
Zie sama sekali tidak pernah menolak karena itu sudah menjadi tanggung jawab sebagai seorang istri melayani suaminya.
"Lakukanlah, mas," bisik Zie."
"Aku nggak mau, aku inginnya di manja di layani bukan melayani. Cobalah bersikap agresif padaku sayang," pinta Arya.
Sontak saja Zie menolak," nggak ah, aku nggak pernah bersikap seperti itu.Amu nggak bisa mas."
Tetapi Arya terus saja memintanya, hingga dengan terpaksa Zie menuruti kemauan Arya. Walaupun ia benar-benar kagok karena tidak pernah memulai percintaan terlebih dahulu.
Zie perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Arya, dan dengan sangat lembut mengecup bibirnya. Satu tangannya masuk ke dalam sangkar burung milik Arya dan memainkan burung tersebut dengan sangat lembut.
Terjadilah hal yang biasa terjadi antara sepasang suami istri. Arya benar-benar merasa sangat bahagia," thanks ya sayang, kamu memang selalu mengerti tentangku.
Bahagia bukan hanya dirasakan oleh Zie dan Arya. Tetapi Sefelin juga turut merasakan bahagia, begitu pula dengan orang tua Zie dan orang tua Arya.
__ADS_1
Berbeda dengan nasib Nelson saat ini di rumah tinggal seorang diri apa lagi para pekerja dari asisten rumah tangga dan juga tukang kebun sudah tidak mau bekerja di rumah Nelson lagi.
"Ya Allah, kenapa aku harus hidup seorang diri seperti ini? jika saja kondisi tubuhku tidak seperti ini, aku tidak akan merasa sedih dan kesepian seperti ini. Punya mamah dan adik sama sekali tidak peduli dengan kondisiku. Padahal dulu aku selalu peduli pada mereka, bahkan aku telah menyia-nyiakan istri dan anakku. Yang selalu aku utamakan adalah Mamah dan kakak serta adiklu. Tetapi dari mereka tidak ada satupun yang peduli atau iba melihat kondisiku seperti ini," batinnya sedih.
******
Esok paginya, Nelson menelpon Bu Eka pagi-pagi sekali. Bu Eka yang masih ternyenyak dakdm tidurnya merasa sangat terganggu.
📱"Ada apa sih Nelson? apa kamu nggak lihat jam berapa sekarang ini, hah? ini baru jam lima pagi, mamah itu masih ngantuk banget."
📱"Maaf mah, tapi ini sangat darurat sekali. Kemarilah sekarang juga mah!"
📱"Darurat apa sih, kan sudah ada istri dan ayah mertuamu. Jadi kamu bisa minta bantuan mereka jika ingin apa-apa."
📱"Please mah, aku mohon dengan sangat kemari dulu karena ini sangat penting."
📱"Hem, ya sudah mamah ke rumahmu sekarang juga ya."
📱"Baik mah, terima kasih ya mah."
Bu Eka sama sekali tidak membalas perkataan terakhir dari Nelson, ia malah matikan panggilan telpon dari Nelson dan segera melangkah ke rumah Nelson. Karena kebetulan rumah Nelson tidak jauh dari rumahnya hanya selisih beberapa rumah saja.
Nelson tertunduk lesu," iya mah, aku nggak bisa ke toilet sendiri dan aku sudah nggak tahan lagi hingga aku ngompol. Tolong aku ya mah, karena hanya mamah yang bisa menolongku."
Nelson memohon belas kasih dari Bu Eka.
"Kamu ini sudah dewasa, masa iya minta bantuan dari mamah? apa kamu nggak malu, mamah saja malu tahu? minta bantuan istrimu saja, mana Mila?" Bu Eka celingukan kesana kemari mencari Mila.
"Mila... kamu dimana sih? Mil....
"Mah, sudah hentikan! Mila sudah tidak ada di rumah ini, mah. Ia dan ayahnya pergi semalam dan juga mengatakan sedang mengurus perceraian. Bibi dan Mamang juga sudah pergi dari semalam bertepatan dengan perginya Mila dan ayahnya," ucap Nelson sedih.
Bu Eka bukannya iba pada Nelson, ia malah marah-marah," nah kan, apa yang mamah takutkan terjadi juga. Jika saja dulu kamu dengarkan kata-kata mamah, yakni tidak menikah dengan Mila, tapi menikah dengan pilihan mamah pasti keadaannya tidak seperti ini."
"Haduhhhh.... seperti ini Mamah juga yang di repotksn olehmu bukan? seharusnya mamah. tinggal menikmati masa tua, bukan malah repot jadi baby sitter dirimu!
Terus saja Bu Eka mengomel sambil mengganti celana Nelson yang terkena air pipis.
"Mah, sekali lagi aku minta maaf ya. Oh ya, nanti aku minta tolong temani aku ke kantor ya mah. Aku akan berangkat bekerja. Jika aku terlalu lama libur, nggak enak juga dengan atasanku,* ucap Nelson.
__ADS_1
Sejenak Bu Eka mereda amarahnya, ia mulai berpikir tentang duit," perginya Mila dan ayahnya yang preman itu benar-benarem membawa keberuntungan juga ya? dengan begini gaji Nelson akan bisa aku kuasai lagi. Nggak apa-apa deh, aku repot seperti ini toh gaji lima belas juta setiap bulan akan jatuh ke tanganku karena sudah tidak ada lagi Mila. Dan sudah tidak ada lagi yang aku takuti yakni preman Gondo.
Dengan sangat antusias, Bu Eka membantu mengurus Nelson u untuk pergi ke kantor. Bahkan membelikan sarapan untuknya.
Tiga puluh menit kemudian...
Nelson pergi ke kantor dengan ditemani oleh Bu Eka. Karena Nelson sama sekali tidak bisa mengemudikan mobil karena kakinya buntung.
Sesampainya di kantor, semua karyawan dan karyawati menatap heran ke arah Nelson yang memakai kursi roda dan dorong oleh Bu Eka.
Semua pekerja berbisik-bisik satu sama lain membicarakan Nelson.
Tetapi Nelson berusaha untuk tidak marah, ia hanya diam saja tetapi didalam hatinya sangat kesal," mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan hanya bisa menghina kondisiku saja!"
Sesampainya di ruang kerjanya, presiden direktur sudah menunggunya dengan tatapan tajam tanpa ada senyuman sama sekali.
"Pak, saya minta maaf karena baru bisa berangkat kerja. Karena saya alami kecelakaan hingga seperti ini," ucap Nelson merasa salah tingkah.
"Aku sudah tahu kok, apa yang telah menimpa padamu. Dan aku minta maaf ya, karena terpaksa aku harus memecatmu," ucapnya tegas.
"Pecat, saya pikir saya tidak pernah melakukan sebuah kesalahan. Tetapi kenapa mendadak bapak pecat saya," protes Nelson tidak terima dengan keputusan sepihak dari Bos besarnya.
Bu Arka tiba-tiba ikut berkata," iya Pak, tolong jangan seperti ini. Jika bapak pecat Nelson, lantas kami akan makan apa? darimana kami mendapatkan uang untuk kebutuhan kami sehari-hari?"
Presdir tersebut melotot ke arah Bu Eka," anda lancang sekali ya? aku sedang berbicara dengan Nelson bukan dengan anda, paham?" bentaknya
Bu Eka pun terlonjak kaget mendapatkan bentakan dari Presdir perusahaan dimana Nelson bekerja.
Seketika itu juga, Bu Eka terdiam ketakutan sembari tertunduk. Presdir tersebut berkata lagi pada Nelson," kamu koreksi diri, bagaimana bisa kamu mengurus kantorku dengan kondisi seperti ini? mengurus dirimu sendiri saja aku yakin kamu tidak mampu bukan? ke kantor juga harus didampingi oleh ibumu, memalukan!"
"Pulanglah, karena kamu memang lebih pantas di rumah saja bukan di kantorku ini. Yang ada reputasiku Deng pada rekan bisnis menjadi buruk jika tetap mempekerjakan pria buntung dan wajah menjijikkan seperti monster!" usir Presdir tanpa basa basi.
Nelson sama sekali tidak terima, ia pun membantah," tidak bisa seperti ini dong pak. Apa bapak lupa dengan jasa saya selama saya bekerja di kantor ini? masa ia saya di buang begitu saja setelah apa yang saya lakukan untuk perusahaan bapak ini. Saya mohon kebijaksanaannya, karena saya butuh uang untuk kontrol juga."
Presdir tersenyum sinis," hidup ini kejam dan tidak ada belas kasihan apa lagi untuk orang seperti dirimu. Pulanglah tak usah lagi membantah dengan segala macam alasan! ini perusahaan saya bukan perusahaan milik nenek moyangmu hingga kamu bisa berbuat seenaknya sendiri. Disini aku yang berkuasa, bahkan selama ini aku yang telah membayar gajimu."
Presdir mendorong paksa kursi roda yang di duduki oleh Nelson ke luar ruang kerja yang tadinya adalah ruang kerja Nelson.
"Ya Allah, apa lagi ini? jika aku tidak bekerja lantas aku harus memenuhi kebutuhanku dan obatku sendiri bagaimana?" batin Nelson sedih.
__ADS_1